
Pemerintah menargetkan bisa memperoleh keanggotaan penuh Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan proses menuju keanggotaan penuh OECD menjadi agenda prioritas pemerintah tahun ini.
“Kami bekerja dalam dua hingga tiga tahun ke depan untuk memperoleh keanggotaan penuh OECD,” jelas Airlangga dalam acara China Conference Southeast Asia, di St Regis Jakarta, Selasa (10/2).
Kata Airlangga, upaya keanggotaan penuh ini untuk meningkatkan daya saing dan mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.
“OECD diharapkan memperkuat reformasi Indonesia, meningkatkan daya saing, dan menjadi pedoman untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah,” lanjutnya.
Dalam kesempatannya, Airlangga juga menyinggung hubungan ekonomi Indonesia dengan Hong Kong yang dinilai memiliki peran strategis dalam perdagangan dan investasi. Dia menyebut Hong Kong sebagai salah satu pintu masuk penting menuju pasar internasional maupun China.

“Hong Kong selalu menjadi bagian strategis, terutama untuk ekonomi, di mana Hong Kong, seperti tadi saya sampaikan, trade-nya sekitar USD 6,5 bilion with Indonesia dan investasi di last 10 tahun bisa mendekati USD 10 miliar,” ucap Airlangga.
Pemerintah juga menegaskan fokus pada penguatan sektor energi sebagai bagian dari strategi ekonomi jangka panjang. Airlangga telah menyiapkan alokasi USD 24 miliar untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mendorong transisi menuju energi berkelanjutan.
“Terkait dengan pertemuan di pagi hari ini, saya juga menyampaikan terkait dengan energi. Pemerintah sudah mengalokasikan untuk ketahanan energi sebesar USD 24 miliar, dan Indonesia juga sudah menyiapkan energi terbarukan sebesar 3.686 gigawatt,” ungkap ia.
Program energi hijau juga tengah dipersiapkan mencakup pengembangan bahan bakar alternatif dan peningkatan efisiensi energi, serta dukungan terhadap investasi teknologi rendah karbon.
“Program hijau ini tentu mendukung program bioethanol A5 yang sedang dipersiapkan oleh Indonesia. Kemudian B40 dan juga special efficient, sustainable efficient fuel yang juga sedang disiapkan dengan berbagai investasi yang ada. Indonesia terus mendorong EV ekosistem dan juga mendorong investasi CCS/CCUS,” paparnya.
Menurut Airlangga, saat ini agenda transisi energi tak hanya bertujuan memperkuat ketahanan ekonomi, tetapi juga membuka peluang penciptaan lapangan kerja yang diprediksi bisa mencapai 4,4 juta tenaga kerja baru.
“Transisi hijau ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja sebesar 4,4 juta tenaga kerja baru, lapangan kerja sampai tengah tahun 2029,” tutur Airlangga.