Pemerintah bidik perluas akses ekspor dan implementasi QRIS di negara APEC

Photo of author

By AdminTekno

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah membidik kenaikan ekspor komoditas unggulan ke negara anggota Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) serta perluasan implementasi sistem pembayaran digital. APEC terdiri dari 21 negara di kawasan Asia Pasifik yakni Amerika Serikat, Australia, Brunei Darussalam, Chili, Filipina Hong Kong, China, Indonesia, Jepang, Kanada, Malaysia, Meksiko, Papua Nugini, Peru, Korea Selatan, Rusia, Selandia Baru, Singapura Taiwan, Thailand, dan Vietnam. “Ekspor Indonesia 70 persen ke negara-negara APEC. Oleh karena itu Indonesia perlu mendukung agar APEC berjalan secara baik karena ini adalah salah satu ekonomi terbesar dan tentu Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan dengan negara-negara APEC ini bisa kita tingkatkan ekspor kita,” jelasnya saat konferensi pers ABAC Meeting I 2026, Sabtu (7/2). Airlangga juga membidik AS dan China sebagai salah satu tujuan utama peningkatan ekspor yang strategis. Beberapa komoditas yang didorong meliputi komoditas pertambangan hingga agrikultur. Dia menyebut, pemerintah mendorong ekspor komoditas andalan seperti mineral logam, kelapa sawit, produk industri padat karya seperti tekstil, furniture, produk tekstil, dan sepatu, serta produk agrikultur seperti udang.

“Dalam APEC ini, kan, ada China, ada Amerika Serikat, jadi ini juga menjadi sebuah pasar yang sangat strategis buat Indonesia,” kata Airlangga. Selain itu, lanjut Airlangga, Indonesia juga mendorong penguatan digitalisasi, tidak hanya di ASEAN namun juga ke seluruh kawasan Asia Pasifik, terutama implementasi sistem pembayaran digital QRIS yang dikembangkan oleh Bank Indonesia (BI).

“Sebetulnya digitalisasi payment untuk Indonesia sudah juga masuk Korea, Jepang, dan Timur Tengah, tetapi dengan negara APEC yang lain tentu kita akan dorong,” ungkap AIrlangga. Dalam sambutannya, Airlangga menyebut perekonomian Indonesia memiliki prospek yang konstruktif pada tahun 2026. Pada 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen dan 5,39 persen pada kuartal IV 2025. “Hal ini menempatkan Indonesia di posisi keempat dibandingkan dengan negara-negara APEC lainnya. Taiwan tumbuh sebesar 12,28 persen, Vietnam sebesar 8,46 persen, Singapura 5,7 persen, dan Malaysia 5,7 persen. Ini berarti bahwa ekonomi APEC tumbuh meskipun menghadapi tantangan global,” tutur Airlangga.

Airlangga juga memaparkan, Indonesia dan negara APEC lain perlu bercermin pada kesuksesan Vietnam yang bisa mencetak pertumbuhan ekonomi mendekati 10 persen. “Saya pikir delegasi Vietnam harus berbagi dengan kita bagaimana mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi di atas 7 persen. Saya tahu bahwa tahun ini Vietnam menargetkan mendekati 10 persen. Jadi saya pikir 20 negara harus belajar dari Vietnam bagaimana melakukannya,” katanya. Secara jangka pendek, perekonomian negara anggota APEC diprediksi stabil di kisaran 3,4 persen yang didukung oleh konsumsi, perdagangan. Peningkatan pertumbuhan yang diharapkan terjadi pada tahun 2026 dan 2027. “Jadi sebagian besar negara dan ekonomi global akan tumbuh dari 2 hingga 3,8 persen pada tahun 2027 dan pertumbuhan moderat pada tahun 2026 sekitar 3,5 persen,” pungkas Airlangga.

Leave a Comment