Ringkasan Berita:
- Rachel mengungkapkan kekecewaannya karena rumah yang diperuntukkan bagi anak mereka justru ingin dilepas tanpa komunikasi yang jelas.
- Kini, persoalan tersebut semakin melebar setelah terungkap adanya hak-hak yang belum dipenuhi.
- Pembayaran nafkah anak sempat mengalami kendala dalam beberapa periode, mandek hingga 9 bulan.
Kita Tekno Rachel Vennya kembali membuka fakta baru di tengah polemik rumah yang disebut-sebut hendak dijual oleh mantan suaminya, Niko Al Hakim alias Okin.
Dari sudut pandang hukum, persoalan ini tidak hanya berhenti pada sengketa properti, tetapi juga merambah pada kewajiban finansial pasca perceraian.
Sebelumnya, Rachel telah mengungkapkan kekecewaannya karena rumah yang diperuntukkan bagi anak mereka justru ingin dilepas tanpa komunikasi yang jelas.
Kini, persoalan tersebut semakin melebar setelah terungkap adanya hak-hak yang belum dipenuhi.
Melalui kuasa hukumnya, Sangun Ragahdo, Rachel membeberkan bahwa sejak awal perceraian pada 2021 sebenarnya telah ada kesepakatan resmi antara kedua belah pihak.
Kesepakatan itu mencakup pembagian aset hingga pemberian uang mut’ah sebagai hak mantan istri.
“Lalu juga terjadi kesepakatan bahwa ada uang mut’ah di situ, yang seharusnya merupakan haknya Rachel sebagai istri waktu pada saat cerai,” kata Sangun, dikutip dari YouTube Intens Investigasi, Selasa (7/4/2026).
Ia menegaskan bahwa nilai uang mut’ah yang telah disepakati tidaklah kecil.
“Itu ada uang mut’ah disepakati senilai Rp1 miliar,” sambungnya.

Tak hanya itu, dalam perjanjian tersebut juga diatur kewajiban nafkah bulanan untuk kedua anak mereka.
Besaran nafkah itu dinilai cukup realistis jika melihat kebutuhan pendidikan dan kehidupan anak-anak mereka.
“Disepakati untuk kedua orang anak senilai Rp50 juta setiap bulan,” jelas Sangun.
Ia juga menambahkan bahwa angka tersebut masih dalam batas wajar sesuai kesepakatan bersama.
“Which is sebetulnya menurut kesepakatan mereka berdua dan menurut saya juga ya itu nilai yang wajar,” lanjutnya.
Namun dalam praktiknya, kesepakatan tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Sangun mengungkapkan bahwa pembayaran nafkah anak sempat mengalami kendala serius dalam beberapa periode.
“Ternyata di tahun 2021, tahun 2022, ada lah ya kita bilangnya, kalau bahasa gampangnya istilah mandek lah. Tidak dibayarkan untuk nafkah anak tersebut.”
Ia bahkan merinci bahwa kondisi tersebut terjadi cukup lama dan berulang.
“Seingat saya nih 2021 itu ada tiga bulan, di 2022 itu tidak kurang dari enam bulan, hampir setengah tahun lah mandek,” paparnya.
Fakta ini semakin memperkuat gambaran bahwa konflik antara Rachel dan Okin bukan sekadar persoalan emosional, tetapi juga menyangkut tanggung jawab yang belum sepenuhnya dituntaskan.
Rachel Vennya Bakal Tempuh Jalur Hukum
Kini Rachel akan membawa polemik tersebut ke jalur hukum. Kuasa hukum Rachel, Sangun Ragahdo, mengungkapkan bahwa pihaknya kini tengah mengumpulkan bukti-bukti sambil berkonsultasi dengan kepolisian terkait langkah hukum yang akan diambil.
“Rachel ingin menuntut hak. Haknya siapa? Hak anak-anak, bukan hak Rachel. Ini terkait tanggung jawab seorang ayah terhadap anak-anaknya,” kata Sangun di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (6/4/2026).
Okin sendiri telah buka suara usai pernyataan mantan istrinya, Rachel Vennya, mencuat terkait rumah sang anak yang dijual. Menurut Sangun, persoalan ini tak sekadar konflik pribadi, melainkan menyangkut hak anak yang dinilai mulai terabaikan seiring berjalannya waktu. Ia bahkan menyebut adanya indikasi yang mengarah pada ranah pidana, meski belum merinci secara detail.
“Kalau saya lihat sementara ini, potensi-potensi pidana ini sebetulnya ada,” ujarnya.
“Dulu mereka cerai tidak mau ribut karena pengasuhan masih baik-baik saja. Masih ada waktu bersama anak-anak. Cuma makin ke sini, terkait tanggung jawab ini kok makin menghilang,” jelasnya.
