Resmi kena tarif 19 persen, ini komoditas andalan RI ke AS sepanjang 2025

Photo of author

By AdminTekno

Indonesia resmi kena tarif 19 persen dari Amerika Serikat (AS) setelah Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump meneken kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Washington, D.C. pada Kamis (19/2) waktu setempat.

Sepanjang Januari-Desember 2025, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kinerja ekspor Indonesia mencapai USD 282,91 miliar atau naik 6,15 persen secara tahunan, didorong terutama oleh ekspor nonmigas mencapai USD 269,84 miliar atau tumbuh 7,66 persen.

AS menjadi salah satu pasar ekspor utama Indonesia dengan nilai mencapai USD 30,96 miliar sepanjang 2025, menempatkannya sebagai tujuan ekspor nonmigas terbesar kedua setelah China yang mencatat USD 64,82 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan secara total surplus neraca perdagangan Indonesia dengan AS mencakup migas dan nonmigas mencapai USD 18,11 miliar sepanjang Januari-Desember 2025.

“Untuk neraca perdagangan total, migas dan nonmigas, ada tiga negara penyumbang surplus terbesar. Pertama yaitu Amerika Serikat sebesar USD 18,11 miliar,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, dikutip Sabtu (21/2).

Dominasi AS kian terlihat jika dilihat dari kinerja neraca perdagangan nonmigas yang mencatat surplus USD 21,12 miliar sepanjang 2025. Nilai tersebut melampaui surplus nonmigas dengan India sebesar USD 13,62 miliar atau dengan Filipina yang mencapai USD 8,33 miliar.

Secara khusus untuk perdagangan dengan pasar AS, surplus nonmigas Indonesia terutama ditopang ekspor mesin dan perlengkapan elektronik beserta komponennya (HS85). Selain itu, pakaian rajutan beserta aksesorinya (HS61) serta alas kaki juga menjadi kontributor penting dalam menciptakan surplus perdagangan ke negara tersebut pada tahun itu.

Ateng menuturkan surplus nonmigas Indonesia secara total pada 2025 ditopang sejumlah komoditas utama. Produk lemak serta minyak hewani atau nabati (HS15) menjadi penyumbang terbesar dengan nilai USD 34,06 miliar. Selanjutnya, bahan bakar mineral (HS27) mencatat surplus USD 28,01 miliar, diikuti komoditas besi dan baja (HS72) yang memberikan surplus USD 18,44 miliar.

Dari sisi impor, BPS mencatat sepanjang periode yang sama, nilai impor Indonesia tercatat mencapai USD 241,86 miliar atau meningkat 2,83 persen, dengan impor nonmigas sebesar USD 209,09 miliar atau tumbuh 5,11 persen.

Dalam daftar negara pemasok utama, China masih menempati posisi teratas dengan nilai USD 86,99 miliar atau 41,60 persen dari total impor nonmigas, disusul Jepang sebesar USD 14,42 miliar. Sementara itu, AS tercatat sebagai salah satu pemasok utama lainnya dengan nilai impor mencapai USD 9,84 miliar.

“Dari sepuluh golongan barang utama nonmigas Januari-Desember 2025, golongan mesin atau perlengkapan elektrik dan bagiannya mengalami peningkatan tertinggi senilai USD 4,68 miliar (17,22 persen) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” tulis BPS salam Berita Resmi Statistik, dikutip Sabtu (21/2).

Sebelumnya, Trump mengenakan tarif impor untuk sejumlah produk Indonesia mencapai 32 persen pada April 2025. Namun setelah melalui rangkaian perundingan panjang sepanjang 2025, yang ditandai pengiriman empat surat resmi oleh pemerintah Indonesia serta persetujuan sekitar 90 persen proposal yang diajukan, tarif tersebut akhirnya diturunkan menjadi 19 persen.

Leave a Comment