‘Ini bukan Dubai yang kami kenal’ – Kesaksian warga dan para turis saat Iran menyerang Uni Emirat Arab

Photo of author

By AdminTekno

DUBAI – Selama dua hari terakhir, kehidupan di salah satu kota termewah di dunia, Dubai, seketika berubah. Mayoritas warga dan turis terpaksa membatalkan rencana mereka, memilih berlindung di dalam rumah dan hotel di tengah serangkaian serangan rudal dan drone yang menyasar kota metropolis di Uni Emirat Arab ini. Gempuran Iran tersebut merupakan respons langsung terhadap operasi tempur yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel, menciptakan ketegangan yang mendalam di kawasan tersebut.

Dampak serangan ini terasa signifikan. Beberapa hotel mewah yang menjadi ikon kota, serta Bandara Internasional Dubai yang merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia, dilaporkan turut mengalami kerusakan. BBC berkesempatan berbincang dengan warga dan wisatawan yang terjebak dalam situasi yang tidak terduga ini, memberikan gambaran langsung tentang ketegangan yang mereka alami.

Becky Williams, seorang warga setempat, menyaksikan pemandangan mencekam ketika sekitar 15 rudal “diluncurkan dari belakang rumahnya kemarin”. Rudal-rudal tersebut diidentifikasi sebagai sistem pertahanan UEA yang berupaya mencegat proyektil Iran yang menuju ke arah Dubai. “Anda bisa mendengar cegatan itu terjadi di udara,” tuturnya, menggambarkan intensitas pertempuran di langit. Meski demikian, Becky dan keluarganya memilih untuk tetap tenang, menaruh kepercayaan penuh pada kemampuan militer UEA untuk mempertahankan wilayah udaranya. Mereka optimistis bahwa situasi akan “segera mereda.”

Serangan Iran, yang diklaim sebagai balasan atas agresi AS-Israel, terus berlanjut hingga Minggu (01/03). Di Palm Jumeirah, kepulauan mewah buatan yang menjadi kebanggaan Dubai, Hotel Fairmont The Palm menjadi sasaran ledakan besar. Selain itu, puing-puing dari drone yang berhasil dicegat oleh pertahanan udara mengakibatkan “kebakaran kecil” di fasad ikonik Hotel Burj Al Arab, demikian konfirmasi dari pihak berwenang. Seorang warga Dubai lainnya menyampaikan kepada BBC, “Apa yang kami alami dalam 24 jam terakhir hanyalah sebagian kecil dari apa yang dialami orang lain di daerah konflik, jadi hal ini memberi perspektif.”

Sementara itu, Satya Jaganathan, seorang warga berusia 35 tahun, terpaksa membatalkan rencana liburan akhir pekannya akibat peristiwa ini. “Beginilah kita sekarang, harus tinggal di rumah,” keluhnya. Ia mengungkapkan saudarinya harus mencari perlindungan di apartemennya lantaran tempat tinggalnya berada dekat Pelabuhan Jebel Ali, area yang dilaporkan “banyak puing-puing yang jatuh.” Pada Sabtu (28/02), pejabat setempat mengonfirmasi bahwa serpihan dari “penyergapan udara” memicu kebakaran di pelabuhan tersebut, yang merupakan pelabuhan tersibuk kesembilan di dunia. “Situasinya masih relatif tenang karena hanya ada suara keras setiap beberapa jam, tetapi terasa aneh karena ini bukan Dubai yang kami kenal,” jelas Jaganathan.

Bandara Internasional Dubai juga tidak luput dari kerusakan akibat “insiden” yang disebut oleh otoritas. Ribuan penerbangan menuju dan dari Timur Tengah telah dibatalkan, mencatatkan kejadian ini sebagai salah satu gangguan terparah terhadap perjalanan global sejak pandemi Covid-19. Judy Trotter, seorang turis yang seharusnya kembali ke London pada Sabtu (28/02), mendapati semua penerbangan dibatalkan setibanya di bandara. “Saya bertemu dengan orang-orang yang sangat kesal karena rencana perjalanan mereka terdampak. Ada ribuan orang di bandara. Saya bertemu dengan orang-orang yang bercerita pada saya bahwa mereka melewatkan pemakaman,” ujarnya, menggambarkan kekacauan yang terjadi. Ia juga bertemu banyak penumpang yang “sedang transit” dan kini terjebak di Dubai. Judy merupakan satu dari sekitar 1.000 penumpang terlantar yang diberi kompensasi untuk menginap di hotel, namun mereka diperingatkan untuk menjauhi jendela. “Ada banyak kaca di hotel ini yang mengkhawatirkan. Sepanjang hari, beberapa rudal terdengar,” tambah Trotter.

Kisah mengerikan juga dialami turis Inggris lainnya, Kate Fischer, yang mengaku “sangat ketakutan.” Pada Sabtu malam, ia dan pasangannya buru-buru mengemas “tas darurat” saat anak-anak mereka tidur. Ia bahkan menambahkan telah “menyiram handuk mandi dan handuk” dengan air sebagai persiapan jika harus “melarikan diri di tengah malam dalam kondisi kebakaran.” “Ini pengalaman yang sangat surealis, dikelilingi oleh orang-orang yang mencoba menikmati liburan mereka dan menghibur anak-anak mereka sementara kami bisa melihat asap yang terlihat dari area terdekat yang terkena serangan drone atau rudal,” imbuhnya. Selebriti Vicky Pattison, peserta Strictly Come Dancing, termasuk di antara orang-orang yang harus mengungsi di Dubai. Pattison yang sedang berlibur bersama suaminya, Ercan Ramada, terpaksa membatalkan penerbangan mereka ke Australia. Dalam postingannya di Instagram, pemenang acara I’m A Celebrity – Get Me Out Of Here tersebut menulis, “Kami memikirkan semua orang yang merasa tidak tenang dan tidak aman saat ini.”

  • Ayatollah Ali Khamenei wafat, siapa penerusnya dan apa yang mungkin terjadi selanjutnya?
  • Presiden Prabowo tawarkan jadi juru runding konflik AS-Israel dengan Iran – ‘Sangat tidak realistis’
  • Harga minyak dunia melonjak setelah kapal-kapal diserang di dekat Selat Hormuz

Leave a Comment