
Setelah menempuh perjalanan selama 10 hari dalam sebuah misi bersejarah mengelilingi Bulan, empat astronaut misi Artemis II kembali ke Bumi pada Jumat (10/04) waktu setempat. Upaya kembali ke Bumi terbilang rumit dan berbahaya karena mereka harus memasuki atmosfer dengan kecepatan hampir 35 kali kecepatan suara.
Pada pukul 20:07 malam (waktu Pantai Timur AS), kapsul Orion melakukan pendaratan di Samudra Pasifik, di lepas pantai San Diego, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan NASA.
Badan Antariksa Amerika Serikat itu mengatakan pendaratan tersebut berlangsung “sesuai buku panduan”.
Dalam siaran langsung, terdengar seorang penyiar mengatakan bahwa keempat astronaut berada “dalam kondisi sangat baik”.
“Semua berada dalam kondisi yang sangat baik,” katanya.
Seorang petugas medis yang memasuki kapsul melaporkan bahwa keempat astronaut berada “dalam kondisi hijau”.
“‘Hijau’, artinya mereka merasa sangat baik, bukan warna kulit mereka,” canda Megan Cruz, yang berbicara atas nama NASA dari USS John P. Murtha, kapal yang bertanggung jawab atas upaya penjemputan para astronaut.
Kepulangan misi Artemis II dimulai pada pukul 14:53 siang dengan menyalakan pendorong selama delapan detik. Manuver ini menyesuaikan lintasan wahana dengan sangat presisi untuk menjamin penurunan yang aman.
Tak lama setelah pukul 19:30 malam, kapsul awak terpisah dari modul layanan.
“Selama 10 hari terakhir, modul layanan berbentuk silinder telah menjadi tulang punggung misi ini,” jelas Pallab Ghosh, koresponden Sains BBC.
“Mesinnya melakukan manuver yang mengirim Orion pada lintasan mengelilingi Bulan. Panel suryanya menghasilkan energi yang menjaga awak tetap hidup dan sistem propulsinya mendorong wahana ke lintasan kembali ke Bumi melalui 230.000 mil ruang hampa,” tambahnya.

Fase paling kritis dari kepulangan ini dimulai pada pukul 19:53 malam.
Diperkirakan gesekan aerodinamis membuat para astronaut mengalami gaya gravitasi hingga 3,9 G, sementara panas yang sangat tinggi membentuk lapisan plasma sekitar 1.650°C di sekeliling kapsul.
Saat melesat menembus atmosfer, perisai panas Orion terpapar suhu sekitar 2.700°C, kira-kira setengah dari suhu permukaan Matahari.

Perisai ini memutus semua komunikasi radio. Pusat kendali misi kehilangan kontak sepenuhnya dengan wahana selama sekitar enam menit.
Pada pukul 20:03, sebuah sistem otomatis mulai mengembangkan parasut yang secara bertahap mengurangi kecepatan penurunan hingga sekitar 32 kilometer per jam sebelum menyentuh air.
Pendaratan di laut terjadi pada pukul 20:07 malam, sesuai dengan rencana.
Sebuah tim militer dan penyelamat menunggu para astronaut di Samudra Pasifik.
Begitu mendarat di laut, kapsul itu didekati perahu-perahu dengan personel khusus guna membantu para astronaut keluar dari kapsul.
Selanjutnya, mereka dipindahkan dengan helikopter ke kapal amfibi USS John P. Murtha.
Akhir dari sebuah perjalanan bersejarah
Pendaratan di Samudra Pasifik mengakhiri perjalanan selama 10 hari dan lebih dari 1,1 juta kilometer.
Astronaut Amerika Serikat: Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, serta warga Kanada Jeremy Hansen melakukan perjalanan lebih jauh ke luar angkasa dibandingkan manusia mana pun dalam sejarah.

Kedatangan kapsul ini menandai berakhirnya penerbangan berawak ke Bulan yang pertama dalam lebih dari setengah abad.
Keempat penjelajah ini membuka jalan bagi kembalinya umat manusia ke permukaan Bulan di masa depan.
Bagaimana rasanya masuk atmosfer Bumi?
Helen Sharman, astronaut pertama UK
Saya tahu apa yang dialami awak Artemis II. Setelah berhari-hari melayang tanpa berat badan, masuk kembali ke atmosfer bagi saya merupakan cara yang brutal untuk kembali ke kondisi normal.
Ketika kapsul kami menghantam bagian atas atmosfer, keheningan lembut orbit berubah menjadi gemuruh yang semakin keras. Kapsul mulai terguncang, gaya G meningkat dan saya merasa tertekan ke kursi saya.
Saya ingat mencoba mengangkat buku panduan masuk kembali kami dan terkejut betapa beratnya buku itu; bahkan menggerakkan jari kelingking memerlukan usaha.
Setiap gerakan kecil tiba-tiba membutuhkan upaya keras, seolah-olah gravitasi “dinyalakan” kembali.
Meski begitu, saya terlalu fokus untuk merasa takut: mata tertuju pada layar, menunggu setiap tahap tercapai, memercayai perisai panas yang tidak bisa saya lihat.
Saya tahu itu akan berat, tetapi saya juga tahu itu hanya akan berlangsung beberapa menit. Parasut terbuka dan pendaratan berjalan mulus.
- Mengapa banyak negara berambisi mengirim orang ke Bulan?
- Apollo-Soyuz: Momen bersejarah ketika astronaut AS dan Uni Soviet berjabat tangan di luar angkasa
- Kisah ilmuwan yang membantu China menjadi negara adidaya setelah dideportasi AS
- Mengapa banyak negara berambisi mengirim orang ke Bulan?
- Bagaimana dua astronaut menghabiskan waktu selama sembilan bulan terlantar di luar angkasa?
- Fotografer amatir berhasil memotret foto Matahari yang menakjubkan