‘Super flu’ di Indonesia tercatat ada 62 kasus, apa saja gejalanya dan apakah meningkatkan risiko kematian?

Photo of author

By AdminTekno

Kementerian Kesehatan diminta mewaspadai peningkatan kasus influenza A subclade K yang dikenal dengan super flu. Sebab, varian baru ini “lebih agresif sehingga lebih cepat menular dan menyebabkan gejala yang lebih berat—terutama pada lansia, anak, dan orang dengan penyakit komorbid”.

Sebelumnya, Kemenkes menyebut hingga akhir Desember 2025, tercatat ada 62 kasus influenza A subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak.

Adapun secara global, peningkatan kasus influenza A (H3N2) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak akhir September 2025, seiring dengan masuknya musim dingin.

Subclade K pertama kali terdeteksi oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC) AS pada Agustus 2025 dan hingga kini dilaporkan telah menyebar di lebih dari 80 negara.

Apa itu super flu?

Istilah “super flu” sebetulnya tidak dikenal dalam terminologi medis. Nama itu popular dipakai sebagai nama umum untuk menggambarkan varian virus influenza yang agresif, mudah menyebar, dan menimbulkan gejala yang lebih berat.

Secara ilmiah, virus yang dijuluki “super flu” tersebut diidentifikasi sebagai influenza tipe A subvarian H3N2 dengan subclade K. Subclade K merupakan varian baru yang pertama kali teridentifikasi oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025.

CDC Amerika Serikat mencatat hingga 20 Desember 2025, sedikitnya 7,5 juta orang terinfeksi influenza. Dari angka itu, sekitar 81.000 pasien harus menjalani perawatan di rumah sakit, sementara lebih dari 3.100 orang dilaporkan meninggal.

Sejumlah negara bagian AS saat ini mencatat prevalensi influenza sangat tinggi, di antaranya Colorado, Louisiana, New Jersey, New York, dan South Carolina.

AS juga melaporkan seluruh indikator pemantauan Utama menunjukkan tren peningkatan, mulai dari hasil pemeriksaan laboratorium, kunjungan rawat jalan, angka rawat inap, hingga kematian.

Lonjakan kasus ini disebut didorong dominasi virus influenza tipe A subvarian H3NA dengan subclade K.

Berapa banyak kasus super flu di Indonesia?

Sejauh ini lebih dari 80 negara telah melaporkan adanya kasus “super flu”. Di kawasan Asia, varian baru influenza tersebut juga terdeteksi di sejumlah negara seperti China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025.

Meskipun menjadi varian dominan, tren kasus di negara-negara itu menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.

Di Indonesia, hasil pemeriksaan Kementerian Kesehatan menunjukkan “super flu” telah terdeteksi sejak Agustus 2025.

Berdasarkan hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus influenza A subclade K ditemukan di delapan provinsi.

Tiga provinsi dengan jumlah kasus terbanyak antara lain Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine, dalam siaran persnya menyebutkan sebagian besar kasus ditemukan pada perempuan dan kelompok usia anak.

Dari 843 spesimen positif influenza, sebanyak 348 sampel menjalani pemeriksaan WGS. Seluruh varian yang terdeteksi merupakan varian yang dikenal dan bersirkulasi secara global.

Kendati demikian, Prima mengklaim situasi “super flu” masih dalam kondisi terkendali dan tidak menunjukkan keparahan dibandingkan dengan varian lainnya.

“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A jenis H3N2 subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” kata Prima.

Apa saja gejala super flu dan apakah bisa mengakibatkan kematian?

Dokter spesialis paru RS Persahabatan, Agus Dwi Susanto, agak meragukan temuan Kemenkes soal jumlah kasus “super flu” di Indonesia.

Sebab, jika ketahuan sudah terdeteksi masuk ke Indonesia sejak Agustus 2025, maka semestinya angkanya lebih dari yang tercatat sekarang.

“Coba saja pakai persentase, 62 kasus itu dari 842 spesimen saja yang diperiksa. Bayangkan kalau kasus influenza selama Agustus sampai Desember berapa ribu? Artinya sebenarnya lebih banyak jangan-jangan,” ungkapnya kepada BBC News Indonesia, Jumat (02/01).

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, juga berpendapat sama.

Ia berkata tidak begitu yakin bahwa jumlah kasus “super flu” di Indonesia ada 62, mengingat di negara-negara seperti Thailand, Malaysia, dan Jepang, terjadi “peningkatan kasus yang tinggi”.

Pola global tersebut, kata dia, semestinya juga berlaku di Indonesia.

“Jadi, saya kok enggak begitu yakin hanya 62. Kalau bisa surveilans genomiknya diperluas, sehingga kita tahu apakah sekarang H3N2 banyak atau tidak. Kemudian surveilans gejala, artinya dilihat apakah ada peningkatan influenza yang berkunjung ke poliklinik, apalagi kalau sampai masuk ke rumah sakit,” paparnya.

Tapi terlepas dari itu, Agus Dwi Susanto, menyebutkan ada beberapa gejala “super flu” yang patut diwaspadai lantaran varian baru ini memiliki gejala lebih berat dibandingkan influenza musiman pada umumnya.

Yakni, demam tinggi antara 39 sampai 41 derajat Celcius.

“Kalau yang [influenza] biasa paling 37-38,5 derajat Celcius, [subclade K] bisa sampai 41 derajat menurut data. Lebih tinggi banget artinya,” jelasnya.

“Terus disertai nyeri otot yang hebat, lemas sekali. Kemudian sakit kepala berat, sakit tenggorokan, dan batuk kering.”

