
India punya rencana besar pada area gurun dingin yang disengketakan di Himalaya. Rencana tersebut adalah membangun salah satu pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia.
Dataran Tinggi Changthang di Ladakh, bagian Kashmir yang dikelola India, menjadi sasaran dari program pembangkit listrik ini. Persoalannya, wilayah ini merupakan habitat bagi kambing Changra, atau kambing Pashmina, yang menghasilkan wol kashmir halus yang terkenal dari daerah tersebut.
Pembangunan pembangkit listrik ini disebut berguna untuk menghasilkan energi rendah karbon guna memenuhi kebutuhan listrik negara.
Namun, padang rumput ini juga sangat penting bagi kehidupan penggembala Changpa yang telah berpindah-pindah dengan ternak mereka di wilayah ini selama berabad-abad.

Para penggembala ini khawatir pada dampak lain yang dapat berpengaruh terhadap lanskap di wilayah yang telah mengalami penyusutan padang rumput selama puluhan tahun akibat perubahan iklim.
Bahkan menurut para penggembala, berkurangnya area padang rumput itu telah menyebabkan kematian domba dan kambing.
“Sangat sulit hidup di sini,” kata Tsering Stobdan. “Banyak penggembala telah meninggalkan pekerjaan ini. Jika tanah ini hilang, mereka yang tersisa juga akan pergi.”
Apa tujuan India dengan pembangkit tenaga surya di Ladakh?
Menurut lembaga kajian Ember, India menempati peringkat ketiga di dunia dalam produksi energi surya setelah China dan AS. Pemerintah India mengklaim kapasitasnya mencapai sekitar 135 gigawatt pada akhir 2025, naik dari 3 gigawatt pada 2014.
Kini, India menargetkan untuk mencapai kapasitas pembangkit listrik non-bahan bakar fosil sebesar 500 gigawatt pada 2030. Untuk menuju ke sana, kapasitas tenaga surya akan ditingkatkan menjadi 280gigawatt terlebih dahulu.
Proyek tenaga surya dan baterai berkapasitas 11 gigawatt di Ladakh pun menjadi langkah penting demi mewujudkan target India tersebut.

Proyek ini diperkirakan akan mengambil kawasan Ladakh seluas 250 kilometer persegi, lebih luas dari ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur.
Secara geografis, wilayah pegunungan tinggi ini memiliki potensi besar untuk menghasilkan energi surya berkat atmosfer yang tipis, ruang yang luas, dan langit yang cerah lebih dari 300 hari dalam setahun.
Upaya ini seperti mengikuti jejak pembangkit listrik tenaga surya besar yang dikembangkan China di Dataran Tinggi Tibet, yakni Talatan Solar Park di Provinsi Qinghai.
Pembangkit ini merupakan yang terbesar di dunia dalam hal kapasitas, dengan daya sekitar 17 gigawatt, dan mencakup area lebih dari 600 kilometer persegi. Otoritas China menyatakan hewan-hewan masih dapat merumput di sana.
Tantangan utama bagi pembangkit listrik tenaga surya di Ladakh di masa depan adalah bagaimana mengangkut energi tersebut turun dari gunung. Hal ini akan memerlukan pemasangan jalur transmisi listrik raksasa sepanjang 713 kilometer yang disebut Koridor Energi Hijau.
Dengan tingkat kesulitan wilayah yang tinggi, pengadaan Koridor Energi Hijau ini diprediksi memakan biaya hingga US$2,28 miliar (sekitar Rp38 triliun).
Tidak hanya itu, suhu yang dapat mencapai -45° Celsius dengan salju tebal dan zona rawan longsor salju juga membuat koridor ini harus dibangun dengan baja khusus.
Ide pembangkit listrik tenaga surya ini pertama kali diusulkan pada 2020, setahun setelah pemerintah India secara resmi mencabut status otonomi khusus Kashmir, dalam upaya untuk mengintegrasikannya sepenuhnya ke dalam administrasi India.
Kashmir telah menjadi sengketa antara India dan Pakistan selama puluhan tahun. Adapun China juga mengontrol dan mengklaim sebagian wilayah tersebut.
‘Kehidupan kami bergantung pada padang rumput ini’
Kekhawatiran terhadap rencana pembangkit listrik tenaga surya jelas terasa di desa-desa yang berada di dalam batas-batas lahan yang direncanakan untuk program tersebut.
Kendati demikian, sebagian besar penggembala enggan berbicara secara terbuka.
“Jika kami bicara, akan ada banyak masalah,” kata salah satu di antaranya.
Tanpa dokumen hukum untuk mengklaim tanah, banyak yang khawatir mereka akan dipindahkan tanpa kompensasi.
“Apa yang akan kami lakukan? Kami akan menjual domba dan kambing, tapi apa yang akan kita lakukan setelah itu?” kata seorang penggembala berusia 60-an yang memelihara lebih dari 600 hewan.
Seorang penggembala muda mengulang kecemasan ini saat menggembala dombanya ke atas gunung. “Kami sudah melakukan ini selama berabad-abad, dan kita tidak tahu apa-apa selain ini,” ujarnya.

