
Kematian seorang pegawai PT Freeport Indonesia bernama Simson Mulia pada Rabu (11/03) masih menyisakan tanda tanya. Dia tewas ditembak orang tidak dikenal di dalam area kerja Freeport yang berstatus objek vital nasional dan dijaga ribuan aparat selama 24 jam dengan biaya keamanan lebih dari Rp1 triliun per tahun.
Akankah kejadian ini diungkap secara terang benderang di pengadilan?
Simson Mulia adalah insinyur senior di Departemen Hidrologi PT Freeport Indonesia. Pagi hari pada 11 Maret lalu, dari tempat kerjanya di sekitar Gunung Nemangkawi—atau yang biasa disebut sebagai Puncak Jaya atau Carstenz Pyramid oleh orang-orang di luar komunitas adat Amungme—Simson menghubungi istrinya yang tinggal di Bandung, Jawa Barat.
Simson berbicara berbagai hal kepada istrinya, termasuk mengabarkan bahwa dia hendak beranjak ke lokasi kerjanya hari itu.
Menurut laporan Freeport, pagi itu Simson akan memeriksa urusan hidrologi di sekitar tambang terbuka Grasberg yang berada di Kabupaten Mimika. Freeport sudah berhenti mengeksploitasi tambang terbuka ini pada 2020 karena cadangan emas serta tembaga di permukaannya telah habis sejak pertama kali dikeruk tahun 1991.
Sekitar pukul 8.30 Waktu Indonesia Timur, Simson tengah berada di area ekploitasi batu kapur. Oleh Freeport, kawasan yang berada di ujung utara Grasberg itu disebut sebagai Jayapura Lime Quarry.
Di Jayapura Lime Quarry terdapat instalasi pemecah dan penghalus batu kapur. Area kerja Freeport ini berada persis di bawah deretan gunung kapur yang menjulang vertikal di utara Grasberg.

Di lokasi itu Simson tidak sendiri. Dia bekerja bersama sejawatnya yang bernama Abraham Marindal.
Pada detik-detik jelang kematiannya, Simson tengah berada di bak mobil pikup operasional Freeport bernomor lambung LV-4446. Abraham duduk di bangku sopir.
Tiba-tiba muncul dua letusan senjata api. Abraham tercekat, lalu melihat Simson sudah terjatuh dan berdarah. Helm yang dipakai Simson terlepas dari kepalanya.
Abraham kemudian menyalakan handy talkie. Dia mengontak sejawatnya di kantor agar mengirim bantuan evakuasi. Setelahnya, dia mencari posisi untuk berlindung dari potensi tembakan.


Berdasarkan panggilan darurat Abraham itu, sekelompok personel Brimob bergerak menuju Jayapura Lime Quarry.
Begitu aparat kepolisian bersenjata lengkap tiba di lokasi itu, sejumlah letusan senjata api kembali menyalak. Informasi ini diklaim oleh Brigjen Faizal Ramadhani, orang nomor satu di Satgas Cartenz—satuan tugas polisi dan TNI di Tanah Papua.
Dua video yang dikirim Faizal kepada pers memperlihatkan sejumlah anggota Brimob bersembunyi di balik mobil dan bebatuan. Seseorang yang merekam video itu berkata, “Penembakan berulang kali terdengar.”
Para personel Brimob di video itu saling bertanya tentang arah datang tembakan. “Dari arah kita, jam 11,” kata salah satu dari mereka.
Sementara itu personel Brimob yang lain merunduk di belakang bebatuan. Mereka menghadap ke arah gunung kapur.
Hingga saat ini BBC News Indonesia belum bisa meverifikasi kesahihan dua video tersebut. Dalam dua video itu Simson tidak terlihat.

Faizal berkata, personelnya membawa Simson ke Rumah Sakit Internasional SOS yang berada di permukiman pegawai Freeport, Tembagapura, sekitar pukul 10.05.
Faizal mengklaim pekerja medis sempat melakukan tindakan penyelamatan terhadap Simson. Namun sekitar dua jam setelah penembakan, laki-laki berumur 48 tahun itu menghembuskan nafas terakhirnya. Menurut kepolisian, Simson tertembak di bagian telinga kiri.
Abraham Marindal merupakan satu-satunya saksi kunci dalam peristiwa ini. Dia tidak tertembak, tapi telapak tangannya terluka akibat terjatuh saat berusaha menyelamatkan diri.
Sejak kasus penembakan itu, Abraham belum muncul ke publik. Polisi mengklaim dia mengalami trauma—sehingga proses penggalian kesaksian terhadapnya juga tertunda.
Mengagetkan tapi bukan kejadian pertama
Peristiwa yang menimpa Simson ini membuat kaget keluarganya. Seorang kerabat dekatnya berkata, “kejadian ini tragis dan dramatis.”
“Kami kaget dengan kematiannya yang seperti itu,” ujar kerabat Simson yang meminta identitasnya disembunyikan dengan alasan menjaga keamanan diri. Kami menjumpainya di Rumah Duka APK Santo Yusuf, Bandung—tempat jenazah Simson disemayamkan sebelum akhirnya dikebumikan, Sabtu (14/03).
Namun Simson bukanlah satu-satunya pegawai yang tewas ditembak saat berada di dalam wilayah Freeport. Peristiwa serupa dialami Graeme Thomas Wall, pekerja Freeport berkebangsaan Selandia Baru, pada 30 Maret 2020.
Graeme tewas ditembak “orang tidak dikenal” yang masuk ke perkantoran Freeport di kompleks Kuala Kencana. Graeme tewas dengan luka tembak di dada kiri.

