
bali.jpnn.com, PADANG – Semen Padang gagal meraih poin penuh pada laga pekan ke-24 Super League 2025-2026 kontra PSIM Yogyakarta di Stadion Haji Agus Salim, kemarin (4/3) malam.
Pada laga yang berlangsung dengan tensi tinggi sejak menit awal, Semen Padang dipaksa PSIM Yogyakarta mengakhiri pertandingan dengan skor imbang 0 – 0.
Hasil imbang ini sebenarnya tidak wajar mengingat tuan rumah unggul jumlah pemain setelah PSIM Yogyakarta bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-38 seusai Fahreza Sudin diganjar kartu merah oleh wasit.
Bukan hanya itu, statistik pertandingan berpihak ke Semen Padang dibandingkan PSIM Yogyakarta.
Penguasaan bola pemain Semen Padang mencapai 63 persen, sementara PSIM Yogyakarta 37 persen.
Sepanjang laga, pemain Semen Padang melepaskan 22 kali shots on target, tetapi hanya dua yang tepat sasaran.
Pemain PSIM justru lebih efektif. Meski hanya melepaskan 11 kali shots on target, hanya dua yang tepat sasaran, sama dengan Semen Padang.
Semen Padang juga mendominasi passing dengan menghasilkan 472 kali operan, 398 di antaranya berhasil dengan akurasi mencapai 85 persen.
PSIM Yogyakarta di lain sisi mencetak 317 kali operan, 238 di antaranya berhasil dengan akurasi hanya 76 persen.
Dominasi Semen Padang juga terlihat dari sisi chances created dengan mencetak 14 kali, sementara PSIM Yogyakarta hanya enam kali.
Chances created adalah metrik yang menghitung total gabungan antara assist dan key passes (umpan kunci).
Secara sederhana, seorang pemain tercatat menciptakan peluang apabila ia memberikan umpan terakhir yang langsung memicu terjadinya tembakan (shoot) ke arah gawang, baik tembakan tersebut berbuah gol maupun tidak.
Dominasi Semen Padang berlanjut dari sisi touch in opp.box dengan mencetak peluang 51 kali, sementara PSIM hanya sebanyak 12 kali.
Touches in opp. box adalah statistik yang menghitung berapa kali seorang pemain menyentuh bola di dalam area penalti tim lawan selama pertandingan.
Statistik ini adalah indikator utama untuk melihat seberapa aktif dan berbahaya seorang pemain dalam mengancam gawang lawan.
Dari sisi passes to final third, Semen Padang kembali mendominasi dengan mencetak 58 kali peluang, sementara PSIM Yogyakarta hanya 22 kali.
Passes to final third adalah statistik yang menghitung jumlah operan sukses yang dikirimkan oleh seorang pemain dari area pertahanan atau tengah lapangan masuk ke wilayah sepertiga akhir lapangan lawan.
Pertahanan Semen Padang juga kokoh dengan mencetak 13 kali tekel, 35 kali intersep dan sembilan kali sapuan, di lain sisi sektor belakang PSIM hanya mencetak 19 kali tekel, 21 kali intersep dan 25 kali sapuan.
Melihat statistik ini, wajar jika Semen Padang gagal meraih kemenangan adalah sebuah keanehan. (lia/JPNN)