Ringkasan Berita:
- Harga plastik melonjak akibat konflik AS–Iran yang mengganggu pasokan minyak dan bahan baku petrokimia.
- Kenaikan harga energi dan terganggunya jalur distribusi global membuat biaya produksi plastik ikut naik.
- Dampaknya dirasakan luas, terutama oleh industri dan UMKM yang harus menanggung biaya lebih tinggi.
Kita Tekno Dalam beberapa waktu terakhir, harga plastik mengalami lonjakan signifikan yang membuat banyak pelaku industri dan pelaku usaha mulai kewalahan menghadapi biaya produksi yang meningkat.
Salah satu faktor utama yang memicu kenaikan ini adalah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah sebagai pusat pasokan energi dunia.
Ketegangan geopolitik tersebut mengganggu distribusi minyak dan bahan baku petrokimia, yang menjadi bahan dasar utama dalam produksi plastik.
Akibatnya, pasokan menjadi tidak stabil dan harga bahan baku pun ikut terdorong naik di pasar global.
Selain itu, kekhawatiran akan terganggunya jalur perdagangan penting seperti Selat Hormuz turut memperparah situasi, karena jalur ini merupakan salah satu rute vital pengiriman minyak dunia.
Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar bersikap spekulatif dan menahan pasokan, sehingga harga semakin tertekan naik.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri besar, tetapi juga hingga ke pelaku usaha kecil dan konsumen akhir, yang harus menghadapi kenaikan harga produk berbahan plastik seperti kemasan, peralatan rumah tangga, hingga kebutuhan sehari-hari.
Jika konflik terus berlanjut tanpa adanya solusi jangka pendek, maka tekanan terhadap harga plastik diperkirakan masih akan berlangsung dan berpotensi memicu kenaikan biaya di berbagai sektor industri lainnya.
Seperti diketahui, lini masa media sosial X ramai membahas soal harga plastik yang naik drastis hingga dua kali lipat.
Informasi itu diunggah akun menfess @tanyakanrl pada Rabu (1/4/2026).
“Guyss plastik di daerahku udah naik, bisanya 9K an sekarang udah naik hampir 50 persen jadi 16K. Lumayan terpukul buat aku yang jualan bergantung sama plastik, tempat kalian gimana guys?” tulis unggahan tersebut.
Kenaikan harga plastik ini sebenarnya sudah diingatkan oleh para ahli.
Profesor praktik rantai pasokan di Universitas Syracuse, Patrick Penfield, mengatakan produk plastik sebagian besar terbuat dari minyak bumi yang saat ini mengalami lonjakan harga lebih dari 40 persen sejak dimulainya perang pada 28 Februari 2026.
Akibatnya, produk-produk seperti peralatan makan sekali pakai, botol minuman plastik, dan kantong sampah berpotensi mengalami kenaikan harga dalam dalam beberapa minggu ke depan.
Sayangnya, plastik digunakan di seluruh rantai pasokan, mulai dari pengemasan hingga manufaktur. Ini artinya sulit untuk menentukan secara pasti dari mana biaya tersebut berasal dalam harga akhir suatu produk.

“Ini adalah salah satu hal yang membuat Anda menggelengkan kepala di toko. Anda tidak tahu apakah harganya lebih mahal karena inflasi umum, kenaikan sewa, tetapi Anda membayar untuk ini,” kata profesor ekonomi di NYU Stern School of Business, Joseph Foudy, dilansir dari CNN.
Yang pasti, kenaikan harga plastik dapat memicu kenaikan harga pangan dalam dua hingga empat bulan ke depan.
Lantas, mengapa harga plastik naik?
Penyebab harga plastik naik
Melonjaknya harga plastik tak lepas dari kenaikan harga minyak dan gas alam akibat penutupan Selat Hormuz, jalur air yang berperan penting dalam rantai pasokan energi dan petrokimia global.
Hampir seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global membutuhkan jalur tersebut sebagai distribusinya.