“Mungkin masyarakat sudah sering kena flu kan, tahu lah rasanya seperti apa. Nah ini level derajatnya lebih berat dari yang biasa dialami. Kalau mengalami, perlu waspada,” kata Agus.

Pada umumnya, kasus influenza musiman biasa, bisa menimbulkan risiko kematian. Terutama pada populasi yang rentan dan adanya komplikasi.

Dalam kasus subclade K, Agus menyebut risiko kematiannya bisa lebih tinggi karena sifat varian subclade K yang lebih agresif dan lebih mudah menyebar.

Sehingga risiko komplikasi yang mengakibatkan kematian juga “bisa lebih tinggi” pada lansia, anak, dan orang dengan penyakit komorbid.

“Jadi kalau sifatnya lebih agresif, risiko kematiannya akibat komplikasi menjadi lebih tinggi. Terutama pada populasi tertentu. Oleh karena itu pemahaman kepada masyarakat adalah mengenali gejalanya,” ujar Agus.

“Kalau biasanya flu cuma hidung meler, sakit tenggorokan, ringan. Sekarang jadi sakit kepala, ototnya sakit, demam tinggi 39 sampai 41 derajat, terus lemas… nah itu gejala subclade K,” tuturnya.

Penanganan apa yang mesti dilakukan dan apa pencegahannya?

Kendati demikian, masyarakat tidak perlu khawatir karena pada umumnya influenza varian subclade K ini bisa disembuhkan, kata Agus Dwi Susanto.

“Yang penting segera konsultasi ke tenaga medis, dokter, atau ke fasilitas kesehatan untuk bisa mendapat pengobatan. Istirahat yang cukup, suplemen yang cukup,” jelasnya.

“Untuk populasi yang berisiko memiliki penyakit dasar mungkin perlu dirawat. Karena komplikasinya itu yang kita harus jaga supaya tidak menimbulkan risiko lebih tinggi.”

“Jadi indikasi rawat pada dasarnya seperti influenza secara umum. Kapan rawat jalan, kapan rawat inap, ya sama,” tambahnya.

“Tentunya sebagai tenaga medis harus lebih aware juga, kapan ini perlu dirawat dan kapan rawat jalan.”

Soal pencegahan, salah satu yang bisa dilakukan dengan vaksin influenza.

Tjandra Yoga Aditama mengatakan vaksin tersebut dibuat berdasarkan subvarian H3N2 yang lama, bukan subclade K.

Namun, katanya, beberapa penelitian menyebutkan vaksin itu masih punya efektivitas mencegah penularan “super flu” walaupun tidak setinggi untuk H3N2.

Anjuran resmi Badan Kesehatan Dunia, WHO, juga menyatakan vaksin influenza bisa tetap diberikan.

“[Meskipun] efektivitasnya pada anak hanya 70% dan orang dewasa 40%,” kata Tjandra Yoga.

“Tapi karena itu yang kita punya, silahkan dimanfaatkan kalau memang mau dilakukan,” ujarnya.

Pencegahan lainnya dengan menjaga kebersihan lingkungan, cuci tangan dengan teratur, memakai masker bila kontak dengan penderita atau di keramaian.

Selain itu, jika sakit disarankan tidak keluar rumah dan jika terpaksa pakai masker serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Tjandra Yoga juga menuturkan, meskipun penyebarannya cepat dan agresif, tapi kasus “super flu” tidak akan mengarah pada pandemi.

“Tentu saja kalau nanti berubah lagi mutasinya, lain cerita lagi. Tapi kalau situasinya sampai sekarang saja, maka ini bukan ke arah pandemi,” ucapnya.

Apa langkah Kemenkes?

Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine, mengatakan pemantauan lebih lanjut terhadap “super flu” akan terus diperkuat melalui surveilans, pelaporan, dan kesiapsiagaan untuk merespons perkembangan situasi influenza di Indonesia dan global.

Pemantauan dilakukan dari pelaporan terkait penyakit yang menyerupai influenza dan infeksi pernapasan akut berat di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

Adapun soal dugaan lemahnya pemantauan Kemenkes, Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengatakan pihaknya mempunyai Public Health Emergency Operation Center yang menjalankan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons terhadap penyakit yang berpotensi menimbulkan wabah.

Hasil surveilans di lapangan, kata Aji, dilaporkan berjenjang dan berkala dari daerah ke pusat untuk antisipasi kejadian-kejadian penyakit.

Pengetatan juga dilakukan jika memang sudah ada hasil pengamatan ada potensi lonjakan kasus, ucapnya.

  • Ilmuwan India prediksi flu burung dapat menular ke manusia – Apa antisipasi yang bisa dilakukan?
  • Indonesia tingkatkan kewaspadaan hadapi ancaman virus G4 yang dibawa babi
  • Kasus flu burung merebak – Para ilmuwan bersiap hadapi kemunculan pandemi berikutnya
  • Mungkinkah vaksin Covid-19 dan jaga jarak sosial dapat membasmi flu?
  • Puluhan unggas dilaporkan terjangkit flu burung di Kalimantan Selatan, pemerintah diminta ‘gerak cepat’
  • Ilmuwan menemukan sistem pertahanan dalam tubuh yang menangkal flu burung
  • Flu Singapura berpotensi meluas saat mudik Lebaran – Bagaimana ciri-ciri, gejala, dan cara penularannya?
  • Virus flu yang ‘berpotensi menjadi pandemi’ ditemukan di China
  • Misteri mengapa Covid-19 kini menjadi penyakit yang kurang mematikan

Leave a Comment