Puluhan jemaah umrah dari Bantul dan Solo harus menelan kenyataan pahit tertahan di Jeddah, Arab Saudi, setelah jadwal kepulangan mereka ke Indonesia dibatalkan secara mendadak. Pembatalan ini disinyalir kuat sebagai dampak langsung dari meningkatnya ketegangan konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yang berimbas luas pada operasional penerbangan internasional.
Rombongan jemaah yang semula dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada Senin (2/3) dini hari tersebut, kini terpaksa menanti kepastian jadwal keberangkatan pengganti. Situasi ini menciptakan ketidakpastian bagi mereka yang telah merindukan kampung halaman.
Salah satu jemaah asal Bantul, Djudiman, membagikan pengalamannya. Ia mengungkapkan bahwa dirinya dan sekitar 30 rekan rombongan lainnya masih berada di Arab Saudi, menanti antrean penerbangan pengganti. “Saya di Jeddah mau pulang, mau pulang di stop, penerbangan dibatalkan. Masih menunggu penerbangan. Antrean penerbangan lagi,” tutur Djudiman saat dihubungi awak media pada Senin (2/3), menggambarkan situasi yang ia alami.
Djudiman menjelaskan bahwa penerbangan mereka seharusnya lepas landas pada Senin dini hari pukul 01.00 waktu setempat. Namun, setelah mengalami penundaan, maskapai akhirnya memutuskan untuk membatalkan penerbangan dan memindahkan seluruh jemaah ke fasilitas akomodasi hotel yang telah disediakan.
Meskipun demikian, Djudiman menegaskan bahwa kondisi di Jeddah tetap kondusif dan aktivitas sehari-hari berjalan normal. Ia meyakinkan bahwa tidak ada gangguan keamanan berarti yang dirasakan oleh para jemaah selama menunggu informasi penerbangan lanjutan. “Enggak, kalau di sini aman enggak apa-apa. Terus penerbangan sudah lancar,” imbuhnya, memberikan gambaran ketenangan di tengah ketidakpastian.
Saat ini, rombongan tersebut masih menanti jadwal penerbangan dengan rute transit melalui Malaysia sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bandara Internasional Yogyakarta (YIA). Informasi terbaru mengenai jadwal pasti keberangkatan mereka masih belum diterima. Djudiman juga memastikan bahwa seluruh anggota rombongan dalam keadaan sehat. Terkait pembatalan tiket, ia menggarisbawahi bahwa pihak maskapai bertanggung jawab penuh atas penanganan para jemaah, termasuk penyediaan akomodasi selama masa penundaan.
Belum Ada Kepastian Data Jemaah Umrah DIY yang Masih Tertahan
Di sisi lain, Plt Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) DIY, Jauhar Mustofa, menyatakan bahwa pihaknya belum dapat mengonfirmasi secara pasti jumlah jemaah umrah via YIA atau warga DIY yang masih tertahan di wilayah Arab Saudi. “Nggak ada data pastinya,” terang Jauhar kepada Pandangan Jogja.
Mengenai imbauan penundaan umrah, Jauhar menambahkan bahwa hal tersebut sepenuhnya menjadi hak jemaah untuk berdiskusi dengan biro perjalanan masing-masing. “Soal penundaan Umrah menjadi haknya jemaah dengan biro perjalanannya,” ujarnya, menekankan otonomi dalam pengambilan keputusan tersebut.
Sebagaimana dirilis dalam siaran pers Kementerian Haji dan Umrah RI yang diterima Pandangan Jogja, Arab Saudi bersama beberapa negara tetangga seperti Oman, Yordania, dan Lebanon, kini mengoperasikan penerbangan secara terbatas dengan status waspada. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap perkembangan situasi keamanan global yang dinamis.
Menyikapi kondisi ini, Staf Teknis Urusan Haji Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KUH) Jeddah, Muhammad Ilham Effendy, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah antisipatif yang intensif. “KUH telah membentuk tiga tim yang bekerja dalam tiga shift dan disebar di tiga titik bandara, yakni Terminal 1, Terminal 2 (eks Saudia), dan Terminal Haji. Langkah ini untuk memastikan pendampingan dan koordinasi berjalan optimal bagi jemaah yang terdampak perubahan jadwal penerbangan,” jelas Muhammad Ilham Effendy, menunjukkan keseriusan dalam penanganan para jemaah umrah.