
Sebuah kapal tanker minyak berbendera Thailand berhasil menuntaskan pelayaran penting melintasi Selat Hormuz dengan selamat. Keberhasilan navigasi ini merupakan buah dari koordinasi diplomatik intensif antara pemerintah Thailand dan Iran, sebuah kabar yang disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow. Insiden ini menyoroti kompleksitas dan urgensi diplomasi di salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Sihasak menjelaskan bahwa kapal tanker milik Bangchak Corporation tersebut berhasil melintasi Selat Hormuz pada Senin (23/03). Momen krusial ini terjadi setelah serangkaian pembicaraan tingkat tinggi antara Sihasak dan Duta Besar Iran untuk Thailand, Nasereddin Heydari, yang bertujuan untuk memastikan keamanan maritim bagi kapal-kapal Thailand.
“Saya secara khusus menanyakan apakah kapal-kapal Thailand yang memiliki kebutuhan untuk melewati selat tersebut dapat diberikan bantuan demi menjamin pelayaran yang aman,” ujar Sihasak. Sebagai respons, pihak Iran menegaskan komitmen mereka untuk membantu, sekaligus meminta daftar kapal yang akan melintas. Langkah proaktif ini menggarisbawahi pentingnya komunikasi antarnegara di tengah ketegangan regional.

Pelayaran aman kapal tanker Thailand ini terjadi hanya dua minggu setelah insiden serangan proyektil terhadap kapal pengangkut berbendera Thailand, Mayuree Naree, di selat yang sama. Kejadian sebelumnya menambah kekhawatiran global mengenai keamanan navigasi di perairan vital tersebut, membuat keberhasilan koordinasi diplomatik Thailand-Iran semakin signifikan.
Negara mana saja yang kapalnya diperbolehkan melintasi Selat Hormuz?
Berbicara kepada stasiun televisi pemerintah Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memberikan klarifikasi tegas bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup. Ia mengungkapkan bahwa banyak pemilik kapal, serta negara pemiliknya, telah menghubungi Iran untuk meminta jaminan keselamatan pelayaran melalui selat tersebut. Penegasan ini memberikan gambaran mengenai pendekatan Iran yang terukur terhadap lalu lintas maritim di tengah konflik yang tengah berlangsung.
“Untuk sejumlah negara yang kami anggap bersahabat, atau dalam kasus tertentu yang kami nilai perlu, angkatan bersenjata kami telah secara aktif memberikan pengawalan yang aman,” tambah Araghchi, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters. Ini menunjukkan bahwa Iran menerapkan kebijakan selektif berdasarkan hubungan diplomatik dan pertimbangan strategis.
Ia melanjutkan dengan memberikan contoh negara-negara yang telah mendapatkan izin dan pengawalan aman: “Seperti yang Anda lihat dalam pemberitaan: China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India. Bahkan, dua kapal India telah melintas beberapa malam lalu, begitu pula dari negara lain, termasuk Bangladesh, saya kira. Negara-negara ini telah berkomunikasi dan berkoordinasi dengan kami, dan hal ini akan terus berlanjut di masa depan, bahkan setelah perang berakhir.” Pernyataan ini menegaskan adanya jalur komunikasi dan prosedur yang ditetapkan untuk negara-negara tertentu.


Data pelayaran yang dihimpun oleh Kpler menunjukkan penurunan drastis dalam aktivitas maritim di Selat Hormuz. Sepanjang bulan ini, hanya 99 kapal yang tercatat melintasi selat sempit tersebut, atau rata-rata hanya lima hingga enam kapal per hari. Angka ini sangat kontras dengan situasi sebelum perang, di mana sekitar 138 kapal melintasi selat itu setiap hari, berdasarkan data dari Joint Maritime Information Centre. Padahal, jalur ini merupakan arteri vital yang diandalkan untuk mengangkut seperlima pasokan minyak global.
Analisis mendalam oleh BBC mengungkapkan bahwa sekitar sepertiga dari pelayaran terbaru di Selat Hormuz memiliki keterkaitan erat dengan Iran. Di antara jumlah tersebut, terdapat 14 kapal yang berlayar dengan bendera Iran, serta sejumlah kapal lain yang sebelumnya dikenai sanksi karena diduga terhubung dengan perdagangan minyak Teheran. Selain itu, sembilan kapal lainnya tercatat dimiliki oleh perusahaan yang beralamat di China, dan enam kapal diketahui menjadikan India sebagai tujuan akhir mereka, mengindikasikan pola perdagangan yang berkelanjutan dengan sekutu-sekutu Iran.

