Cerita SBY usul ke PBB buat kirim pasukan TNI ke Lebanon pada 2006

Photo of author

By AdminTekno

Tragedi gugurnya tiga prajurit terbaik TNI yang tengah mengemban tugas sebagai penjaga perdamaian (peacekeeper) di Lebanon telah menyentuh hati banyak pihak. Menanggapi insiden memilukan ini, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) turut menyampaikan duka mendalam sekaligus membuka lembaran sejarah di balik keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian di Lebanon, sebuah inisiatif yang lahir dari kepemimpinannya saat masih menjabat sebagai kepala negara.

Dalam pernyataannya, SBY mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengambil langkah tegas dan konkret terkait keberadaan satuan tugas UNIFIL di tengah zona konflik yang rawan. Desakan ini muncul menyusul gugurnya Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon. Mirisnya, selain tiga korban jiwa tersebut, lima prajurit lainnya juga mengalami luka berat akibat serangkaian insiden yang berulang kali menimpa wilayah penugasan mereka.

SBY menegaskan bahwa secara pribadi, ia merasa memiliki kewajiban moral yang kuat untuk memperjuangkan keadilan bagi para prajurit TNI yang menjadi korban di Lebanon, sebuah sentimen yang juga diungkapkan oleh Presiden Prabowo. Mantan Kepala Negara ini menjelaskan, “Ketika menjadi Presiden Indonesia dulu, saya berinisiatif dan mengusulkan kepada PBB untuk mengirimkan satu batalyon plus Indonesia sebagai bagian dari Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB di Lebanon.” Pernyataan ini disampaikan SBY melalui akun X pribadinya @SBYudhoyono pada Minggu (5/4), menggarisbawahi komitmennya terhadap para peacekeeper.

Inisiatif pengiriman pasukan TNI, seperti yang diungkapkan SBY, berawal dari situasi konflik memanas pada Agustus 2006 antara Israel dan Lebanon. Kala itu, gelombang korban jiwa terus berjatuhan, khususnya dari pihak Lebanon, sementara Dewan Keamanan PBB dinilai belum mampu mengambil langkah-langkah efektif untuk menghentikan peperangan yang berkecamuk.

Menyikapi kebuntuan tersebut, ketika Perdana Menteri Malaysia kala itu, Abdullah Badawi (Alm), berkunjung ke Jakarta, SBY mengambil inisiatif strategis. Ia mengusulkan kepada PM Badawi, yang juga menjabat sebagai Ketua Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), untuk segera menggelar “emergency meeting” atau pertemuan darurat. Tujuan utama pertemuan ini adalah mendesak PBB agar tidak menunda lagi tindakan nyata untuk mengakhiri konflik.

Usulan tersebut disambut baik dan segera ditindaklanjuti. Beberapa hari kemudian, PM Abdullah Badawi sukses menggelar pertemuan darurat OKI di Kuala Lumpur. Forum penting ini dihadiri oleh sejumlah pemimpin negara berpengaruh, termasuk SBY dari Indonesia, Presiden Iran Ahmadinejad, Perdana Menteri Turkiye Erdogan, dan Perdana Menteri Lebanon Siniora, di samping kepala negara/pemerintahan lainnya, menunjukkan keseriusan komunitas Islam dalam merespons krisis.

Pada kesempatan istimewa inilah, SBY secara lugas menyatakan kesiapan Indonesia. Ia menyampaikan bahwa Indonesia siap mengirimkan pasukan satu batalyon diperkuat sebagai bagian dari “peacekeeping mission” di perbatasan Israel dan Lebanon. Komitmen ini berarti, setelah tercapai gencatan senjata berkat upaya PBB, Indonesia siap memikul tanggung jawab dalam mengawasi dan memastikan implementasi gencatan senjata tersebut berjalan efektif.

Untuk merealisasikan komitmen ini, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan SBY bergerak cepat dalam memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Mengingat persyaratan penggunaan kendaraan tempur mekanis dan belum siapnya produksi Anoa dalam negeri, SBY segera menelepon Presiden Prancis Jacques Chirac. Tujuannya adalah untuk membeli kendaraan tempur VAB buatan Prancis agar dapat segera diberangkatkan ke Lebanon. Beruntungnya, Prancis menyambut baik permintaan ini, dan proses pengadaan serta pengiriman berlangsung sangat cepat melalui format Government to Government (G to G), tanpa melibatkan pihak swasta, demi efisiensi dan kecepatan.

Berkat gerak cepat ini, hanya dalam waktu tiga bulan setelah keputusan penting itu diambil, Kontingen Indonesia pertama, Garuda XXIII/A, berhasil diberangkatkan menuju Lebanon pada November 2006. Menariknya, tiga individu yang kini menjadi bagian penting dari kabinet Presiden Prabowo Subianto adalah bagian dari kontingen bersejarah tersebut: Kapten Kav Muhammad Iftitah Sulaiman, Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono, dan Lettu Kav Ossy Dermawan, menandai jejak awal pengabdian mereka di kancah internasional.

Hingga kini, komitmen Indonesia terhadap misi perdamaian PBB di Lebanon terus berlanjut. Menurut SBY, sampai dengan tahun 2026, Indonesia telah mengirimkan total 19 kali kontingen Garuda untuk bertugas di Lebanon, dengan durasi penugasan rata-rata satu tahun. Misi ini diakui sebagai salah satu penugasan terlama yang pernah diemban oleh pasukan Indonesia dalam kerangka operasi PBB, menunjukkan dedikasi bangsa dalam menjaga stabilitas global.

Mengakhiri pernyataannya, SBY menyampaikan pesan inspiratif kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang saat ini masih bertugas di Lebanon. Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, ia berpesan, “Tetaplah bersemangat dalam mengemban tugas mulia ini. Do your best, jaga diri baik-baik. Keluarga tercinta di Tanah Air senantiasa menanti kepulangan kalian dengan selamat.” Sebuah pesan yang menguatkan semangat juang para pahlawan perdamaian.

Leave a Comment