Perundingan gagal total Iran tolak tuntutan tak masuk akal AS: Negosiasi 21 jam berakhir buntu

Photo of author

By AdminTekno

Ringkasan Berita:

  • Perundingan 21 jam Iran dan Amerika Serikat berakhir buntu akibat perbedaan tajam soal isu nuklir.
  • Iran menolak tuntutan AS yang dianggap tidak masuk akal meski negosiasi berjalan intensif.
  • AS mengklaim telah memberi tawaran terakhir, sementara ketegangan di Timur Tengah kian meningkat.

Kita Tekno – Perundingan tingkat tinggi antara Iran dan Amerika Serikat kembali berakhir tanpa hasil setelah berlangsung maraton selama 21 jam di Islamabad, Pakistan.

Delegasi Teheran secara tegas menolak sejumlah tuntutan Washington yang dinilai tidak masuk akal dan merugikan kepentingan nasional Iran.

Dalam proses negosiasi yang berlangsung intens tersebut, kedua pihak berupaya mencari titik temu terutama terkait program nuklir Iran yang menjadi isu utama.

Namun perbedaan prinsip yang terlalu tajam membuat dialog berjalan alot dan akhirnya menemui jalan buntu tanpa kesepakatan.

Pihak Amerika Serikat mengklaim telah mengajukan “tawaran terbaik dan terakhir”, tetapi tidak mendapat komitmen tegas dari Iran.

Sementara itu, Iran menyebut telah bernegosiasi secara maksimal, namun sikap keras AS menjadi penghalang utama tercapainya kesepakatan damai.

Kebuntuan ini semakin memperpanjang ketegangan di kawasan Timur Tengah yang sebelumnya sudah memanas akibat konflik militer.

Dengan gagalnya perundingan ini, harapan meredakan konflik dalam waktu dekat pun kembali memudar, membuka kemungkinan eskalasi yang lebih besar ke depan.

Seperti dikertahui, stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB menyatakan, tuntutan Amerika Serikat tidak masuk akal.

Negosiasi untuk mengakhiri perang pun kembali menemui jalan buntu.

“Delegasi Iran bernegosiasi secara terus-menerus dan intensif selama 21 jam untuk melindungi kepentingan nasional rakyat Iran,” kata IRIB dalam laporannya, dikutip dari AFP, Minggu (12/4/2026).

“Meskipun ada berbagai inisiatif dari delegasi Iran, tuntutan yang tidak masuk akal dari pihak AS menghambat kemajuan negosiasi. Dengan demikian, negosiasi berakhir,” sambungnya.

AS beri tawaran terakhir untuk Iran

Sementara itu, Wakil Presiden AS, JD Vance telah meninggalkan negosiasi setelah memberikan Teheran tawaran terakhir dan terbaik.

“Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan tawaran terakhir dan terbaik kami. Kita akan lihat apakah Iran menerimanya,” kata Vance kepada wartawan setelah 21 jam pembicaraan di ibu kota Pakistan, Islamabad.

Menurutnya, inti perselisihan tersebut adalah tentang senjata nuklir. 

Washington berupaya mendapatkan komitmen dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Akan tetapi, ia mengeklaim belum melihatnya selama perundingan.

Kendati demikian, Vance mengisyaratkan masih memberi waktu kepada Iran untuk mempertimbangkan tawaran dari AS.

“Faktanya, kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mendapatkan senjata nuklir dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat memperoleh senjata nuklir,” jelas dia.

“Kami belum melihat hal itu. Kami berharap akan melihatnya,” sambungnya.

Kendati demikian, Vance mengisyaratkan masih memberi waktu kepada Iran untuk mempertimbangkan tawaran dari AS.

Dalam pidato singkatnya di sebuah hotel mewah di Islamabad tempat kedua pihak bertemu, Vance tidak menyoroti perbedaan pendapat mengenai isu penting lainnya, yaitu pembukaan kembali Selat Hormuz.

Trump tak peduli hasil negosiasi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menirukan gaya menembakkan senjata saat berbicara tentang perang Iran di ruangan konferensi pers Gedung Putih, Washington DC, Senin (6/4/2026).(AFP/KENT NISHIMURA)

Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengaku tidak peduli tentang hasil pembicaraan AS-Iran di Pakistan.

Dia menegaskan, AS telah keluar sebagai pemenang dari perang tersebut.

“Apakah kita mencapai kesepakatan atau tidak, itu tidak berpengaruh bagi saya. Alasannya adalah karena kita telah menang,” jelas dia.

“Kami sedang dalam negosiasi yang sangat mendalam dengan Iran. Kami akan menang apa pun yang terjadi. Kami telah mengalahkan mereka secara militer,” sambungnya.

Amerika Serikat juga telah mengirim kapal perang Angkatan Laut ke Selat Hormuz pada Sabtu (11/4/2026).

Menurutnya, pengerahan kapal perang itu bertujuan untuk membersihkan ranjau laut.

“Kita punya kapal penyapu ranjau di sana. Kita sedang menyisir selat itu,” kata Trump.

“Kita akan membuka selat itu meskipun kita tidak menggunakannya, karena ada banyak negara lain di dunia yang menggunakannya, tetapi mereka takut, lemah, atau pelit,” sambungnya.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

Leave a Comment