
Masjid Istiqlal Jakarta menyiapkan beragam agenda khusus di sepanjang bulan Ramadan tahun ini. Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, rangkaian kegiatan akan diisi ibadah, pendidikan, hingga layanan sosial yang terbuka bagi masyarakat luas.
“Insyaallah kita akan ada beberapa kegiatan yang rutin. Yang rutin itu seperti salat Tarawih,” ujar Nasaruddin dalam konferensi pers di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu (18/2).
Tarawih 30 Juz dan Qari Internasional
Salat Tarawih di Istiqlal tetap mempertahankan tradisi pembacaan 30 juz Al-Quran hingga akhir Ramadan. Dalam pelaksanaannya, satu halaman dibagi tiga bagian agar tidak terlalu lama berdiri.
“Tarawihnya itu membaca 30 juz sampai akhir Ramadan. Tetapi begini, dalam satu halaman itu dibagi tiga ya, jadi tidak terlalu lama berdiri,” jelas Nasaruddin.
Ia menambahkan, imam yang memimpin merupakan qari pilihan, termasuk mantan juara dunia. Setiap malam, dua imam akan bergantian memimpin 20 rakaat tarawih dan ditutup dengan witir tiga rakaat.
Sebelum tarawih, akan ditampilkan qari-qari internasional secara bergilir hingga akhir Ramadan. Sementara ceramah atau kultum disampaikan setelah Salat Isya dan pembacaan ayat suci Al-Quran.
Buka Puasa hingga 10 Ribu Orang
Agenda buka puasa bersama juga kembali digelar setiap hari. Pada akhir pekan, jumlah penerima makanan bisa mencapai 7 ribu hingga 10 ribu orang, sedangkan hari biasa sekitar 4 ribu hingga 5 ribu orang.
“Nah kalau hari-hari weekend, misalnya Jumat, Sabtu, Minggu, antara 7 ribu sampai 10 ribu orang kita beri makan nasi boks. Nah kalau hari-hari biasa sekitar 4 ribu sampai 5 ribu orang” kata Nasaruddin.
Selain itu, kegiatan iktikaf 10 hari terakhir Ramadan diperkirakan akan memadati seluruh lantai masjid. Ia menyebut pengalaman tahun-tahun sebelumnya, jumlah jemaah iktikaf justru lebih ramai dibanding Tarawih awal Ramadan.
“Kalau awal-awal Ramadan di masjid lain itu kan biasanya 1 sampai 1 minggu itu penuh, tapi kalau sudah sampai 10 ke belakang itu mulai berkurang. Tapi kalau Istiqlal, semakin ke sini semakin padat, jadi mirip-mirip dengan Makkah dan Madinah kan,” lanjut Nasaruddin.
Khataman Quran dan Dongeng Anak
Sepanjang Ramadan, khataman Al-Quran oleh ibu-ibu digelar dari pagi hingga malam. Selain itu, tersedia kegiatan untuk anak-anak seperti dongeng religi yang rutin menarik minat keluarga.
“Di sini juga ada khataman Quran ibu-ibu, mulai dari pagi sampai malam itu. Di samping itu juga ada banyak kegiatan untuk anak-anak kecil. Wah itu banyak sekali anak-anak yang senang itu dongeng-dongengan,” ujar Nasaruddin.
Kursus Bahasa Gratis
Istiqlal juga tetap membuka berbagai kursus bahasa secara gratis, termasuk bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Persia, Prancis, Indonesia untuk penutur asing, hingga bahasa Ibrani dan Aramaik.
“Dan semuanya insya Allah free ya. Dan ternyata pesertanya banyak. Dan tidak tanggung-tanggung, native yang mengajar,” ungkap Nasaruddin.
Fasilitas Khusus Difabel
Manajemen masjid, kata Nasaruddin, juga memberikan perhatian khusus bagi penyandang disabilitas. Disediakan lift, toilet, dan area salat khusus di saf depan lantai atas bagi tunanetra maupun tunarungu.
“Yang paling menarik di Istiqlal ini adalah ada pengistimewaan terhadap kaum difabel. Di saf atas paling depan itu juga kita siapkan untuk mereka-mereka yang difabel, apakah itu tunanetra atau tunarungu dan sebagainya. Kita berikan tempat yang baik,” ujarnya.
Untuk buka puasa, pengelola juga menyiapkan fasilitas khusus agar mereka tidak perlu berdesak-desakan.
Pendidikan Kader Ulama Perempuan
Di bidang pendidikan, Istiqlal bersama Universitas PTIQ Jakarta menjalankan program Pendidikan Kader Ulama, termasuk format khusus bagi ulama perempuan.
“Dan yang paling khusus ada Kader Ulama Perempuan. Jadi nanti akan datang Indonesia itu bukan hanya memiliki ulama laki-laki, tapi ada format Pendidikan Kader Ulama Perempuan,” ungkap Nasaruddin.
“Itu sangat diapresiasi oleh pimpinan Al-Azhar Kairo, Mesir. Dan bahkan mereka mau mencontoh format pendidikan kita di sini diterapkan di Al-Azhar,” imbuhnya.
Ruang Presiden dan Wakil Presiden
Sebagai masjid negara, Istiqlal juga memiliki fasilitas ruang khusus bagi Presiden dan Wakil Presiden. Nasaruddin menyebut ruang tersebut telah beberapa kali digunakan dalam berbagai kegiatan kenegaraan.
“Di sini juga ada ruangannya presiden, ada ruang wakil presiden, ada ruang meeting-nya Bapak Presiden itu sangat nyaman. Dan Pak Prabowo sendiri sudah beberapa kali masuk di kamar itu ya. Mereka sangat menikmati. Acara-acara di Istiqlal dia seperti merasa at home gitu, bisa ganti baju, bisa menerima tamu dan sebagainya,” katanya.