Rupiah anjlok hari ini, cek info kurs dolar per 20 Januari 2026 dan penyebabnya

Photo of author

By AdminTekno

Ringkasan Berita:

  • Rupiah melemah ke Rp16.955 per dolar AS pada perdagangan Senin.
  • Kekhawatiran defisit anggaran dan arah suku bunga BI membayangi pasar.
  • IHSG mencetak rekor baru di level 9.133,87 dengan transaksi Rp35,91 triliun.

Kita Tekno – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan signifikan, melorot dan semakin mendekati level psikologis krusial Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan pada Senin (19/1/2026). Sentimen negatif global dan domestik tampaknya terus membebani mata uang Garuda.

Berdasarkan data terbaru dari Bloomberg, rupiah di pasar spot menutup perdagangan di posisi Rp16.955 per dolar AS. Angka ini mencerminkan pelemahan tajam sebesar 68 poin atau 0,40 persen dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu. Kondisi ini mengindikasikan tekanan berkelanjutan yang dihadapi rupiah di tengah ketidakpastian pasar.

Pelemahan rupiah juga tercermin jelas pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis oleh Bank Indonesia. Jisdor tercatat berada di level Rp16.935 per dolar AS, terkoreksi 55 poin atau 0,33 persen dari posisi penutupan sebelumnya. Konsistensi pelemahan di berbagai acuan nilai tukar ini menegaskan adanya tekanan luas terhadap rupiah.

Sentimen Defisit dan Suku Bunga

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengidentifikasi dua pemicu utama di balik tertekannya nilai tukar rupiah. Menurutnya, kekhawatiran pasar terhadap potensi defisit anggaran negara yang bisa melampaui batas 3 persen menjadi sentimen negatif yang kuat. Selain itu, ekspektasi pasar mengenai potensi pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia turut mendorong investor untuk bersikap defensif terhadap aset-aset berdenominasi rupiah.

“Penyebabnya masih sama, kekhawatiran defisit anggaran melewati 3 persen dan prospek pemangkasan suku bunga BI,” jelas Lukman, menegaskan faktor-faktor fundamental yang memengaruhi pergerakan rupiah.

Lukman menambahkan, arah pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada hasil dan, yang tak kalah penting, komunikasi kebijakan yang disampaikan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Transparansi dan kejelasan dari bank sentral dinilai krusial untuk menenangkan pasar.

Meskipun belum dapat dipastikan sepenuhnya, peluang rupiah untuk menembus level krusial Rp17.000 per dolar AS masih terbuka. “Ada potensi tembus 17.000, namun tergantung pada retorika dalam RDG BI,” ujarnya. Sikap tegas dan pesan yang meyakinkan dari BI akan sangat menentukan kepercayaan pasar di tengah gempuran tekanan eksternal yang terus meningkat.

IHSG Melaju Berlawanan

Di tengah kondisi rupiah yang melemah, pasar saham domestik justru menunjukkan performa yang kontras. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high/ATH), bergerak berlawanan dengan mata uang lokal.

Hingga penutupan perdagangan pukul 16.00 WIB, IHSG menguat signifikan sebesar 58,46 poin atau 0,64 persen, melesat ke level 9.133,87. Performa ini menunjukkan ketahanan dan optimisme investor di pasar ekuitas Indonesia.

Perjalanan IHSG sepanjang hari itu cukup dinamis. Setelah dibuka di posisi 9.098,70, indeks sempat mengalami tekanan hingga menyentuh level terendah harian di 9.025,99. Namun, IHSG berhasil bangkit, berbalik arah, dan menguat secara konsisten hingga menembus level psikologis 9.100, lalu ditutup di posisi tertinggi pada hari tersebut.

Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia juga terbilang sangat ramai, dengan volume transaksi mencapai 85,35 miliar saham dan nilai transaksi yang fantastis sebesar Rp35,91 triliun, menandakan minat beli yang tinggi.

Secara rinci, sebanyak 377 saham tercatat mengalami penguatan, sementara 318 saham melemah, dan 110 saham stagnan. Seiring dengan penguatan IHSG yang impresif ini, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turut meningkat signifikan, mencapai Rp16.670 triliun.

Kondisi ini menyoroti adanya perbedaan respons investor antara pasar valuta asing dan pasar saham. Di satu sisi, rupiah masih dibayangi oleh ketidakpastian fiskal dan arah kebijakan moneter. Di sisi lain, optimisme terhadap kinerja fundamental emiten dan derasnya arus likuiditas domestik menjadi pendorong utama yang membuat IHSG terus melaju ke rekor baru.

Update Kurs Hari Ini

Kurs BI Hari Ini

Kurs jual (UKA): Rp 17.435

Kurs beli (UKA): Rp 16.435

Kurs jual (transaksi): Rp 17.019

Kurs beli (transaksi): Rp 16.850

Kurs BRI Hari Ini

Kurs jual: Rp 16.988

Kurs beli: Rp 16.961

Kurs BNI Hari Ini

Kurs jual: Rp 16.987

Kurs beli: Rp 16.967

Kurs BTN Hari Ini

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Rupiah Melemah Dekati Level 17.000, Ini Penyebabnya

Leave a Comment