
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berharap perayaan Hari Raya Nyepi (19/3) dan Idul Fitri tahun ini dapat berlangsung dengan baik di tengah keberagaman masyarakat ibu kota.
Hal itu disampaikan Pramono saat menghadiri upacara Melasti dalam rangka menyambut Nyepi Tahun Baru Caka 1948 di Pura Segara, Jakarta Utara, Minggu (15/3). Ia hadir didampingi sang istri, Endang Nugrahani. Hadir pula Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka.
Upacara Melasti merupakan ritual penyucian diri dan alam semesta yang dilakukan menjelang Nyepi. Dalam tradisi ini, umat memohon pembersihan diri dari segala kotoran lahir dan batin sebelum memasuki Tahun Baru Caka.

Pramono mengatakan, pemerintah daerah hadir untuk memastikan umat Hindu di Jakarta dapat menjalankan rangkaian ibadah menjelang Nyepi dengan tertib dan khidmat.
“Pada hari ini, saya bersama Ibu Wamen dan istri saya, menghadiri upacara Melasti sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1948. Kehadiran kita untuk memastikan umat Hindu di Jakarta dapat menjalankan ibadahnya dengan baik, tertib, khidmat, dan penuh dengan sukacita,” katanya usai menghadiri upacara tersebut.
Menurut dia, makna upacara Melasti tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk melakukan penyucian diri dan hidup selaras dengan sesama.

“Melasti mengajarkan kepada kita semua untuk melakukan penyucian diri, lahir dan batin, menenangkan pikiran serta menata hati agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana dan tentram,” ujarnya.
Pramono menyoroti bahwa tahun ini perayaan Nyepi berlangsung berdekatan dengan Idul Fitri. Ia berharap kedua perayaan besar tersebut dapat berjalan dengan lancar dan membawa kedamaian bagi masyarakat.
“Tahun ini, perayaan Nyepi hampir bersamaan, berdekatan dengan perayaan Idul Fitri yang akan sebentar lagi kita jalani bersama-sama. Dua perayaan besar yang memiliki makna tentunya bagi umat Hindu dan juga bagi umat Islam. Mudah-mudahan perayaan Nyepi, maupun perayaan Idul Fitri berlangsung dengan baik,” tuturnya.

Ia juga mengajak seluruh warga Jakarta menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama agar situasi ibu kota tetap aman dan kondusif.
“Karena itu saya mengajak kepada seluruh masyarakat dan umat yang ada di Jakarta untuk bersama-sama menjaga keharmonisan, toleransi, keberagaman, dan tetap menjaga Jakarta aman, damai, dan kondusif,” ujar Pramono.

Pramono turut menyampaikan ucapan selamat kepada umat Hindu yang akan menjalankan rangkaian Nyepi, termasuk Catur Brata Penyepian setelah rangkaian upacara ini. Umat akan melaksanakan Amati Geni (tidak menyalakan api/listrik), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak mencari hiburan).
“Sekali lagi, saya atas nama Pemerintah DKI Jakarta menyampaikan, mengucapkan, selamat menjalankan upacara Melasti dan semoga Catur Brata Penyepian dapat dijalankan dengan baik, membawa kedamaian serta kesucian bagi kita semua,” tutup dia.

Dalam kesempatan itu, Ketua Suka Duka Hindu Dharma I Made Sudarta juga menyampaikan sejumlah kebutuhan fasilitas bagi umat Hindu di kawasan tersebut, termasuk dermaga dan mesin kremasi dalam menunjang pelaksanaan upacara Ngaben dan Melasti.
Menanggapi hal tersebut, Pramono mengatakan, pihaknya akan meninjau kondisi fasilitas yang ada, termasuk kemungkinan perbaikan atau penyesuaian.
Upacara Melasti

Pantauan kumparan di lokasi, ratusan umat Hindu yang berasal dari 20 pura se-Jabodetabek itu mengenakan pakaian adat sembahyang serba putih. Laki-laki mengenakan udeng di kepala, sedangkan perempuan mengenakan selendang di pinggang.
Suasana di pura terasa khidmat, diiringi alunan musik tradisional, tarian Sekar Jagat, serta dipenuhi sesaji untuk Pralingga (simbol suci/arca) di setiap sudutnya.

Prosesi berlangsung dengan doa bersama dan rangkaian ritual keagamaan yang dipimpin para pemangku.
Umat tampak secara bergantian mengikuti persembahyangan sambil membawa sesaji sebagai simbol penyucian.
