Iran peringatkan kapal yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin akan dihancurkan

Photo of author

By AdminTekno

Angkatan Laut Iran telah mengeluarkan peringatan keras kepada kapal-kapal di perairan Teluk. Mereka menegaskan bahwa setiap kapal yang berupaya melintasi Selat Hormuz tanpa izin akan “ditargetkan dan dihancurkan”, sebuah konfirmasi yang diterima BBC Verify dari perusahaan pialang pelayaran SSY.

Peringatan ini muncul di tengah kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan tersebut mensyaratkan Iran untuk membuka lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan telah mengumumkan “selama periode dua minggu, jalur pelayaran aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan”. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda; sejak gencatan senjata disepakati, hanya sedikit kapal yang benar-benar berani melintasi selat strategis tersebut.

Selat Hormuz sendiri telah menjadi titik sentral konflik antara AS-Israel dengan Iran, terutama setelah Teheran memblokade jalur perairan vital ini yang lebarnya hanya sekitar 33 km pada titik tersempitnya.

Dampak dari situasi di Selat Hormuz selama lima pekan terakhir telah mengguncang perekonomian global. Harga minyak mentah melonjak drastis, mengingat sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas alam cair dunia diangkut melalui selat ini. Tidak hanya itu, kapal-kapal pembawa bahan kimia esensial untuk produksi mikrocip, farmasi, dan pupuk juga sangat bergantung pada jalur ini.

Meskipun harga minyak menunjukkan penurunan pasca-pengumuman gencatan senjata, para analis pelayaran menyuarakan kekhawatiran atas lalu lintas maritim yang masih sangat terbatas di Selat Hormuz. “Sebagian besar perusahaan pelayaran ingin mendapatkan rincian dan jaminan tentang apa yang sebenarnya diperlukan untuk melintas, dan rincian tersebut belum tersedia,” ungkap Lars Jensen dari Vespucci Maritime kepada BBC.

Berdasarkan analisis BBC Verify terhadap data pelacakan kapal dari MarineTraffic, tercatat hanya tiga kapal kargo—yakni NJ Earth, Daytona Beach, dan Hai Long 1—yang berhasil melintasi Selat Hormuz dari Selasa (07/04) malam, ketika gencatan senjata diumumkan, hingga Rabu (08/04) pukul 20.00 WIB. Angka ini tergolong sangat rendah dibandingkan rata-rata 138 kapal per hari yang melintas sebelum konflik dimulai pada 28 Februari.

BBC masih belum dapat memastikan apakah perlintasan ketiga kapal tersebut pada Rabu (08/04) merupakan hasil langsung dari gencatan senjata ataukah perjalanan yang memang telah direncanakan sebelumnya. “Masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah hal ini mencerminkan pembukaan kembali yang lebih luas didorong gencatan senjata atau pengecualian yang telah disetujui sebelumnya,” jelas Ana Subasic dari perusahaan analis pelayaran Kpler. Senada dengan itu, Jensen menambahkan, “Belum ada yang benar-benar berubah.” Menurutnya, diperlukan waktu agar para awak kapal kembali merasa percaya diri untuk melintasi Selat Hormuz dengan aman.

Baca juga:

  • Iran dan AS sepakat gencatan senjata bersyarat selama dua minggu
  • Kapal tanker Malaysia melintasi Selat Hormuz – ‘Iran tidak melupakan teman’
  • Dari plastik sampai kosmetik – Harga barang di Indonesia mulai naik imbas konflik Timur Tengah

Richard Meade, pemimpin redaksi Lloyd’s List, turut mengutarakan pandangan serupa. Ia menekankan bahwa situasi saat ini masih “sangat berbahaya” bagi para pemilik kapal, yang masih menghadapi ketidakpastian luar biasa. “Kami tahu Iran pada dasarnya masih mengendalikan selat, dan anggapannya pemilik kapal masih perlu meminta izin dari IRGC [Korps Garda Revolusi Islam]… dan bagaimana mekanismenya masih belum jelas,” paparnya.

