
Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya menanggapi isu pertemuan antara Ketua Umum NasDem Surya Paloh dengan Presiden sekaligus Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.
Mencuat kabar di publik bahwa pertemuan yang terjadi di Hambalang pada pertengahan Februari lalu itu membahas beberapa hal, salah satunya adalah rencana ‘merger’ atau penggabungan partai.
Willy pun tak membantah adanya pertemuan di antara keduanya. Dia menyebut pertemuan kedua Ketua Umum itu sebagai hal yang wajar dalam dinamika politik.
“Wajar saja, dua sahabat bertemu. Teman-teman bisa bayangkan ketika pertama kali Pak Prabowo datang ke Gondangdia (NasDem Tower), kami diskusi 6 jam tentang banyak hal. Di mana ada hal yang lebih akrab, yang lebih intimate untuk bisa berdialektika seperti itu?” kata Willy.
“Seorang Surya Paloh dengan seorang Pak Prabowo waktu itu bisa berdiskusi secara equal tentang banyak hal. Saya dan kawan-kawan waktu itu yang di second layer-nya bisa menerjemahkan dalam kerangka politik kerja sama yang seperti apa,” lanjutnya.
Ia menilai, pertemuan semacam itu justru produktif. Menurutnya, hubungan personal yang baik antar elite politik dapat membuka ruang dialog yang lebih konstruktif.
“Itu justru lebih produktif. Ini narasinya terlalu negatif tone. Imajinasi ber-republik-nya nggak ada. Imajinasi konflik, rusuh. Harusnya kita mengedepankan, memajukan imajinasi ber-republik. Apa imajinasi ber-republik itu? Political Block. Dan itu belum pernah di-exercise,” kata Ketua Komisi XIII DPR itu.

Willy juga menyinggung rekam jejak Surya Paloh dalam membangun komunikasi lintas partai, termasuk melalui inisiatif silaturahmi kebangsaan.
“Pak Surya ini, teman-teman bisa mengonfirmasi, dulu ketika sama Pak TK (Taufik Kemas) bikin Silaturahmi Kebangsaan, PDIP dan Golkar waktu itu. Itu keliling Indonesia ke mana-mana. Apakah eksistensi Golkar terganggu? Apakah eksistensi PDIP terganggu? Kagak. Ini orang-orang nih aduh, sembrono nih. Nggak baca sejarah, nggak tahu apa yang dimaksud gitu. Jadi Political Exercise,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dorongan untuk membangun komunikasi politik seperti itu berangkat dari kondisi politik yang dinilai masih cenderung terfragmentasi.
“Itu motivasi yang saya bilang tadi. Kita cuma punya referensi membelah diri, berpecah. Kita tidak punya referensi bagaimana bekerja bersama. Bekerja bersama apakah harus satu? Tidak. Satu, dalam objektif,” kata Willy.
Willy menegaskan, gagasan yang disampaikan Surya Paloh bukanlah penggabungan partai, melainkan konsep political block.
“Apa yang ditawarkan oleh seorang Surya Paloh adalah Political Block. Blok politik, bukan merger,” ujar Willy di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/4).
Menurutnya, kerja sama politik tidak harus meleburkan identitas partai, melainkan menyatukan tujuan bersama.
“Kayak gini, saya ini orang yang terbiasa, kalian lihat komite aksi, kan apakah itu menegasikan organisasi-organisasi pendukungnya? Kan tidak Bos. Lah masa orang nggak paham hal-hal begitu. Itu political exercise,” tandas dia.