
Indeks saham Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup naik pada Kamis (22/1) karena investor membeli saham setelah Presiden AS Donald Trump mencabut ancaman tarif terhadap sekutu Eropa, serta menyoroti data ekonomi AS.
Dikutip dari Reuters, Jumat (23/1), Indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 306,78 poin, atau 0,63 persen, menjadi 49.384,01. S&P 500 (.SPX) naik 37,73 poin, atau 0,55 persen menjadi 6.913,35. Nasdaq Composite (.IXIC) memperoleh 211,20 poin, atau 0,91 persen, menjadi 23.436,02.
Kenaikan tersebut terjadi sehari setelah S&P 500 (.SPX) mengalami kenaikan persentase harian terbesar dalam dua bulan, usai Trump mundur dari rencana pemberlakuan tarif sebagai alat tawar-menawar untuk merebut Greenland. Kerangka kesepakatan untuk mengakhiri sengketa atas wilayah Denmark tersebut sudah di depan mata.
Investor dengan cepat kembali ke pasar saham setelah perubahan haluan Trump pada Rabu. Namun, kenaikan selama dua hari belum sepenuhnya menghapus kerugian yang dialami ketiga indeks acuan AS pada Selasa, ketika ancaman tarif Trump mengguncang pasar global.
Baik S&P 500 maupun Nasdaq Composite turun 0,4 persen untuk minggu ini, sementara Dow Jones Industrial Average stagnan.
CEO di Investment Partners Asset Management, Gregg Abella, mengatakan isu geopolitik menciptakan fokus tambahan pada pengelolaan portofolio klien di tengah volatilitas, dan menekankan pentingnya diversifikasi dari nama-nama, sektor, dan kelas aset tertentu.

Mencerminkan keragaman tersebut dan meningkatnya selera risiko di kalangan investor, indeks Russell 2000 (.RUT) untuk saham berkapitalisasi kecil naik 0,8 persen ke level penutupan tertinggi sepanjang masa.
Di sisi lain, rilis data ekonomi terbaru juga mendukung momentum positif. Pengeluaran konsumen AS meningkat secara signifikan pada November dan Oktober, yang kemungkinan akan menjaga perekonomian tetap berada di jalur pertumbuhan yang kuat untuk kuartal III berturut-turut, menurut indeks pengeluaran konsumsi pribadi.
Data terpisah menunjukkan klaim awal untuk tunjangan pengangguran negara bagian meningkat kurang dari yang diperkirakan minggu lalu, sementara ekonomi AS tumbuh sedikit lebih tinggi dari yang diperkirakan sebesar 4,4 persen pada kuartal III tahun 2025.
Selain itu, musim laporan keuangan semakin intensif, dan dapat menguji sentimen pasar karena perusahaan-perusahaan akan merinci bagaimana permintaan konsumen, tekanan biaya, dan latar belakang makro yang bergejolak membentuk kinerja akhir tahun mereka.
Banyak dari saham-saham yang disebut “Magnificent Seven” akan melaporkan pendapatan pekan depan. Mengingat bobotnya dalam indeks, kinerja mereka memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap arah pasar secara keseluruhan.
Ketujuh saham tersebut mengalami kenaikan pada Kamis, dipimpin oleh Meta (META.O) yang melonjak 5,7 persen, dan Tesla (TSLA.O) naik 4,2 persen.

Saham-saham perbankan secara umum menunjukkan kinerja yang baik sebagai respons terhadap pendapatan, meskipun Huntington Bancshares (HBAN.O) turun 6 persen setelah merilis angka kuartal IV yang terbebani oleh biaya terkait akuisisi baru-baru ini.
Beberapa perusahaan regional besar yang telah naik dalam beberapa hari terakhir juga mengalami penurunan pada Kamis, termasuk Fifth Third Bancorp (FITB.O) turun 3,7 persen dan Regions Financial (RF.N) sebesar 1,3 persen.
Procter & Gamble (PG.N) naik 2,6 persen setelah pengumuman hasil kuartalan. Intel (INTC.O) juga naik tipis 0,1 persen sehingga total keuntungan tahun 2026 mencapai 47,2 persen.
Saham Abbott (ABT.N) merosot 10 persen, penurunan persentase harian terbesar sejak tahun 2002, setelah produsen alat kesehatan itu memperkirakan laba kuartal berjalan di bawah ekspektasi Wall Street.
Kemudian GE Aerospace (GE.N) turun 7,4 persen meskipun memperkirakan laba tahunannya di atas estimasi. Produsen saus pedas Cholula, McCormick (MKC.N) turun 8,1 persen setelah memperkirakan laba tahunan yang lemah pada tahun 2026.