Apa yang akan terjadi saat ini setelah perundingan perdamaian Iran-AS gagal capai kesepakatan?

Photo of author

By AdminTekno

Berakhirnya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tanpa kesepakatan di ibu kota Pakistan, Islamabad, kembali memunculkan tanda tanya besar tentang kemungkinan tercapainya perdamaian yang langgeng antara kedua negara.

Menjelang perundingan, para pejabat pemerintah Pakistan sempat melontarkan nada optimistis, dengan menegaskan bahwa—berbeda dengan banyak negara lain —mereka memiliki kepercayaan dari kedua belah pihak.

Ketua delegasi AS, Wakil Presiden JD Vance, juga menunjukkan sikap optimistis.

Namun, setelah perundingan yang berlangsung hingga Minggu dini hari, dia mengumumkan bahwa pembicaraan tersebut gagal mencapai kesepakatan.

Perbedaan mendasar terkait program nuklir Iran, di antara sejumlah ganjalan utama lainnya, dilaporkan menjadi penyebab runtuhnya perundingan tersebut.

Lantas, di mana posisi konflik ini saat ini, dan opsi apa saja yang tersisa bagi para aktor utama dalam perang tersebut?

‘Perundingan tidak bisa cuma digelar sehari’

Koresponden Internasional Utama BBC, Lyse Doucet, menilai bahwa perundingan di Islamabad merupakan pembicaraan pada tingkat tertinggi antara Iran dan AS sejak Revolusi Iran tahun 1979.

“Diplomasi semacam ini tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu sehari,” ujar Doucet, seraya menambahkan bahwa sejak awal sudah terlihat jelas bahwa proses perundingan ini tidak akan berlangsung cepat.

Menurut Doucet, Presiden AS Donald Trump secara konsisten menggunakan bahasa yang keras: “‘Iran telah dikalahkan. Iran harus menyerah”.

JD Vance mencerminkan nada itu dengan mengatakan Teheran harus menyetujui syarat-syarat kami.

Baca juga:

  • Mengapa ancaman Trump memblokade Selat Hormuz sangat beresiko dan tidak mengubah keadaan?
  • Iran dan AS gagal capai kesepakatan – Lima hal yang menjadi ganjalan dalam negosiasi
  • Siapa Mohammad Bagher Ghalibaf, kepala tim juru runding Iran dalam perundingan dengan AS?

Sikap ini berangkat dari fakta bahwa, jika melihat angka-angkanya, Iran telah mengalami kerugian militer yang signifikan dan banyak pemimpin puncaknya tewas akibat pembunuhan.”

Namun, Iran kecil kemungkinan akan tunduk pada ultimatum semacam itu dan tidak datang ke Islamabad dengan kesiapan untuk menyerah, tegas Doucet.

“Iran datang ke Islamabad bukan dengan keyakinan bahwa mereka telah kalah dalam perang ini. Justru sebaliknya, mereka tiba dengan perasaan bahwa mereka sedang memenangkan konflik tersebut. Iran percaya posisinya kuat. Mereka masih mampu melakukan serangan balasan dan telah berhasil memanfaatkan Selat Hormuz sebagai senjata strategis.”

Jadi sekarang bagaimana?

Apakah kedua pihak akan kembali ke ibu kota masing-masing dan memberikan ruang lebih besar bagi diplomasi? Ataukah Presiden AS Donald Trump akan memutuskan bahwa saatnya telah tiba untuk meningkatkan eskalasi?

Nicholas Hopton—mantan duta besar Inggris untuk Iran—menilai ada sejumlah sinyal positif yang dapat dipetik dari apa yang terjadi di Islamabad.

“Mereka tampaknya mendekati pembicaraan ini secara konstruktif di kedua belah pihak,” ujar Hopton.

“Perundingan berlangsung dalam waktu yang sangat panjang. Dan cara pembicaraan itu dijalankan memungkinkan diskusi teknis yang cukup mendalam, sekaligus pernyataan-pernyataan yang lebih bersifat umum.”

Menurutnya, meskipun tuntutan “maksimalis” disampaikan oleh kedua pihak di Islamabad dan jarak di antara mereka masih lebar, baik AS maupun Iran tampak sama-sama memperkirakan akan adanya perundingan lanjutan.

