Latar Belakang
Zanzibar terletak di perairan biru kehijauan Samudra Hindia, tepatnya di pantai lepas Afrika Timur Tanzania modern. Di tahun 1498, Vasco da Gama yang merupakan penjelajah terkenal berasal dari Portugis menjadi orang Eropa pertama yang menginjakkan kaki di Zanzibar dan kemudian beberapa tahun kemudian kepulauan ini menjadi bagian dari Kekaisaran Portugis. Para penguasa ini mendirikan sistem pemerintahan sultan Zanzibar yaitu para pedagang Swahili elit setempat.
Pada abad ke-19 merupakan abad tersukses bagi Zanzibar, sebab pada abad ini mereka mengalami kemakmuran dalam perekonomian. Salah satu sebab kemakmuran ini ialah iklim yang hangat dan cerah sehingga mereka dapat mengekspor hasil pertanian cengkeh, rempah-rempah, dan lain sebagainya. Perkebunan cengkeh menggunakan tenaga kerja budak, hal ini memberikan efek terciptanya pasar budak terbesar pada masanya. Para pedagang dari berbagai penjuru dunia datang ke Zanzibar untuk mencari budak serta sumber daya yang langka dan berharga di kalangan konsumen Eropa.
Zanzibar sebagai koloni Inggris secara resmi berawal dari Perjanjian Heligoland-Zanzibar. Perjanjian ini memunculkan konflik kepentingan antara elit lokal dan kebijakan koloni Inggris. Disusul dengan Perjanjian Inggris-Jerman pada tahun 1886, yang menetapkan lingkup pengaruh regional dan telah menyekepati beberapa hal yaitu: kedua kekuatan sepakat untuk tidak saling menganggu lingkup pengaruh masing-masing wilayah.
Inggris mendukung wilayah sewa Dar-es-Salaam dan Pangani yang dimana kedua wilayah tersebut dikendalikan oleh Sultan Bargash bin Said. Sebagai imbalannya, Jerman setuju untuk mengakui kedaulatan Zanzibar. Sebelum kolonisasi secara resmi, Zanzibar telah memiliki status sebagai protektorat Inggris dan salah satunya yang terpinting adalah Inggris diberikan hak untuk memveto calon-calon Sultan.
Berlangsungnya Perang Anglo-Zanzibar
Perang Anglo-Zanzibar berawal ketika terjadinya perebutan suksesi posisi sultan di Zanzibar setelah kematian Sultan Hamad bin Thuwaini pada 25 Agustus 1896, yang merupakan Sultan Zanzibar pro-Inggris. Otoritas Inggris turun tangan dan menunjuk serta mendesak calon sultan baru yaitu Hamad bin Muhammed. Apabila sultan baru tidak segera ditunjuk, mereka khawatir sultan baru Zanzibar berasal daru aliansi Khalid bin Barghash (kontra dengan Inggris) dengan Jerman dan posisinya yang pro-perbudakan.
Khalid bin Barghash meresponnya dengan mengumumkan dirinya sebagai Sultan Zanzibar baru tanpa persetujuan Inggris. Khalid merupakan simbol penolakan terhadap campur tangan Eropa dan mendapatkan dukungan dari sebagian penduduk Zanzibar.

Kekuasaan Britania Raya pada abad ke-19 dan dominasi maritim di dunia, Inggris menjadi negara pertama yang menggunakan diplomasi kapal perang untuk mencapai kesepakatan nasional. Otoritas tersebut digunakan pula di Zanzibar ketika pergantian sultan yang tidak menguntungkan pihak Inggris. Dengan dukungan pemerintah Yang Mulia Ratu untuk penggunaan kekuatan militer untuk menurunkan Khalid bin Bargash di Zanzibar yang telah diberi ultimatum namun ditolaknya, Perang Anglo-Zanzibar telah dimulai.
Laksamana Muda Harry Rawson, Brigadir Jendral Lyod Mathews, dan Letnan Arthur Edward Harington Raikes memipin pasukan Angkatan Laut Kerajaan Inggris dalam peperangan ini. 150 marinir dan pelaut Inggris berada di atas lima kapal penjelajah perang: HMS Philomel, HMS St. George, dan 3 kapal perang kecil: HMS Racoon, HMS Thrush, dan HMS Sparrow, serta pasukan 900 prajurit askari.
Pasukan sultan dipimpin oleh Khalid bin Bargash dan pasukan yang terdiri dari sekitar 2800 orang, dilengkapi senapan dan senjata kuno bersama dengan 700 tentara askari. Artileri mereka terdiri dari: 4 meriam artileri, satu baterai pantai, beberapa senapan mesin Maxim, satu senapan Gatling, satu mariam perunggu abad ke-17, dan dua meriam lapangan 12 pon, serta kapal induk HHS Glasgow, 2 perahu, dan sebuah kapal layar kayu.
Strategi Khalid bin Barghash dalam Perang Anglo-Zanzibar ini dengan menggunakan teknik membentengi diri dan pasukannya di istana. Kapten Saleh dari pengawal istana menempatkan artileri dan senapan mesin di kapal-kapal Inggris. Setelah berakhirnya ultimatum pada pukul 09.00, pasukan Inggris mulai menyerang dengan peluru berdaya ledak tinggi dimulai pada pukul 09.02. Dalam beberapa menit. Pasukan Angkatan Laut Kerajaan Inggris melancarkan serangan besar-besaran dengan menggunakan 500 peluru, 4.100 tembakan senapan mesin, dan 1.000 tempakan senapan ditembakkan ke Istana Sultan Zanzibar.
Artileri pertahanan Khalid bin Barghas telah lumpuh, HSS Glasgow hancur terkena tembakan dari HMS St. George dan mengakibatkan Istana Sultan Zanzibar hancur. Sekitar pukul 09.37 hingga 09.45 pagi, Khalid bin Barghas akhirnya menyerah sebab pasukan sultan menderita 500 korban jiwa, sedangkan pasukan Inggris hanya satu pelaut yang terluka secara tidak sengaja.