Oleh sebab itu, tak heran ketika jalur itu ditutup, harga minyak mentah naik dari 67 dollar AS per barel menjadi 98 dollar AS per baret pada 20 Maret 2026.
Sementara harga gas alam acuan di Asia dan Eropa telah melonjak lebih dari 60 persen dalam periode yang sama.
Kondisi ini berdampak pada produksi plastik. Pusat Hukum Lingkungan Internasional menyampaikan, lebih dari 99 persen plastik global berasal dari bahan bakar fosil.
Artinya, kenaikan harga energi tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga biaya bahan baku itu sendiri, termasuk termasuk polietilen (PE) dan polipropilen, dua jenis plastik yang paling banyak digunakan di dunia.
Selama ini, Timur Tengah merupakan pasokan utama bahan baku plastik.
Dana S&P Global Energy menunjukkan, kawasan ini menyumbang sekitar seperempat dari ekspor polietilen dan polipropilen global.
“Sekitar 84 persen kapasitas PE Timur Tengah bergantung pada selat tersebut untuk ekspor melalui jalur air,” kata Harrison Jacoby, direktur polietilen di Independent Commodity Intelligence Services.
Menurut lembaga kliring independen yang melacak data transaksi untuk pasar resin, Plastics Exchange, harga resin plastik telah melonjak dua digit di sebagian besar kategori manufaktur dalam 30 hari terakhir.
“Dalam 25 tahun saya (di industri plastik), saya belum pernah melihat peningkatan PE (bulanan) sebesar ini sebelumnya,” ucap CEO Plastics Exchange dan platform intelijen pasarnya, Resintel, Michael Greenberg.
Kenaikan harga plastik berlangsung lama
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira, memprediksi kenaikan harga plastik akibat perang di Timur Tengah akan berlangsung lama.
Besaran kenaikan harganya diperkirakan mencapai 40-70 persen.
“Meski ada deeskalasi perang di Timur Tengah, disrupsi bahan baku plastik bisa bertahan 3-6 bulan kedepan,” kata dia, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (2/4/2026).
Kondisi ini akan terasa dampaknya bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama di sektor makanan dan minuman yang terpaksa menyesuaikan harga atau memotong margin.
Apalagi, Pemerintah Indonesia baru saja mengumumkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) setiap Jumat. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan penggunaan plastik sebagai bungkus makanan atau minuman.
Dalam jangka waktu panjang, hal tersebut dapat merugikan UMKM.
“UMKM akan semakin tertekan, apalagi kondisi sekarang daya beli masyarakatnya sedang melemah. Apalagi di kelompok menengah ke bawah yang menjadi segmen pasar UMKM,” ungkap Bhima.
Untuk mengatasi hal tersebut, dia menyarankan agar pemerintah segera menurunkan PPN untuk plastik dari 11 persen menjadi 8 persen.
Menurutnya, kebijakan ini bisa meringankan harga jual plastik kemasan.
Selanjutnya, Bhima menyarankan agar pemerintah memberikan tambahan stimulus kepada UMKM berupa PPH 0,5 persen.
“PPH 0,5 persen UMKM PPH final itu diperpanjang,” saran Bhima.
Saran berikutnya adalah stimulus lanjutan berupa dorongan kredit kepada UMKM di sektor makanan dan minuman dengan bunga yang lebih rendah.
“Inikan kredit UMKM kontraksinya cukup dalam 0,5 persen secara year on year di bulan Januari. Jadi kredit UMKM ini harus terus distimulus, tapi dengan bunga yang rendah. Dengan begitu UMKM-nya bisa bertahan,” papar Bhima.
Dia menjelaskan, lamanya potensi kenaikan harga plastik ini disebabkan karena banyaknya perusahaan petrokimia baik di Indonesia maupun di luar negeri yang mengalami force major.
“Jadi, kontrak pre-order pembelian untuk plastik itu semuanya dibatalkan sehingga krisis plastiknya bakal lama,” ungkap Bhima.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)