
Perang antara AS-Israel dengan Iran mulai berdampak pada pola perjalanan udara internasional. Sejumlah bandara utama di China kini menjadi pilihan transit baru bagi penumpang yang bepergian antara Australia dan Eropa.
Mengutip Bloomberg pada Jumat (6/3), data dari perusahaan perjalanan Flight Centre Travel Group Ltd menunjukkan peningkatan signifikan jumlah penumpang bisnis yang transit di China dalam beberapa hari terakhir.
Perusahaan mencatat jumlah penumpang korporasi pada rute jarak jauh yang transit melalui Shanghai dan Beijing meningkat lebih dari dua kali lipat pada periode Senin (2/3) hingga Kamis (5/3) pekan ini dibandingkan pekan sebelumnya.
Sebelum konflik memanas, banyak pelancong dari Australia menuju Eropa biasanya transit di kota-kota Timur Tengah seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Doha menggunakan maskapai kawasan tersebut.
Situasi perang membuat rute itu terganggu. Sejak konflik dimulai, jumlah penerbangan yang dibatalkan menuju hub penerbangan di Timur Tengah telah melampaui 27.000 penerbangan, meskipun beberapa maskapai mulai kembali membuka operasi secara terbatas.
Gangguan tersebut juga membuat ribuan penumpang telantar di kawasan Teluk. Banyak dari mereka terpaksa mencari rute alternatif yang lebih panjang dan mahal untuk mencapai bandara di negara lain seperti Arab Saudi dan Oman.
Meski demikian, perjalanan bisnis antara Australia dan Eropa tak sepenuhnya dihentikan. Menurut Flight Centre, sebagian besar pelaku perjalanan bisnis tetap melanjutkan perjalanan dengan mencari jalur alternatif, meskipun ketersediaan kursi penerbangan menjadi lebih terbatas akibat perubahan rute global.