
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyoroti kasus bunuh diri seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga karena kesulitan ekonomi. Ia menilai peristiwa tersebut menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah agar lebih memahami kondisi warganya, terutama kelompok rentan.
Hal itu disampaikan Eddy saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (5/2).
“Kami merasa sedih, prihatin, dan berduka atas berita yang diterima, karena bagaimanapun juga kita merasa bahwa anak-anak kita yang pendidikan perlu memenuhi kebutuhan dasarnya dan itu harus disediakan secara terjangkau,” ujar Eddy.
“Karena itu kita mengimbau agar sekarang seluruh jaringan pimpinan daerah-daerah harus mengetahui kondisi masyarakatnya,” tambahnya.
Menurut Eddy, pendataan anak sekolah yang membutuhkan bantuan harus dilakukan secara menyeluruh oleh kepala daerah hingga perangkat paling bawah. Ia menilai pendataan yang akurat penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.
“Jadi saya kira dari aspek pendataan itu sangat penting. Kedua juga kita lihat dari data terpadu ekonomi itu juga harus dilengkapi agar ini juga menjadi salah satu alat untuk kita memonitor di mana kita memenuhi anak-anak kita dan anggota masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus,” katanya.

Eddy menegaskan, Presiden Prabowo sejak awal menjabat telah menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi harus dirasakan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Ini adalah sebuah alarm yang sudah genting dan tidak boleh terulang lagi,” tegas Eddy.
Ia juga mendorong evaluasi data terpadu oleh kementerian terkait agar bantuan sosial dan subsidi tepat sasaran. Eddy menilai persoalan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat tidak mampu merupakan tanggung jawab negara yang diwakili oleh pemerintah daerah.
“Rasanya tidak pas kalau memang kita membebankan kepada mereka-mereka yang tidak mampu untuk bisa menyekolahkan anaknya, karena itu kan kebutuhan dasar,” ujarnya.
Eddy tak menganggap kejadian bunuh diri siswa itu sebagai kegagalan Pemda setempat. Namun, ia menekankan perlunya perhatian dan aksi nyata agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Makanya saya bilang tadi, itu adalah sebuah alarm. Jangan sampai terulang lagi,” pungkasnya.
Sebelumnya, seorang siswa laki-laki kelas IV sekolah dasar berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1) siang.
Peristiwa memilukan ini terjadi di sebuah pohon cengkeh tak jauh dari pondok sederhana tempat korban tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun, di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu.
Dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga kuat ditulis YBS sebelum mengakhiri hidupnya. Surat tersebut ditujukan kepada sang ibu dan ditulis dalam bahasa daerah Ngada. Isinya berpamitan dan meminta sang ibu tidak menangis, disertai gambar kecil bergambar wajah menangis.