China desak Iran buka jalur Selat Hormuz agar pasokan energi lancar

Photo of author

By AdminTekno

Para eksekutif senior di sektor gas menyatakan China sedang mendesak pejabat Iran agar tidak mengambil langkah yang dapat mengganggu ekspor gas Qatar maupun pengiriman energi lain yang melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia.

Sebagai pembeli sebagian besar minyak Republik Islam tersebut, China menjadi penopang ekonomi penting bagi Iran. Namun, sebagai importir energi terbesar di dunia, China justru lebih bergantung pada kawasan Teluk Persia secara luas untuk pasokan minyak dan gas. Seluruh kargo tersebut harus melewati jalur sempit Selat Hormuz, seperti dikutip dari Bloomberg.

Sementara Qatar, yang menyumbang sekitar seperlima pasokan gas alam cair (LNG) global, menjadi perhatian khusus. Setelah serangan drone Iran pada Senin (2/3), Qatar menghentikan produksi di Ras Laffan, fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia, menandakan penghentian total pertama dalam hampir tiga dekade operasionalnya.

Eksekutif perusahaan milik negara yang telah mendapat pengarahan dari pejabat pemerintah, menyatakan importir energi China diberi tahu bahwa Beijing berupaya memastikan kapal-kapal tetap dapat melintas di Hormuz.

Pejabat pemerintah China disebut menekan mitra senior mereka di Iran agar Teheran tidak menyerang kapal tanker minyak dan LNG yang melintasi selat tersebut, serta membiarkan pasokan energi tetap mengalir. Informasi ini disampaikan oleh sejumlah eksekutif perusahaan yang enggan disebutkan namanya karena pembicaraan tersebut tidak bersifat publik.

Lalu lintas kapal tanker di jalur vital itu praktis terhenti sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel memulai kampanye pengeboman pada akhir pekan kemarin, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan rudal di berbagai wilayah kawasan.

Para eksekutif pun mengatakan pejabat Iran diminta menghindari serangan terhadap pusat ekspor seperti Qatar, yang sendiri memasok sekitar 30 persen kebutuhan LNG China, porsi signifikan meskipun China juga menerima pasokan melalui pipa dan sumber lain.

Sejauh ini, China hanya menyampaikan pernyataan publik yang terbatas mengenai Iran. Menteri Luar Negeri Wang Yi, pada Senin (2/3), mengatakan kepada mitranya Abbas Araghchi meskipun Beijing mendukung upaya menjaga keamanan nasional, Teheran perlu memperhatikan “kekhawatiran yang wajar” dari negara-negara tetangganya.

Ringkasan pernyataan tersebut pun tidak menyebutkan soal pasokan energi. Kementerian Luar Negeri juga belum menanggapi pertanyaan tertulis mengenai posisi resmi China. Dalam pengarahan rutin, juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan negaranya “sangat prihatin” atas meluasnya konflik.

Di sisi lain, smelter China terus memproduksi tembaga dalam jumlah rekor, sehingga meningkatkan stok dan berpotensi memperlambat kenaikan harga logam tersebut yang sebelumnya menguat tajam.

Menurut Bloomberg Economics, perang terhadap ekonomi China dinilai masih dapat dikelola untuk saat ini, dengan kemungkinan dorongan ringan terhadap inflasi akibat kenaikan harga minyak. Namun, secara geopolitik, dampaknya bisa lebih besar dan bersifat jangka panjang.

Rencana lima tahun China akan menjadi penentu seberapa cepat negara penghasil emisi terbesar itu dapat menurunkan emisi gas rumah kaca serta sejauh mana dukungan baru bagi teknologi bersih akan diberikan, kebijakan yang krusial bagi keberhasilan dunia dalam mengatasi perubahan iklim.

Selama beberapa dekade, para pemimpin China cenderung mengabaikan seruan untuk menyeimbangkan ekonomi ke arah konsumsi domestik, dan tetap mempertahankan strategi pertumbuhan yang bertumpu pada investasi besar dan orientasi ekspor.

Leave a Comment