Cerita WNI dengar rentetan ledakan di Teheran saat urus kepulangan ke RI

Photo of author

By AdminTekno

Sebanyak 22 warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Iran telah pulang ke tanah air pada Selasa (10/3). Ketika tiba di Bandara Soekarno-Hatta, mereka menceritakan kondisi sebelum pulang dari Iran.

Salah satu WNI, Zulfan (69) menceritakan situasi mencekam dirasakan ketika para WNI berada di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Iran yang berada di Kota Teheran untuk mengurus kepulangan. Menurutnya bom sempat lewat dan membuat kaca di kantor KBRI bergetar.

“Situasinya mencekam ketika kami berada di KBRI Teheran, itu 10 bom di atas KBRI lewat. Dan 1 kilo (meter) sampai 2 kilo itu bom itu luar biasa, sehingga kaca-kaca di kedutaan itu bergetar,” ucap Zulfan.

Di saat situasi tersebut, Zulfan mengatakan para WNI sempat bertolak menuju basement untuk berdiam di sana. Namun Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran, Rolliansyah Soemirat, mengatakan itu tidak perlu dilakukan.

“Kami menuju basement sebenarnya, tapi kata Dubes sementara enggak usah dulu,” tutur Zulfan.

Selain itu, salah seorang WNI yang lain, Jawad (26) menceritakan terdengar suara ledakan ketika di KBRI saat hendak berangkat pada Jumat (6/3). Hal itu katanya berasal dari pertahanan udara milik Iran yang tengah menangkis serangan.

“Kami berangkat dari KBRI pukul sekitar 6 pagi, 6 subuh. Jadi ketika Bapak Dubes lagi briefing, memang terdengar suara-suara ledakan. Tapi setelah dikonfirmasi, suara ledakannya itu merupakan air defense yang dilakukan Iran untuk menangkis serangan-serangan dari Amerika-Israel,” tutur Jawad.

Salah seorang dosen WNI yang mengajar di Universitas Teheran, Purkon Hidayat, menceritakan suara yang sama. Ia mengungkapkan suara ledakan begitu besar, padahal jarak titik ledak jauh.

“Itu jam 05.30 pagi, waktu Pak Dubes akan memberikan briefing pas subuh ya, terdengar suara ledakan yang besar sekali. Itu ledakan serangan rudal. Padahal jaraknya dengan KBRI sebetulnya jauh, tapi suaranya sangat dekat dan besar sekali,” ujar Purkon.

Purkon pun menjelaskan lebih lanjut bahwa depot-depot bahan bakar minyak di Iran turut diserang. Menurutnya serangan ini dilakukan dalam skala yang lebih luas.

“Setelah itu ketika kami di Baku, ada serangan terhadap depot-depot minyak BBM di sekitar Tehran. Nah, artinya ini skalanya sudah lebih luas dan serangan terhadap depot itu ada sekitar 20-an depot BBM,” ungkap Purkon.

Purkon mengatakan serangan terhadap depot bahan bakar minyak itu berdampak buruk terhadap polusi di sana dan bahkan membuat Kota Teheran sempat gelap.

“Waktu itu saya pantau dari media lokal Iran, dampak ledakannya sampai membuat gelap Teheran itu, dan masuk juga hujan asam di Tehran waktu hari serangan itu,” kata Purkon.

Purkon mengaku ia dapat melihat jelas rudal-rudal yang berterbangan dan meledak dari kediamannya di Kota Teheran.

“Bukan hanya melihat, jelas, karena ledakan dari rumah, terutama di Teheran ya. Kalau daerah lain mungkin skalanya lebih kecil karena yang ditarget itu Teheran,” sebut Purkon.

Purkon menceritakan ledakan rudal terdengar paling parah yaitu pada serangan pertama terhadap Iran, Sabtu (28/2). Ledakan itu terdengar secara beruntun dan tempat kampusnya mengajar segera membubarkan kelas hingga diliburkan.

“Itu jam 09.00 lebih terdengar suara ledakan bukan satu kali, beruntun, yang menargetkan serangan ke pimpinan Iran itu. Kebetulan saya tidak jauh dari lokasi, di kampus. Mahasiswa di kampus sampai diminta untuk keluar dari kelas, terus aktivitas diliburkan,” tutur Purkon.

Purkon menyebutkan serangan yang dilancarkan Amerika-Israel terhadap Iran telah menargetkan wilayah-wilayah sipil. Menurut Purkon, penyerangan terhadap depot bahan bakar minyak dan sekolah siswi di Iran menandakan serangan telah melebar melampaui target militer.

“Serangan sekarang ini sudah mengarah kepada target-target sipil. Dua hari yang lalu targetnya jelas depot-depot minyak. Sebelumnya pada hari Sabtu juga bersamaan, di luar Teheran, di daerah perbatasan, itu sekolah siswi dibom, 165 orang dalam satu waktu, dan dua kali berturut-turut dibomnya,” ucap Purkon.

“Artinya skala serangannya sudah melebar, bukan hanya target militer tapi sudah ke target sipil,” sambungnya.

Dengan kondisi demikian, Purkon mengaku masih merasa sulit untuk memutuskan kembali ke Iran, khususnya dalam waktu dekat. Sementara itu, kegiatan pembelajaran dilakukan secara daring.

“Untuk mempertimbangkan kembali lagi ke sana, saya pikir sangat sulit. Dengan waktu yang sangat dekat ini tidak mungkin. Jadi keluarga saya jelas tidak akan kembali lagi. Saya juga berkoordinasi dengan pimpinan kampus bahwa sementara aktivitas kampus, belajar mengajar mungkin online,” ungkap Purkon.

Leave a Comment