BBM RI aman, Bahlil ungkap sempat ada 2 kargo bensin dari Singapura dipulangkan

Photo of author

By AdminTekno

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman menjelang periode permintaan tinggi. Meski demikian, pemerintah sempat menghadapi dinamika dalam pengadaan bensin impor, termasuk dua kargo dari Singapura yang sempat diminta kembali oleh penjual.

Bahlil menjelaskan, pemerintah terus memantau ketahanan stok energi nasional dan memastikan cadangan berada di atas batas minimum yang ditetapkan. Untuk bensin bersubsidi jenis Pertalite (RON 90), cadangan nasional saat ini berada di level 24,39 hari.

“Jadi untuk pertalite, RON 90 ini yang bensin subsidi. Itu cadangan kita adalah 24,39 hari, batas melampaui batas minimal dari apa yang direncanakan oleh nasional kita,” kata Bahlil dalam Sidang Kabinet, Jumat (13/3).

Sementara itu, stok Pertamax (RON 92) yang dijual mengikuti harga pasar tercatat mencapai 28 hari, jauh di atas batas minimal 11 hari. Adapun bensin dengan oktan lebih tinggi seperti RON 98 memiliki cadangan sekitar 31 hari.

Selain bensin, pemerintah juga memastikan stok energi lain masih dalam kondisi memadai. Cadangan solar subsidi tercatat mencapai 16,41 hari, sedangkan jenis solar lainnya mencapai 46 hari. Untuk avtur berada di kisaran 38 hari dan minyak tanah juga dipastikan aman.

Bahlil menegaskan seluruh cadangan energi tersebut dipersiapkan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. “Cadangan menjelang hari raya untuk semua BBM dan LPG insyaallah aman,” ungkapnya.

Dua Kargo Bensin dari Singapura Sempat Diminta Kembali

Di tengah dinamika pasar energi global, Bahlil mengungkapkan sempat terjadi kejadian tidak biasa dalam transaksi pembelian bensin impor. Pemerintah melalui Pertamina sudah membeli bensin dari Singapura dan kapal pengangkutnya bahkan sudah memasuki perairan Indonesia.

Namun, penjual kemudian meminta dua kargo tersebut kembali karena tingginya permintaan global.

“Tiga dua hari lalu kita sudah membeli minyak dari Singapura sudah berangkat ditenderkan oleh Pertamina lewat trader sudah berangkat, sudah masuk laut Indonesia kemudian disuruh kembali lagi dua kargo,” kata Bahlil.

Menurut Bahlil, kondisi pasar minyak global saat ini tidak lagi sepenuhnya mengikuti mekanisme normal karena ketatnya pasokan dan tingginya perburuan komoditas energi.

Pemerintah pun langsung melakukan koordinasi dengan Pertamina untuk menyampaikan komplain kepada pihak penjual. Hasilnya, kedua kargo tersebut dijanjikan akan dikembalikan.

“Nah untuk dua kapal itu kami melakukan koordinasi dengan Pertamina kami telah melakukan komplain dan tanggal 18 sudah ada pengembaliannya Bapak dua kargo itu. Kalau tidak kita gugat,” kata Bahlil.

RI Masih Impor Bensin dari Singapura dan Malaysia

Bahlil juga menjelaskan struktur impor energi Indonesia saat ini. Untuk bensin, Indonesia masih mengandalkan pasokan dari beberapa negara tetangga.

“Sementara untuk bensin yang kita impor, yang kita impor ini tinggal bensin. Bensin ini kita impor dari sebagian dari Malaysia, sebagian dari Singapura,” ungkap Menteri ESDM.

Adapun minyak mentah (crude oil) yang diimpor Indonesia berasal dari berbagai negara seperti Angola, Nigeria, Brasil, Amerika Serikat, dan Malaysia, dengan sekitar 20 persen berasal dari Timur Tengah.

Ke depan, pemerintah menargetkan impor produk BBM dapat dikurangi dengan meningkatkan kapasitas kilang dalam negeri. Dengan begitu, Indonesia hanya perlu mengimpor minyak mentah untuk kemudian diolah di dalam negeri.

“Nah ke depan memang tidak ada cara lain kita harus mengembangkan refinery kita kilang-kilang kita untuk semua kita produksi dalam negeri,” tegasnya.

Ia menambahkan, pengembangan kilang domestik diharapkan membuat Indonesia hanya perlu mengimpor crude oil untuk menutup selisih antara kebutuhan dan produksi dalam negeri.

Leave a Comment