Harga migas global meroket usai penutupan kilang Aramco dan Selat Hormuz

Photo of author

By AdminTekno

Harga minyak mentah dan gas bumi (migas) global melonjak pada Senin (1/3), menyusul serangan Israel dan AS terhadap Iran serta balasannya, mengakibatkan penutupan fasilitas migas di seluruh wilayah dan mengganggu jalur logistik di Selat Hormuz.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka sempat naik hingga 13 persen menjadi USD 82,37 per barel, tertinggi sejak Januari 2025, sebelum akhirnya ditutup naik 6,7 persen menjadi USD 77,74 per barel.

Kontrak tersebut melonjak setelah penutupan pasar menyusul pernyataan Garda Revolusi Iran pada Senin malam, bahwa mereka akan membakar kapal apa pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz.

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada harga USD 71,23, naik 6,3 persen. Pada satu titik, harga acuan tersebut melesat lebih dari 12 persen menjadi USD 75,33, tertinggi sejak Juni.

Lonjakan awal harga minyak tersebut tidak sedramatis yang diprediksi beberapa analis. Namun, serangan balasan Iran terhadap negara-negara penghasil energi utama lainnya seperti Arab Saudi dan Qatar memicu kekhawatiran bahwa ketegangan yang berkepanjangan akan berisiko menyebabkan gangguan pasokan tambahan.

Arab Saudi menutup kilang minyak domestik terbesarnya setelah serangan pesawat tak berawak. Qatar menghentikan produksi gas alam cair dan perusahaan milik negara QatarEnergy akan menyatakan keadaan kahar (force majeure) pada pengiriman LNG. Konflik Iran yang meluas juga menyebabkan 150 kapal terdampar di sekitar Selat Hormuz setelah seorang pelaut tewas dan setidaknya tiga kapal tanker rusak.

“Pertanyaan kuncinya adalah berapa banyak pasokan yang akan hilang, berapa lama, dan bagaimana negara-negara besar bereaksi?” kata wakil ketua S&P Global Daniel Yergin.

Gangguan Pengiriman Imbas Blokade Selat Hormuz

Pada hari biasa, kapal-kapal yang membawa minyak mentah setara dengan sekitar seperlima dari permintaan global berlayar melalui Selat Hormuz bersama dengan kapal tanker yang mengangkut solar, bensin, dan bahan bakar lainnya ke pasar-pasar utama Asia termasuk China dan India. Jalur laut ini juga merupakan lalu lintas bagi sekitar 20 persen gas alam cair dunia (LNG).

JPMorgan mengatakan, penyempitan lalu lintas di Selat Hormuz selama tiga hingga empat minggu dapat memaksa produsen Teluk Arab untuk menghentikan produksi dan dapat mendorong harga Brent di atas USD 100.

Analis riset di Global X, Kenny Zhu, mengatakan kompleks energi Amerika Utara berada pada posisi yang baik untuk melindungi diri dari gangguan jika terjadi dampak jangka panjang pada perdagangan energi global.

Respons yang relatif tenang di pasar gas alam AS dibandingkan dengan patokan Eropa dan Asia menggambarkan hal tersebut. Kontrak berjangka gas alam bulan depan naik 10,1 sen, atau 3,5 persen menjadi USD 2,96 per juta British thermal units pada Senin.

Namun, kontrak bulan depan Belanda di pusat gas alam TTF, patokan harga Eropa, ditutup naik sekitar 40 persen menjadi 44,51 euro per megawatt jam (MWh) di Intercontinental Exchange. Sementara harga LNG Asia melonjak hampir 39 persen pada Senin, dengan S&P Global Energy Japan-Korea-Marker (JKM), yang banyak digunakan sebagai patokan harga LNG Asia, berada di USD 15,068 per juta British thermal units (mmbtu), menurut data Platts.

Pasokan Minyak Melebihi Permintaan

Tensi global yang meningkat ini telah berkontribusi pada kenaikan harga Brent sebesar 19 persen tahun ini, sementara WTI naik sekitar 17 persen, meskipun Badan Energi Internasional (IEA) dan analis lainnya percaya bahwa pasar memiliki pasokan yang cukup, dengan produksi tambahan dari produsen seperti AS, Guyana, dan OPEC+ yang diperkirakan akan melampaui permintaan global tahun ini.

Pada Minggu, OPEC+ sepakat meningkatkan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari pada April. Setiap produsen OPEC+ pada dasarnya berproduksi pada kapasitas penuh kecuali Arab Saudi, kata analis RBC Capital, Helima Croft.

Secara global, cadangan minyak yang terlihat berada di angka 7,827 juta barel, cukup untuk memenuhi permintaan selama 74 hari, yang mendekati angka median historis, tulis Goldman Sachs dalam sebuah catatan.

Di sisi lain, harga rata-rata bensin eceran di AS melampaui USD 3 per galon untuk pertama kalinya sejak November pada Senin. Analis memperkirakan konflik yang meluas akan semakin meningkatkan harga dalam beberapa hari mendatang.

Harga kontrak berjangka diesel ultra-rendah sulfur AS naik ke level tertinggi dua tahun pada hari Senin di angka USD 2,90, meningkat sekitar 9 persen, sementara harga kontrak berjangka bensin naik sekitar 4 persen.

“Meskipun kita tidak tahu di mana gangguan ini akan berakhir atau bagaimana konflik ini pada akhirnya akan terselesaikan, hasil jangka pendeknya kemungkinan besar adalah peningkatan volatilitas di pasar energi global dan potensi pengalihan rute pengiriman minyak dan gas global,” kata Zhu dari Global X.

Leave a Comment