Awal mula kasus ‘Cinta ditolak, kapak bertindak’: KKN UIN Suska Riau lalu baper

Photo of author

By AdminTekno

Fakta mengejutkan terkuak di balik kasus pembacokan brutal yang menimpa Farradhila Ayu Pramesti (23), mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Suska Riau. Pelaku, Reyhan Mufazar (22), ternyata menyimpan perasaan sepihak yang mendalam terhadap korban, bermula ketika keduanya terlibat dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kelompok yang sama.

Informasi krusial ini diungkapkan oleh Daffa, rekan satu kelompok KKN baik korban maupun pelaku. Menurut Daffa, perkenalan antara Farradhila dan Reyhan terjalin secara wajar, layaknya interaksi mahasiswa pada umumnya. “Setahu saya mereka kenalnya dari tempat KKN karena memang satu kelompok. Pertama kali kenal ya dari situ,” tutur Daffa pada Jumat (27/2/2026).

Selama masa perkuliahan dan KKN, Farradhila dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul, terutama dengan sesama mahasiswa Hukum. Perhatian alami dan sikap bersahaja korban kepada teman-temannya, seperti sering mengajak makan atau saling mengingatkan, diduga disalahartikan oleh Reyhan. Daffa menyebutkan, “Kalau lagi makan atau kumpul, korban memang suka mengajak teman-teman atau mengingatkan makan. Mungkin karena satu jurusan, jadi merasa satu circle.”

Baper

Perlakuan baik Farradhila inilah yang kemudian memicu perasaan bertepuk sebelah tangan dari Reyhan. Daffa menilai, karakter pelaku yang cenderung tertutup dan kurang memiliki interaksi dekat dengan perempuan sebelumnya, membuatnya terlalu terbawa perasaan atau “baper”. “Mungkin karena pelaku tipenya introvert dan belum pernah dekat sama perempuan sebelumnya, jadi ketika diperlakukan baik seperti itu dia jadi baper,” jelas Daffa.

Padahal, Farradhila telah berulang kali menegaskan bahwa hubungannya dengan Reyhan hanya sebatas teman. Bahkan, korban diketahui telah memiliki kekasih. “Korban sudah bilang kalau dia sudah punya pacar. Dia bilang, ‘kita teman saja’, tapi pelaku seperti tidak menerima,” ujar Daffa, menggambarkan penolakan yang tidak digubris oleh pelaku.

Merasa semakin tidak nyaman dengan pendekatan obsesif Reyhan, Farradhila sempat mengambil langkah drastis dengan membatasi komunikasi, bahkan memblokir nomor pelaku. Namun, upaya menjaga jarak ini tidak sepenuhnya menghentikan Reyhan. Pelaku bahkan nekat mendatangi rumah korban secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan Farradhila. “Tiba-tiba pelaku datang ke rumah Fara, padahal korban sendiri tidak tahu,” imbuh Daffa.

Seiring berjalannya waktu, khususnya saat memasuki semester delapan, hubungan keduanya semakin merenggang. Farradhila terus berupaya menghindar, sementara Reyhan tetap gigih mendekat. “Korban selalu bilang dia sudah punya pacar dan minta jangan diganggu,” kata Daffa, menunjukkan betapa korban telah mencoba segala cara untuk lepas dari jeratan obsesi Reyhan.

Perilaku Reyhan yang terus-menerus mencoba mendekat meskipun ditolak berkali-kali, jelas menunjukkan adanya obsesi sepihak yang tidak diinginkan oleh korban. Penolakan yang terus-menerus diduga menjadi pemicu utama bagi Reyhan untuk nekat melancarkan aksi kekerasan. Mirisnya, Reyhan bahkan telah mempersiapkan kapak dan parang sebelum melancarkan serangan brutalnya.

Puncak tragedi berdarah itu terjadi pada Kamis (26/2/2026) pagi, saat Farradhila hendak mengikuti ujian seminar proposal di kampus. Tanpa ampun, Reyhan mengayunkan kapak sebanyak tiga kali ke arah korban, menyebabkan luka serius di tangan dan bagian kepala Farradhila. Petugas keamanan kampus segera memberikan pertolongan darurat, dan korban lantas dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis intensif.

Leave a Comment