Tsering Angchuk, penggembala dengan lebih dari seribu hewan, berkata, “Kehidupan kami bergantung pada padang rumput ini.”
“Jika pemerintah menerima semua tuntutan kami, kami tidak akan keberatan. Tapi apabila kami dipindahkan dari tanah tradisional ini tanpa kompensasi, kami akan protes dan tidak akan membiarkan proyek ini dilaksanakan,” ujarnya.
Dewan lokal telah memberikan sekitar 19.424 hektare tanah kepada lembaga India yang bertanggung jawab atas pelaksanaan proyek energi terbarukan ini. Rincian perjanjian transfer tanah tersebut tidak tersedia untuk umum.
BBC telah menghubungi dewan tersebut tapi belum ada tanggapan.
Apa klaim pemerintah India dan perusahaan?
Laporan internasional oleh yayasan politik Jerman, Heinrich Böll Siftung, mendokumentasikan bagaimana proyek-proyek energi terbarukan berskala besar dikembangkan di Afrika, Asia, dan Amerika Latin “tanpa konsultasi yang memadai” dengan para penggembala yang telah menggunakan lahan tersebut untuk menyambung hidup.
Pemerintah India berargumen hal ini tidak terjadi di Ladakh.
Perwakilan pemerintah berkata proyek percontohan berskala jauh lebih kecil telah diluncurkan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan energi lokal dan mengatasi kekhawatiran para penggembala.

Panel surya pun telah dipasang di Ladakh. Ada tiang-tiang setinggi sekitar 180 sentimeter, yang menurut pihak berwenang akan memungkinkan hewan-hewan bergerak bebas dan merumput di bawahnya.
“Pemerintah telah mencatat kekhawatiran para penggembala,” kata Sekretaris Energi Ladakh, Shri Rudra Goud.
“Meningkatkan ketinggian platform panel surya juga meningkatkan biaya. Kami melakukan semua ini untuk melindungi rumput,” kata Goud.
Menurut Sekretaris Utama Administrasi Ladakh, Pawan Kotwal, dana yang dihasilkan dari proyek percontohan kecil ini akan digunakan untuk pengembangan wilayah setempat.

Akan tetapi, apakah rumput akan bertahan di bawah panel surya dalam jangka panjang ketika proyek besar berjalan? Hal ini belum dapat dipastikan.
Kepala Insinyur Divisi Distribusi dan Pembangkit Ladakh, Tsewang Paljor, berkata para peneliti di Universitas Ladakh akan melakukan penelitian untuk menentukan apakah pemasangan panel surya pada tiang yang lebih tinggi “dapat menyelamatkan rumput”.
Namun, para penggembala lokal tetap tidak antusias.
“Bagaimana kami bisa membawa domba kami ke sana jika taman surya sebesar itu dibangun?” tanya Tsering Stobdan.
“Bahkan untuk mereka, masuk di bawah panel-panel itu pun tidak akan mudah.”