Dalam upaya untuk memastikan keamanan di tengah meningkatnya risiko, sejumlah kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz tampak memilih rute pelayaran yang lebih panjang dari biasanya. Sebagai contoh, data pelacakan menunjukkan bahwa sebuah kapal tanker berbendera Pakistan pada tanggal 15 Maret berlayar lebih dekat ke pantai Iran—sebuah jalur yang menyimpang dari jalur umum yang biasanya berada di bagian tengah selat. Perubahan rute ini mengindikasikan adaptasi taktis untuk menghindari potensi ancaman.
‘Tidak ada akses bagi musuh’
Araghchi juga secara tegas menyatakan bahwa kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan negara-negara yang dianggap sebagai musuh, atau pihak yang terlibat dalam konflik regional saat ini, tidak akan diizinkan melintas. Pernyataan ini mempertegas batasan akses Iran di perairan strategis tersebut.
Ia secara spesifik menyebutkan bahwa kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Teluk yang berperan dalam krisis yang sedang berlangsung tidak akan diberikan izin transit. “Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal milik musuh dan sekutu mereka melintas. Namun, selat tetap terbuka bagi pihak lainnya,” ujarnya pada Rabu (25/03), menggarisbawahi posisi Iran yang tidak kompromi terhadap pihak yang dianggap menentangnya.

Perkataan Araghchi ini sejalan sepenuhnya dengan pernyataan yang sebelumnya diunggah oleh perwakilan Iran untuk PBB. Dalam sebuah unggahan di platform X, Teheran dengan jelas menyatakan bahwa “kapal-kapal yang tidak bermusuhan” akan diizinkan melintasi Selat Hormuz, asalkan mereka melakukan koordinasi yang diperlukan dengan “otoritas Iran yang berwenang.” Konsistensi pesan ini menunjukkan kebijakan yang terkoordinasi dari pihak Iran.
Sebagai bukti dari kebijakan tersebut, kapal-kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz sejak awal bulan ini memang mencakup kapal dari China, India, dan Pakistan—negara-negara yang sebelumnya disebutkan Araghchi sebagai pihak yang bersahabat atau telah berkoordinasi. Alih-alih menggunakan dua koridor transit sempit yang lebih dekat ke Oman, kapal-kapal ini kini mengalihkan rute mereka lebih ke utara, melewati perairan teritorial Iran di utara Pulau Larak. Perubahan jalur ini memungkinkan aparat Iran untuk secara efektif memantau dan mengendalikan lalu lintas maritim, memastikan keamanan sesuai dengan ketentuan mereka.
Bagaimana dengan kapal-kapal Indonesia?
Situasi yang rumit di Selat Hormuz juga berdampak pada Indonesia. Hingga 26 Maret 2026, dua kapal tanker Pertamina milik Indonesia masih tertahan di Teluk Arab dan belum dapat melewati Selat Hormuz. Kedua kapal vital tersebut adalah PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang kini menunggu kepastian jalur pelayaran.
Berdasarkan data yang tertera pada situs MarineTraffic, kapal Pertamina Pride terdeteksi berada di sebelah utara Kota Dammam, Arab Saudi, menunjukkan posisinya yang relatif statis. Sementara itu, kapal Gamsunoro terpantau berada di dekat pesisir Kuwait dan Irak, juga menunggu izin untuk melanjutkan pelayaran.
Berdasarkan pernyataan resmi dari Pertamina International Shipping, kapal Pertamina Pride mengemban misi penting dengan mengangkut kargo untuk kebutuhan energi nasional, yang krusial bagi pasokan dalam negeri. Adapun kapal Gamsunoro melayani pengangkutan untuk mitra pihak ketiga (non-Pertamina). Vega Pita, Pjs. Sekretaris Korporat Pertamina International Shipping, melalui akun resmi Instagram @pertaminainternationalshipping, menegaskan komitmen perusahaan: “Keselamatan kru dan kargo menjadi prioritas kami. Pertamina Group mengoperasikan 345 kapal sehingga kondisi ini dipastikan tidak mengganggu pasokan energi dalam negeri.”
Menanggapi situasi ini, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia saat ini masih terus melakukan komunikasi intensif dengan otoritas Iran. Upaya diplomatik ini bertujuan agar dua kapal Pertamina tersebut segera diizinkan melintasi Selat Hormuz, memastikan kelancaran rantai pasok energi Indonesia.
- Apa isi 15 butir rencana damai yang digagas Trump, dan mengapa Iran menolaknya?
- Trump ultimatum Iran: Buka Selat Hormuz dalam 48 jam atau AS akan hancurkan pembangkit listrik
- Perang AS-Israel vs Iran: Kapal mana saja yang masih bisa melewati Selat Hormuz?