
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bicara mengenai posisi siaga 1 TR/283/2026, yang dikeluarkan Panglima TNI Agus Subiyanto pada 1 Maret 2026. Sjafrie menjelaskan, siaga 1 adalah bahasa prajurit.
“Siaga satu itu bahasa prajurit, ya. Tapi orang bisa mengartikan dalam bahasa politik. Jadi siaga satu itu dia harus selalu mengikuti perkembangan, baik itu yang ada di global, regional, maupun di nasional,” kata Sjafrie, usai bertemu Menhan Australia Richard Marles, Kamis (12/3).
“Tetapi kesiagaan yang kita lakukan ini adalah bagian daripada geostrategi,” imbuh Sjafrie.

Menurut Sjafrie, status ini justru diharap membawa rasa tenang kepada masyarakat. Karena, TNI berada dalam posisi kesiapan tertinggi untuk menjaga keamanan.
“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir. Justru sebetulnya yang dibutuhkan masyarakat itu adalah aman dan nyaman,” tutur dia.
“Jadi kesiagaan ini adalah untuk meyakinkan rakyat bahwa republik dalam keadaan aman dan tentunya harus nyaman dari segi sandang, pangan, dan papan,” ucapnya.
Sementara itu, eks Pangdam Jaya ini menjelaskan, TNI punya beberapa status siaga yang berbeda peruntukkannya.
“Biasa kalau tentara itu ada siaga bencana, ada siaga taktis, ada siaga strategis, gitu,” pungkasnya.