Baca juga:

  • Trump peringatkan Iran soal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz – ‘Itu bukan kesepakatan kita’
  • Kapal tanker Malaysia melintasi Selat Hormuz – ‘Iran tidak melupakan teman’
  • Dari plastik sampai kosmetik – Harga barang di Indonesia mulai naik imbas konflik Timur Tengah

“Kesepakatan ini—jika pada akhirnya memang bisa dicapai—kemungkinan akan memiliki unsur-unsur baru dan akan lebih kompleks dibandingkan perjanjian tahun 2015,” kata Hopton, merujuk pada kesepakatan nuklir yang dicapai Iran dengan pemerintahan Presiden AS saat itu, Barack Obama.

Kasra Naji, koresponden khusus BBC News Persia, juga menilai bahwa “belum semua harapan pupus”.

“Kepala delegasi Iran dalam perundingan tersebut, Mohammad Bagher Ghalibaf, menulis di akun X bahwa kegagalan pembicaraan kali ini disebabkan pihak AS tidak mampu membangun kepercayaan delegasi Iran ‘dalam putaran perundingan ini’, sekaligus membuka peluang untuk perundingan lanjutan,” tulis Naji.

Dan memang, BBC memperoleh informasi bahwa pembicaraan tidak langsung antara delegasi Iran dan AS tetap berlanjut melalui Pakistan, meskipun perundingan formal telah berakhir.

“Hal ini belum dikonfirmasi secara resmi baik oleh pihak AS maupun Iran, dan seperti yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, selalu sulit untuk memahami secara persis bentuk diskusi apa pun yang berlangsung melalui para perantara,” ujar Azadeh Moshiri dari BBC di Islamabad.

“Namun, hal ini dapat menunjukkan bahwa pintu bagi upaya mediasi dan jalur komunikasi belakang layar belum sepenuhnya tertutup.”

Lantas, apakah opsi eskalasi oleh Washington kini disingkirkan setidaknya untuk sementara, dengan Trump memilih pendekatan yang lebih sabar dan strategis?

Sejumlah pakar menjawab ya. Mereka menilai Iran masih memiliki daya tawar terhadap AS—terutama melalui gangguan berkepanjangan terhadap perdagangan global, kelangsungan hidup kepemimpinan Iran beserta jaringan proksinya, serta keberadaan cadangan uranium yang telah diperkaya.

Salah satu kantor berita Iran, Tasnim, mengutip seorang sumber yang menyatakan bahwa, “Iran tidak terburu-buru untuk kembali berunding.” Sumber tersebut menambahkan bahwa, “bola kini berada di tangan AS.”

Seperti yang dikemukakan Koresponden Asia Selatan BBC, Azadeh Moshiri: “Pelajaran besar dari situasi ini adalah bahwa penggunaan semata-mata kekuatan tidak berhasil mendorong Iran ke posisi di mana mereka merasa harus memberikan konsesi.”

Laporan-laporan lain menyebutkan bahwa Trump tengah mempertimbangkan pemberlakuan blokade laut terhadap Iran menyusul runtuhnya perundingan— langkah yang serupa dengan pendekatan yang pernah diterapkan menjelang penggulingan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari lalu.

Barangkali mengisyaratkan hal tersebut, pada akhir pekan saat perundingan masih berlangsung, seorang pejabat militer senior AS merilis pernyataan tentang pembentukan koridor maritim yang aman—melalui upaya pembersihan jalur aktif— untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Namun, apakah langkah itu akan atau bisa dilakukan bersamaan dengan dimulainya kembali pengeboman AS terhadap Iran, masih belum jelas.

Pada akhirnya, Presiden AS perlu menyadari dua hal, kata Koresponden Internasional Utama BBC, Lyse Doucet. “Pertama, [kembalinya perang] akan sangat tidak populer di dalam negeri.”

Trump, menurut Doucet, menyadari dampak politik domestik dari konflik global yang berkepanjangan—terutama jika biaya hidup terus meningkat ketika pemilu paruh waktu (midterm) pada November kian mendekat.

Data indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) terbaru—yang mengukur harga barang dan jasa—tercatat sebagai yang tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir, sebuah indikator yang mengkhawatirkan mengenai apa yang mungkin terjadi ke depan.

“Kedua, itu tidak akan berhasil,” tambah Doucet. “Iran akan melawan.”

Laporan tambahan oleh BBC News.

Leave a Comment