
Polisi mengungkap sopir ketiduran (microsleep) adalah pemicu dua bus TransJakarta koridor 13 Ciledug-Tendean tabrakan adu banteng (head-to-head). Atas kejadian ini, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meminta agar operator bus TransJakarta mengevaluasi.
Pramono meminta operator untuk memastikan kondisi pengemudi selalu terjaga dan keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas.
Pramono mengatakan, kedua bus yang bertabrakan itu masing-masing dioperasikan oleh PT Bianglala dan PT Mayasari Bakti.

Adapun versi polisi, sopir Mayasari yang bernama Yayan sempat tertidur saat menyetir (microsleep) hingga kemudian bertabrakan dengan bus Bianglala yang sarat penumpang di pagi hari. Polisi mencatat 24 orang terluka.
Pramono menduga, sopir tersebut mengantuk setelah bekerja selama dua hari berturut-turut.
“Dia mengemudikan (bus) dan memang dalam kondisi bekerja dua hari, ngantuk mungkin, karena tidak bisa mengontrol, akhirnya busnya masuk ke lajur yang berlawanan,” kata Pramono di kawasan Jakarta Utara, Senin (23/2).

Informasi yang dikantongi Pram, korban luka ada 23 orang. Dua orang di antaranya dirawat di Rumah Sakit Bhakti Asih dan 21 lainnya di Rumah Sakit Sari Asih. Pramono juga memastikan, TransJakarta menanggung seluruh biaya pengobatan tersebut.
Terkait dugaan sopir bekerja terlalu lama sehingga kelelahan dan mengantuk, Pramono menilai sistem manajemen operator sebenarnya telah berjalan cukup baik. Politikus banteng ini menyebut insiden ini lebih disebabkan faktor manusia.
“Sebenarnya kalau di TransJakarta manajemennya sudah cukup rapi, ya. Ini human error-lah, bukan karena apa-apa. Jadi human error mungkin tidurnya kurang, karena puasa, dan sebagainya, sehingga kemudian busnya menyeberang atau melintasi melawan arah dan itu terjadi kecelakaan mengakibatkan 23 korbannya,” kata Pram.