BMKG prediksi cuaca ekstrem hingga April

Photo of author

By AdminTekno

BMKG memprediksi hujan ekstrem dengan intensitas tinggi mencapai 300-400 milimeter (mm) per hari masih akan terjadi beberapa bulan ke depan di Indonesia. Mereka menilai, hal itu sejalan dengan tren perubahan iklim yang berpengaruh pada meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.

Plt. Deputi Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan, BMKG memiliki klasifikasi curah hujan berdasarkan akumulasi harian dalam satuan milimeter. Dia memisahkan hujan ringan berada pada kisaran 0–5 mm per hari, hujan sedang 20–50 mm, hujan lebat 50–100 mm, dan hujan sangat lebat 100–150 mm per hari.

“Nah, kita ke depan akan berpotensi juga mengalami hujan-hujan yang sangat-sangat ekstrem di atas 150 milimeter per hari. Mungkin akan sering ada hujan ke depan di atas 200 milimeter per hari, 300 bahkan 400 milimeter,” ucap Andri dalam sebuah diskusi di DPR, Kamis (5/2).

Andri mengatakan potensi hujan ekstrem itu akan terjadi hingga masa transisi menuju musim kemarau pada bulan Maret-April mendatang. Maka, ia mewanti-wanti masyarakat Sumatera dan Jawa terkait potensi bencana hidrometeorologi yang datang seiring dengan hujan itu.

“​Nah, yang perlu diwaspadai di periode puncak musim hujan itu wilayah-wilayah selatan ekuator, misalkan mulai Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara. Nah, ini wilayah-wilayah yang pada periode Desember kemudian Januari, Februari hingga nanti transisi Maret-April yang perlu diwaspadai,” ucap Andri.

“Dari catatan itu, kita lihat misalkan di Sumatra dan Jawa merupakan wilayah yang rentan terhadap potensi tadi bencana hidrometeorologi ya. ​Nah, ini juga menjadi artinya pemetaan ya risiko seperti apa,” tambahnya.

Menurutnya, BMKG akan terus memperbarui data terkait potensi cuaca ekstrem ini. Termasuk potensi kekeringan yang akan datang pada musim kemarau nanti.

“Nah, dinamis BMKG tentu terus meng-update informasi dari bulanan maupun harian dan juga perlu juga dipahami bersama bahwa tidak hanya hidrometeorologi basah,” ucap Andri.

“Kekeringan pun juga tentu juga perlu kita waspadai gitu. Defisit air untuk pertanian dan segala macam dan juga kebakaran hutan. Biasanya kalau di kita kan satu lagi di Juni, Juli, Agustus,” tambahnya.

Leave a Comment