Banjir bak danau rendam perumahan subsidi di Sukamekar Bekasi

Photo of author

By AdminTekno

Banjir merendam Perumahan Green Lavender Sukamekar, Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi. Air menggenangi kawasan hunian bersubsidi tersebut hingga menyerupai danau, melumpuhkan aktivitas warga dan memicu keresahan yang kian meluas.

Banjir yang datang berulang dalam waktu berdekatan membuat warga kehilangan rasa aman. Sejumlah rumah terendam, perabotan rusak, dan akses keluar-masuk lingkungan terputus. Warga menyebut banjir kali ini lebih parah dibanding kejadian sebelumnya karena air naik dengan cepat dan sulit surut.

“Baru beberapa hari surut, sekarang kebanjiran lagi dan lebih tinggi. Hidup jadi tidak tenang,” ujar Jeki Juliadi, salah satu warga, Sabtu (24/1).

Menurut warga, banjir bukan kali pertama terjadi. Sejak awal menempati perumahan, genangan air disebut kerap muncul setiap kali hujan deras. Namun hingga kini, warga mengaku belum merasakan adanya perubahan signifikan di lapangan.

Kondisi tersebut memicu kemarahan dan kekecewaan warga. Sejumlah warga mulai menyatakan sikap tegas. Mereka menilai perumahan yang dibeli sebagai hunian layak justru berubah menjadi kawasan rawan bencana.

“Kalau seperti ini terus, lebih baik saya jual dan pindah saja. Rumah di sini sudah tidak aman untuk ditempati. Bagaimana mau aman, dalam setahun bisa lebih dari tiga kali kebanjiran,” kata Jeki.

Nada serupa disampaikan Muhammad Jaelani, warga lainnya. Ia menyebut banjir kali ini sebagai yang terparah dan merupakan banjir susulan kedua dalam waktu singkat. Kondisi tersebut membuat warga mulai kehilangan harapan.

“Kami beli rumah subsidi untuk ditinggali, bukan untuk setiap hujan kebanjiran. Kalau tidak ada kejelasan, kami akan menuntut hak kami,” ujarnya.

Keresahan warga kini mengarah pada langkah hukum dan tuntutan finansial. Sejumlah warga mengaku tengah mengkaji kemungkinan menuntut pengembalian uang (refund) atas rumah yang mereka beli. Bagi warga, rumah yang terus-menerus terendam banjir dinilai tidak lagi memenuhi fungsi dasar sebagai tempat tinggal.

“Ibu-ibu sudah mulai bergerak. Kalau tidak ada kepastian, kami siap menuntut refund. Ini bukan sekadar keluhan, tapi soal keselamatan dan masa depan keluarga,” ujar salah satu warga.

Secara geografis, kawasan perumahan tersebut berada di wilayah rawan genangan karena dikelilingi sejumlah aliran sungai. Namun warga menilai kondisi itu seharusnya sudah diantisipasi sejak awal pembangunan.

Hingga Sabtu pagi, air masih menggenangi sebagian besar wilayah perumahan. Warga berharap ada penanganan serius dan menyeluruh, bukan sekadar janji.

Berdasarkan catatan warga, banjir setidaknya melanda kawasan tersebut hingga enam kali sepanjang 2025. Ironisnya, pada awal Januari 2026, banjir justru datang dengan dampak terparah, dengan ketinggian air mencapai 1,5 hingga 2 meter.

Leave a Comment