Anies bersilaturahmi ke Cikeas untuk temui SBY-AHY, pengamat: Cinta lama bersemi kembali menjelang Pilpres 2029

Photo of author

By AdminTekno

jpnn.com, JAKARTA – Pertemuan Anies Baswedan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Cikeas baru-baru ini dinilai lebih dari sekadar ajang silaturahmi Lebaran. Pengamat politik Arifki Chaniago menganggap momen tersebut sebagai sinyal kuat yang berpotensi memunculkan kembali isu “cinta lama bersemi kembali” dan membuka peluang duet Anies–AHY di Pilpres 2029.

Menurut Arifki Chaniago, momentum halalbihalal seringkali menjadi wadah strategis bagi komunikasi politik yang penuh makna di kalangan elite politik. Dalam konteks pertemuan di Cikeas, ia melihat ada simbolisme mendalam yang mengindikasikan upaya pembukaan kembali opsi kerja sama politik di masa depan.

“Pertemuan ini tidak bisa dilihat hanya sebagai silaturahmi biasa. Ada upaya memancing kemungkinan agar duet Anies–AHY tetap menjadi opsi yang hidup di kancah politik nasional,” tegas Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia itu, dalam keterangannya pada Rabu (25/3/2026).

Arifki menjelaskan bahwa kedekatan antara Anies Baswedan dan Partai Demokrat bukanlah hal baru. Jejak historis mereka cukup panjang, salah satunya terlihat saat Anies pernah berpartisipasi dalam Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat pada tahun 2014, sebuah inisiatif di era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. “Artinya, hubungan Anies dengan Demokrat bukan hubungan baru. Sudah ada irisan sejarah politik sejak 2014,” lanjut Arifki.

Lebih lanjut, pada Pemilihan Presiden 2024, skenario pasangan Anies–AHY sempat menjadi opsi utama yang diperhitungkan secara serius sebelum akhirnya batal di tahap akhir. Fakta ini, menurut Arifki, semakin memperkuat landasan bahwa keduanya telah memiliki basis komunikasi politik yang solid dan terbangun dengan baik.

Peluang duet Anies–AHY di masa depan, imbuh Arifki, akan sangat bergantung pada dinamika politik nasional, terutama terkait posisi Agus Harimurti Yudhoyono dalam pemerintahan Prabowo Subianto yang akan datang. Dalam suasana cairnya komunikasi politik antara Prabowo dengan tokoh-tokoh kunci seperti Megawati dan Jokowi, AHY tampaknya ingin “menyediakan payung sebelum hujan.” Dalam skenario ini, Anies bisa menjadi salah satu opsi “payung” bagi AHY, sementara AHY juga merupakan langkah strategis bagi Anies untuk menjaga “kartunya tetap hidup” menjelang Pilpres 2029.

“Apabila Partai Demokrat tidak mendapatkan ruang yang cukup signifikan di pemerintahan mendatang, maka kemungkinan membangun poros baru bersama Anies bisa kembali terbuka lebar menjelang Pilpres 2029,” tandasnya.

Namun, ia juga mengakui adanya tantangan besar bagi potensi duet ini, yakni ambisi politik masing-masing tokoh. Baik Anies maupun AHY dinilai memiliki posisi tawar yang kuat sebagai calon presiden. “Ini yang perlu dicarikan titik temu, tetapi dalam politik, kompromi selalu mungkin terjadi jika kepentingannya bertemu,” ujarnya optimis.

Arifki kembali menekankan bahwa pertemuan di kediaman Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas memiliki nilai simbolis yang kuat. Cikeas dikenal sebagai pusat penting dalam penentuan arah politik Partai Demokrat. “Jika pertemuan ini terjadi dan berlangsung hangat, artinya komunikasi politik itu tidak hanya terbuka, tetapi juga mendapat ruang yang serius untuk dipertimbangkan,” jelasnya.

Pada akhirnya, ia menegaskan bahwa meskipun pertemuan tersebut belum merupakan keputusan politik final, namun cukup kuat untuk dibaca sebagai langkah awal yang strategis. Ini adalah upaya “memancing” kemungkinan agar duet Anies–AHY dapat kembali muncul sebagai opsi serius dalam bursa Pilpres 2029.

Leave a Comment