Yang membuat situasi semakin sensitif adalah munculnya peristiwa yang dianggap janggal oleh pihak Rachel. Sangun menyebut ada orang yang lebih dulu datang mengecek rumah sebelum informasi tersebut sampai ke kliennya. Bahkan, muncul dugaan rumah tersebut akan dijual.
“Timeline-nya jauh. Orang datang dulu baru diinformasikan. Di sini kami melihat ada itikad tidak baik,” katanya.
Dengan kondisi yang kian memanas, pihak Rachel pun tidak menutup kemungkinan akan membawa persoalan ini ke jalur hukum, baik melalui gugatan hak asuh anak maupun laporan pidana.
“Tidak menutup kemungkinan ke depannya akan dilakukan upaya hukum, apakah gugatan hak asuh anak atau laporan polisi terkait dugaan tindak pidana,” ucap Sangun.
Meski begitu, di tengah konflik yang mulai jadi sorotan publik, Rachel disebut masih berharap ada penyelesaian yang lebih baik tanpa harus memperpanjang drama hukum.
“Kami harap ada solusi yang baik, dalam artian tanggung jawab itu dijalankan. Ini kembali lagi, kita mencari keadilan untuk anak-anak,” tegasnya. Sangun juga menegaskan bahwa kliennya tidak terlalu mempermasalahkan soal materi. “Rachel tidak terlalu pusing soal uang, karena dia sudah mandiri,” tambahnya.
Pengakuan Rachel Vennya
Sebelumnya, Rachel meluapkan amarah pada Okin yang mendadak menjual rumah anak tanpa izin. Rachel juga membeberkan terkait perjanjian saat bercerai dulu dengan mantan suaminya.
“Di awal perjanjian, aku kasih rumah yang dia bilang #rumahuntukbiru, dia cuma punya kewajiban nafkah dan kasih uang mut’ah. Tapi ternyata enggak dikasih, win-win solution dia yang kasih itu rumah biar dia enggak nafkahin anak-anak lagi,” jelas Rachel.
Rachel pun setuju dan mengambil alih rumah tersebut dengan merenovasinya, serta kini ditempati oleh adik-adiknya.
“Pas datang ke rumah sudah bobrok pas dia pakai, akhirnya kita renov buat adik-adik.”
Tak disangka, kesepakatan tersebut ternyata hanya berdasarkan kepercayaan satu sama lain saja dan tidak ada catatan hitam di atas putih. Kini Rachel mendapati kabar rumah tersebut mendadak dijual oleh pihak Okin. Bahkan, pihak calon pembeli sudah melakukan pengukuran di rumah tersebut.
Tentunya kejadian itu menyulut murka selebgram berusia 30 tahun tersebut. Okin dinilai telah melanggar perjanjian saat cerai dulu.
“Terus sekarang karena enggak ada hitam di atas putih, mau dia jual. Notabene adik-adik masih tinggal di sana, tanpa babibu langsung ada orang yang mau ngukur dan mau jual rumahnya, yang mana adik-adik gue enggak tahu harus gimana.”
Kini Rachel merasa dikhianati oleh mantan suaminya tersebut, yang sebelumnya ia pikir bisa terus menjalin hubungan baik demi anak.
“Ya sudah ambil tuh rumah. Orang yang gue pikir bakal jadi sahabat gue turn into nightmare,” tukasnya.
Klarifikasi Okin
Sebelumnya, Niko Al Hakim menyampaikan klarifikasi soal tudingan menjual rumah yang menjadi konflik dengan mantan istrinya, Rachel Vennya.
Melalui unggahan di Instagram-nya, @okinpth, Minggu (5/4/2026), Okin awalnya menjelaskan latar belakang terkait rumah tersebut.
“Rumah itu dibeli di momen sebelum anak pertama gue lahir dengan harapan rumah tersebut menjadi awal baik bagi keluarga kecil gue, dan anak-anak bisa tumbuh kembang dengan baik di dalam rumah itu. Tidak ada sedikit pun terlintas akan terjadi perpisahan,” ujar Okin, dikutip Tribunnews, Minggu (5/4/2026).
Ia kemudian mengurai proses panjang yang terjadi setelah perceraian, termasuk soal pembagian harta dan komunikasi yang dinilai tidak berjalan mulus.
“Di dalam perpisahan tersebut, mengharuskan kami melewati banyak proses di antaranya permintaan uang mut’ah dan pembagian harta. Namun di saat gue menanyakan mengenai penukaran aset, yaitu rumah dan tanah Bali, ybs. memberikan statement yang tidak sesuai dengan omongannya awalnya,” tuturnya.
Ia juga mengaku sempat merasa kecewa atas respons yang diterimanya saat membahas hal tersebut.
“Walau awalnya gue belum mau menerima tanah tersebut, tapi ada sedikit kekecewaan di diri gue terhadap respons ybs. ketika gue kembali menanyakan perihal ini,” lanjutnya.
