Serangan Iran picu kerusakan besar di pusat gas Qatar, pasokan tertekan

Photo of author

By AdminTekno

Serangan Iran ke fasilitas energi di Qatar memicu kerusakan besar dan memperparah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Situasi ini juga meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk yang menjadi pusat produksi gas dunia.

Mengutip AFP, dua gelombang serangan Iran menyebabkan kerusakan besar di pusat gas utama Qatar pada Kamis (19/3). Pada saat yang sama, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Teheran agar tidak melancarkan serangan lanjutan terhadap fasilitas tersebut.

Serangan ini terjadi setelah Iran berjanji akan menargetkan infrastruktur energi di kawasan Teluk sebagai respons atas dugaan serangan Israel terhadap fasilitas Iran di ladang South Pars, bagian dari cadangan gas terbesar di dunia.

Serangan rudal pada Rabu menghantam Kota Industri Ras Laffan di pesisir utara Qatar. Serangan tersebut merusak fasilitas gas-ke-cair, dan berlanjut pada Kamis pagi dengan dampak yang lebih luas.

QatarEnergy menyatakan serangan lanjutan memicu kebakaran besar dan kerusakan lebih lanjut yang luas pada sejumlah fasilitas gas alam cair. Meski demikian, otoritas Qatar memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Kementerian Dalam Negeri Qatar menyebut seluruh kebakaran berhasil dikendalikan oleh tim pemadam. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Qatar mengonfirmasi serangan berasal dari rudal balistik Iran yang menargetkan pusat energi tersebut.

Insiden juga berdampak pada aktivitas maritim. Badan maritim Inggris melaporkan sebuah proyektil menghantam kapal di dekat Ras Laffan, namun seluruh awak dilaporkan selamat.

Sebagai salah satu produsen gas alam cair terbesar dunia, bersama Amerika Serikat, Australia, dan Rusia, gangguan di Qatar langsung memicu kekhawatiran pasar global.

Trump bahkan mengancam akan “meledakkan seluruh Ladang Gas South Pars secara besar-besaran” jika serangan terhadap Ras Laffan terus berlanjut. Ia juga menyebut Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan sebelumnya ke fasilitas Iran, meski belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Israel.

Ketegangan ini merupakan bagian dari rangkaian konflik yang meningkat sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan ke berbagai target, termasuk fasilitas energi di kawasan Teluk.

Dampaknya langsung terasa di pasar global. Harga minyak melonjak lebih dari 5 persen, sementara bursa saham melemah karena investor bereaksi terhadap potensi gangguan pasokan energi.

Qatar mengecam keras serangan tersebut. Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri menyebut aksi itu sebagai “serangan brutal Iran yang menargetkan Ras Laffan” dan menilai hal itu sebagai “ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya”.

Sebagai respons diplomatik, Qatar juga memerintahkan atase militer dan keamanan Iran beserta stafnya untuk meninggalkan negara itu dalam waktu 24 jam.

Iran di sisi lain kembali memperingatkan akan melanjutkan serangan jika infrastrukturnya terus menjadi target.

“Kami memperingatkan Anda sekali lagi bahwa Anda telah melakukan kesalahan besar dengan menyerang infrastruktur energi Republik Islam,” kata Garda Revolusi dalam pernyataan yang dimuat media Iran.

Sejumlah negara Teluk turut terdampak. Ledakan terdengar di Riyadh, Arab Saudi, sementara sistem pertahanan di Uni Emirat Arab dilaporkan mencegat ancaman rudal. Pecahan intersepsi bahkan melukai empat orang di wilayah ibu kota Saudi.

Di tengah eskalasi ini, berbagai pihak mengingatkan risiko besar terhadap keamanan energi global.

“Menargetkan infrastruktur energi merupakan ancaman terhadap keamanan energi global, terhadap masyarakat di kawasan ini, dan terhadap lingkungannya,” kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari.

Pernyataan serupa juga disampaikan otoritas Uni Emirat Arab. “Menargetkan infrastruktur energi merupakan ancaman langsung terhadap keamanan energi global,” kata Kementerian Luar Negeri Abu Dhabi.

Leave a Comment