
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, memberikan sambutan dalam acara Nuzulul Quran dan buka puasa bersama di DPP Golkar, Jakarta, Jumat (6/3). Dalam sambutannya itu, Bahlil menyinggung perihal malam Lailatul Qadar yang sebentar lagi akan datang.
“Ini sudah menyongsong Lailatul Qadar ya, karena sudah… ini mataharinya sudah mulai turun-turun ini. Ibarat kalau perjalanan manusia itu, sekarang kita sudah di jam 12. Besok sudah mulai turun ke jam 1,” kata Bahlil.
Ia kemudian berkelakar mengenai makna Lailatul Qadar bagi partainya.
“Nah, ini insyaallah kalau orang yang selalu diberikan berkah, secercah harapan Lailatul Qadar sudah mulai turun. Tapi kalau bagi Partai Golkar, Lailatul Qadar itu kalau kursi tambah,” ujarnya dengan nada bercanda.
Para kader Golkar yang mendengar pun sontak tertawa mendengar seloroh Bahlil itu. Ia kemudian melanjutkan sambutannya.
Dalam kesempatan itu, Bahlil mengatakan peringatan Nuzulul Quran bukan sekadar mengenang turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menyebut momentum itu juga menjadi waktu refleksi bagi kader Golkar untuk mendekatkan diri dengan Al-Quran.
“Kedekatan ini saya tidak akan sekadar membaca, tapi meresapi, merenungi, sekaligus mengamalkan isi Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hati kita menjadi tentram dan tercerahkan,” kata dia.
Bahlil juga menyinggung pandangan Al-Quran terhadap kekuasaan. Menurutnya, kekuasaan harus dijalankan secara etis dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
“Dalam perspektif politik dan kekuasaan misalnya, Al-Quran memberikan penegasan etis dan moral bagaimana seharusnya kekuasaan harus dijalankan. Ada misi suci kekuasaan sebagai kekuatan penolong untuk menghadirkan kemaslahatan,” ujarnya.
Ia mengatakan kader Golkar yang berada di eksekutif maupun legislatif harus memandang kekuasaan sebagai amanah.
“Jadi kalau kader Partai Golkar di eksekutif maupun legislatif, ini tidak hanya sekadar kekuasaan yang kita rebut, tapi kekuasaan amanah itu harus menjadi rahmatan lil ’alamin,” kata Bahlil.
Bahlil juga menyinggung pesan Al-Quran terkait keadilan ekonomi. Ia menegaskan kekayaan tidak boleh hanya beredar di kalangan tertentu.
“Prinsip ini mengandung pesan moral bahwa kekayaan dan sumber daya tidak boleh terkonsentrasi pada segelintir pihak, melainkan harus dikelola dan didistribusikan secara adil agar memberi manfaat bagi seluruh masyarakat,” ujarnya.
Menurut Bahlil, nilai tersebut juga sejalan dengan semangat Pasal 33 UUD 1945 yang menekankan perekonomian disusun berdasarkan asas kekeluargaan dan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
“Dengan demikian, nilai Al-Quran dan konstitusi kita sama-sama menegaskan pentingnya keadilan ekonomi agar pembangunan nasional tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tapi juga memastikan kesejahteraan yang dirasakan secara luas oleh seluruh rakyat Indonesia,” kata dia.
Bahlil menambahkan, partai politik merupakan instrumen pengabdian bagi kader bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
“Partai politik ini adalah instrumen pengabdian bagi seluruh kader-kader bangsa di mana pun partai politiknya, dengan tujuan adalah terwujudnya masyarakat adil dan makmur,” ujar Bahlil.