Megawati bicara kepemimpinan perempuan hingga Pancasila di Abu Dhabi

Photo of author

By AdminTekno

Ketua Umum PDIP sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pandangan tentang kepemimpinan perempuan, ideologi Pancasila, dan rekonsiliasi damai dalam forum Majelis Persaudaraan Manusia (Human Fraternity Majlis) di Museum Nasional Zayed, Abu Dhabi, Selasa (3/2) waktu setempat. Acara tersebut merupakan rangkaian Zayed Award.

Di hadapan para pemimpin dunia dan tokoh perempuan global, Megawati menegaskan bahwa kepemimpinan perempuan memiliki kekuatan khas yang berakar pada empati dan naluri merawat, bukan dominasi kekuasaan.

“Sebagai seorang perempuan, saya membawa keyakinan bahwa kepemimpinan bukan tentang dominasi, melainkan tentang upaya merangkul dan merawat, serta bukan menindas,” ujar Megawati.

Pengalaman memimpin Indonesia di masa transisi demokrasi awal 2000-an menjadi rujukan utama Megawati. Ia menyinggung keberhasilan meredam konflik horizontal di Poso dan Ambon melalui pendekatan dialog dan rekonsiliasi, alih-alih kekuatan represif.

“Dalam situasi waktu itu, sebagai kepala negara saya membawa negara hadir bukan sebagai kekuatan represif, melainkan sebagai penjamin rekonsiliasi dengan semangat kekeluargaan,” ungkapnya.

Menurut Megawati, kepemimpinan sejati menuntut kemampuan mendengar denyut kehidupan rakyat dan menghadirkan empati sosial dalam kebijakan. Prinsip tersebut, kata dia, sejalan dengan nilai human fraternity yang telah lama hidup dalam falsafah Pancasila.

Megawati menegaskan Pancasila bukan sekadar simbol, melainkan bintang penuntun bangsa Indonesia dalam merawat keberagaman.

“Pancasila berfungsi sebagai dasar berpijak dan bintang penuntun ke mana arah dan perjalanan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ia juga mengutip pesan Bung Karno tentang fondasi berdirinya Indonesia.

“Ayah saya, Bung Karno yang merupakan Pendiri dan Proklamator serta Presiden Pertama bangsa kami, menegaskan bahwa Indonesia bukan didirikan untuk satu golongan, satu agama, atau satu suku, melainkan ‘satu untuk semua, semua untuk satu’. Prinsip inilah yang menjadi fondasi etik kepemimpinan nasional kami,” urai Megawati.

Dalam forum yang sama, Ketua Umum PDI Perjuangan itu turut menyampaikan pesan khusus kepada perempuan agar tidak terjebak dalam dilema antara peran domestik dan peran publik.

“Saya ingin mengingatkan kembali agar perempuan tidak terjebak dalam dilema palsu antara rumah dan masyarakat. Yang dibutuhkan adalah manajemen waktu, komunikasi yang setara dengan pasangan hidup, serta dukungan struktural dari negara dan lingkungan sosial,” kata Megawati.

Megawati juga merefleksikan perjalanan hidupnya sebagai pemimpin yang dibentuk oleh nilai keluarga, keteguhan, dan etika moral.

“Sebagai pemimpin, maka saya menjadi seorang yang dijadikan oleh orang tua saya, bapak saya seorang presiden, tentu ibu saya seorang First Lady, yang datang dari etnis yang berbeda, yang membuat saya tetapi sekarang menjadi manusia yang seperti ini, itu adalah karena keyakinan, keteguhan, keuletan, keberanian, dan kesabaran, dipadu dengan etika moral dan hati nurani,” kata Megawati.

Ia menutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan perempuan adalah tentang menyatukan peran dan menghadirkan kontribusi nyata bagi kemanusiaan.

“Ketika perempuan menghadirkan nilai kemanusiaan, empati, dan keadilan dalam seluruh ruang hidupnya, kepemimpinan tidak lagi semata soal jabatan, melainkan kontribusi nyata bagi terwujudnya yang dicita-citakan kita bersama, yaitu Human Fraternity, sebagaimana dicita-citakan oleh para pendiri bangsa di mana pun juga, dan relevan bagi masa depan peradaban global,” urainya.

Forum ini dihadiri sejumlah tokoh internasional seperti Presiden Timor Leste Ramos Horta, para Ibu Negara dari berbagai negara, serta aktivis global. Megawati hadir didampingi putranya Muhammad Prananda Prabowo, Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah, dan Dubes RI untuk UEA Judha Nugraha.

Leave a Comment