Analisis BBC Verify terhadap rute yang diambil oleh ketiga kapal tersebut menunjukkan bahwa mereka memilih jalur utara melalui selat, mendekati garis pantai Iran, dan memasuki perairan teritorialnya. Hal ini berbeda dengan praktik sebelum konflik, di mana kapal-kapal umumnya mengambil rute yang lebih ke selatan, melalui bagian tengah jalur perairan.

Hampir 800 kapal terjebak

Jika nantinya kapal-kapal kembali berani melintasi Selat Hormuz, Richard Meade memperkirakan bahwa kapal tanker bermuatan penuh akan menjadi yang pertama. “Sudah ada hampir 800 kapal yang terjebak di sana selama beberapa minggu. Sebagian besar kini bermuatan penuh, sehingga prioritasnya adalah mengeluarkan mereka,” jelasnya.

Durasi gencatan senjata yang terbatas—hanya dua minggu—juga menimbulkan ketidakpastian bagi perusahaan pelayaran, kata Niels Rasmussen, analis pelayaran dari BIMCO. “Saya ragu akan ada arus besar kapal masuk ke Teluk… karena mereka tidak ingin mengambil risiko terjebak setelah periode dua minggu itu berakhir,” tuturnya. Ketidakpastian lain yang disoroti oleh Thomas Kazakos, sekretaris jenderal International Chamber of Shipping, adalah kemungkinan adanya ranjau laut. “Kami perlu memastikan ada konfirmasi yang jelas bahwa keselamatan navigasi bagi kapal dan para pelaut telah disepakati,” tegasnya kepada BBC Verify.

Pembayaran tol

Di luar kekhawatiran tersebut, ada kemungkinan kapal-kapal harus melakukan pembayaran kepada Iran untuk dapat melintasi Selat Hormuz secara aman. Laporan awal mengindikasikan bahwa pembayaran tol mungkin menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata. “Posisi negosiasi Iran tampaknya adalah bahwa kapal-kapal perlu membayar tol untuk melintasi selat dan perusahaan pelayaran juga akan ragu untuk membayar tol tersebut,” kata Jensen.

Beberapa negara, termasuk India, Malaysia, dan Filipina, telah mengajukan permintaan kepada Iran agar kapal-kapal mereka diizinkan melintas. Namun, gagasan pembayaran tol dapat menimbulkan kerumitan bagi negara dan perusahaan pelayaran. Pasalnya, tindakan tersebut “mungkin justru melanggar sebagian sanksi AS terhadap Iran yang akan menimbulkan dampak lain bagi perusahaan pelayaran,” tambah Jensen.

James Turner, seorang pengacara pelayaran dari Quadrant Chambers, menjelaskan kepada BBC Verify bahwa beberapa tahun lalu, AS menerapkan sanksi ekonomi terhadap pemerintah Iran, sejumlah individu, dan entitasnya. Pihak yang melakukan transaksi pembayaran kepada individu, perusahaan, dan organisasi dalam daftar sanksi tersebut akan dikenai pelanggaran pidana, kecuali AS membuat pengecualian khusus.

Meskipun lalu lintas kapal di Selat Hormuz belum kembali normal, pasar global memberikan reaksi positif setelah pengumuman gencatan senjata. Harga minyak Brent turun sekitar 13% menjadi US$94,80 per barel, sementara minyak yang diperdagangkan di AS turun lebih dari 15% menjadi US$95,75. Namun, Meade mengingatkan agar ekspektasi tidak terlalu tinggi. “Harga minyak merespons karena ini merupakan pergerakan arah yang positif, tetapi saya tidak berpikir hal itu menunjukkan bahwa kita akan segera melihat 20% energi global mengalir kembali melalui jalur tersebut pada tingkat normal,” pungkasnya.

Reportase tambahan oleh Tamara Kovacevic

  • Apa yang terjadi pada krisis minyak tahun 1970-an, dan apakah kita sedang menuju situasi yang lebih buruk?
  • Harga BBM subsidi tidak naik sepanjang 2026, APBN diprediksi hanya mampu menahan ‘dalam hitungan minggu’
  • Iran perbolehkan kapal Malaysia, Thailand, dan lima negara lain melintasi Selat Hormuz, bagaimana dengan kapal Indonesia?
  • ‘Semua kendaraan harus tenaga listrik’ – Dua kendala besar mewujudkan ide Presiden Prabowo

Leave a Comment