Okin menegaskan dalam pembagian harta pada 2021, rumah tersebut diputuskan menjadi bagiannya.
“2021: dalam pembagian harta tersebut, ybs. memutuskan rumah tersebut menjadi bagian gue.”
Terkait kewajiban yang sempat tertunda, Okin mengakui adanya kelalaian pada 2023. Ia menjelaskan hal itu dipicu oleh kondisi bisnis yang membuatnya kelelahan.
“2023: terdapat kelalaian dari gue dalam membayarkan kewajiban, karena di saat itu gue sedang menghadapi case dalam bisnis yang sempat membuat gue burned out, sehingga muncullah perhitungan dari ybs. sejumlah nominal dan penawaran di bawah.”
Lebih lanjut, Okin mengungkapkan persoalan komunikasi yang memburuk, terutama saat muncul peringatan dari pihak bank.
“Karena ada peringatan mengenai pelabelan dari pihak bank dan posisinya rumah itu sudah ditempati oleh keluarga ybs., di sinilah titik komunikasi mulai tidak baik. Di mana puncak permasalahan mengenai rumah ini menjadi ke mana-mana. Hal seperti ini yang sebetulnya gue hindari, itu salah satu alasan gue pernah menawarkan untuk mengganti nama,” jelas Okin.
Ia juga menyinggung adanya kesalahpahaman terkait pembayaran KPR di awal 2026.
“Di awal tahun 2026, ada kesalahpahaman dalam pembayaran rumah tersebut antara gue dan bank, yang mana gue merasa sudah melakukan pembayaran setiap bulannya. Namun pihak bank mengatakan ada miss yang membuat pihak bank ingin melabeli rumah tersebut,” terangnya.
Menurut Okin, keputusan menjual rumah diambil sebagai jalan keluar dari konflik yang berkepanjangan.
“Karena semua masalah ini sudah terlalu panjang dan terlalu jauh, gue memutuskan untuk menjual rumah tersebut karena gue merasa banyak timbulnya perselisihan. Dari awal gue sudah menawarkan untuk membalik nama, namun tidak pernah terjadi. Harapan gue, hanya ingin menjalankan hubungan baik demi keberlangsungan hidup anak-anak tanpa ada sangkut paut mengenai harta benda. Setelah pembahasan mengenai penjualan rumah, pada hari Selasa kami sudah menemukan titik tengah mengenai rumah tersebut.”
Terkait polemik kunjungan ke rumah, Okin menyebut hal itu sudah diinformasikan sebelumnya.
“Pada hari Rabu malam, gue menginfokan kepada ybs. bahwa pada hari Kamis siang akan ada orang datang untuk mengecek kondisi rumah. Namun pada hari Kamis, muncullah narasi dari ybs. bahwa tanpa babibu ada orang ingin mengukur rumah. Yang mana sebenarnya, ybs. sudah mengetahui mengenai akan terjadi pengecekan bukan pengukuran. Dan mungkin ybs. beranggapan bahwa rumah tersebut harus dikosongkan pada hari itu juga, padahal tidak. Semua penjualan pasti melewati banyak proses terlebih dahulu.”
Okin menegaskan tetap mengakui adanya kekurangan di masa lalu, namun tidak sepakat jika dirinya disebut tidak menafkahi anak.
“Terlepas dari semua yang sudah gue jelaskan, gue mengakui memang ada beberapa kali kelalaian pada tahun 2023 dalam membayarkan kewajiban dikarenakan pada saat itu gue sedang menghadapi case dalam bisnis. Tapi rasanya enggak fair kalau ybs. berstatement seakan-akan gue enggak kasih nafkah. Dan untuk uang mut’ah-nya sendiri, tidak pernah terucap dari mulut gue untuk tidak membayarkan, dan ybs. pun tahu mengenai hal itu.”
Ia juga menegaskan skema pembayaran KPR sebelumnya dimaksudkan sebagai bagian dari pemenuhan nafkah.
“Win-win solution yang ybs. berikan untuk menukar rumah, bukan sebagai alasan gue untuk tidak menafkahi anak-anak lagi. Karena nominal KPR yang harus dibayarkan untuk rumah tersebut sama dengan nominal nafkah, jadi gue alokasikan uang nafkah dengan membayarkan KPR. Setelah KPR selesai, gue akan melanjutkan kembali kewajiban gue untuk nafkah. Begitu rencana yang sudah disusun, tapi ternyata semakin ke sini plan tersebut tidak tereksekusi dengan baik.”
Di akhir klarifikasinya, Okin mempertanyakan narasi yang berkembang di publik.
“Yang gue bingung, kenapa narasi yang ditulis seakan-akan ybs. marah mengetahui soal penjualan rumah? Sedangkan beberapa hari lalu gue dan ybs. sudah menemukan titik tengah mengenai rumah tersebut,” tutupnya..
(TribunNewsmaker.com/ TribunSumsel)