Berbeda dengan Grasberg yang berada di pegunungan, Kuala Kencana, yang juga memuat perumahan, lapangan golf, dan sarana hiburan lainnya untuk pegawai Freeport, terletak sekitar 30 menit dari pusat kota Timika.
Walau begitu, baik Grasberg maupun Kuala Kencana sama-sama berstatus sebagai objek vital negara. Artinya, bukan cuma dijaga oleh aparat keamanan, dua kawasan ini semestinya hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang memiliki kartu identitas maupun memegang undangan resmi Freeport.
“Di wilayah perusahaan ini ada double security system,” kata seorang pekerja Freeport yang memberi keterangan secara anonim. “Ada pengamanan berlapis,” ujarnya.
Seperti apa penjagaan keamanan di Freeport?
Terdapat setidaknya 1.600 polisi dan tentara yang menjaga wilayah kerja dan kawasan pendukung Freeport di Mimika. Data ini merujuk laporan publik yang dipublikasikan perusahaan itu pada 2025.
Dari angka tersebut, 758 di antaranya merupakan polisi dari Korps Brimob. Mereka menjalankan operasi pengamanan dalam Satgas Amole dalam rentang November 2025 hingga Mei 2026. Dalam bahasa orang-orang Amungme, Amole merupakan kata sapaan.
Hampir setiap tahun, Brimob merotasi pasukan mereka yang bertugas di area Freeport. Hal serupa juga diterapkan TNI.
Dalam seremoni keberangkatan personel Brimob ke Freeport, April 2023, orang nomor satu di institusi itu, Komjen Anang Revandoko berkata, “permasalahan di Papua sangat-sangat kompleks, ditambah lagi dengan kondisi alamnnya.”

Selain aparat negara, Freeport juga mempekerjakan 410 petugas keamanan yang berstatus pegawai dan 655 penjaga keamanan yang dipasok oleh kontraktor alias pihak ketiga. Dua kategori petugas keamanan ini diklaim tidak memegang senjata.
“Pengaturan keamanan ini diperlukan untuk meningkatkan perlindungan pegawai, tenaga kontrak, dan aset kami, terutama mengingat tantangan keamanan dan medan yang terpencil dan sulit,” tulis Freeport dalam laporannya.
Kami telah mengajukan pertanyaan terkait penerapan sistem keamanan dan efektivitasnya kepada Freeport melalui surat tertulis. Dalam jawabannya, Freeport menyebut seluruh wilayah kerja mereka dijaga sebagai objek vital oleh aparat negara dari Polri dan TNI.
Mereka berkata selalu mendasarkan skema pengamanan pada Keputusan Presiden Nomor 63 Tahun 2004 tentang pengamanan objek vital nasional.
Merujuk aturan itu, Polri “wajib memberi bantuan pengamanan”. Beleid ini membuka peluang keterlibatan TNI, tapi dalam batasan “memberi bantuan sesuai peraturan yang berlaku”.
Seorang eks pekerja Freeport berkata, mayoritas pos penjagaan di kawasan perusahaan itu diisi anggota Brimob. Pos tentara, kata dia, ditempatkan di luar wilayah pertambangan.

Merujuk keterangan Brigjen Alfred Papare, saat masih menjabat Kapolda Papua Tengah, November lalu, anggota Brimob ditugaskan di hampir seluruh area Freeport—yang membentang dari pelabuhan dan pembangkit listrik di kawasan pesisir Amamapare, perumahan Kuala Kencana, hingga kawasan tambang di pegunungan.
Anggota Brimob, kata Alfred, juga menjaga lokasi kereta gantung di Tembagapura yang menuju tambang terbuka Grasberg.
Selain berkendara dengan mobil berpenggerak empat roda (light vehicle/LV), melalui kereta gantung ini menjadi merupakan satu-satunya akses menuju Jayapura Lime Quarry dan fasilitas lain di sekitar tambang terbuka Grasberg, seperti Museum Tambang Freeport.
“Kalau untuk naik ke Grasberg menggunakan kereta gantung, aksesnya harus pakai kartu identitas Freeport,” kata eks pegawai salah satu perusahaan tambang emas terbesar di dunia itu.
“Kalau pakai Mobil LV juga sama, mereka tetap akan cek ID card,” ujarnya.
Perjalanan ke tambang terbuka Grasberg dan museum tambang hampir selalu ada dalam agenda kunjungan yang diadakan Freeport, baik untuk pejabat negara maupun pihak eksternal seperti figur-figur pemengaruh maupun pers.
Saat menjabat presiden, Joko Widodo pernah naik ke Grasberg dan berkunjung ke museum tambang Freeport pada 1 September 2022. Lokasi penembakan terhadap Simson berjarak sekitar dua kilometer dari museum ini.

Pelibatan tentara dalam pengamanan Freeport disahkan dalam nota kesepahaman. Tony Wenas, Presiden Direktur Freeport Indonesia, meneken kerja sama itu bersama Panglima TNI—saat itu dijabat Jenderal Hadi Tjahjanto—pada Desember 2019.
Kesepakatan soal pelibatan tentara itu diperbarui lagi oleh dua institusi itu pada Mei 2022. Jenderal Andika Perkasa, yang saat itu berstatus orang nomor satu di TNI, berkata dalam pertemuan dengan anggota direksi Freeport.
“Pertimbangan taktis harus dari kami karena kami yang punya bidang, jadi urusan personel dan penempatan pos harus kami yang menentukan, bukan pertimbangan Freeport,” kata Andika dalam pertemuan dua bulan sebelumnya.
Dalam pertemuan itu, Andika juga meminta Freeport “memberikan dukungan berupa pemberian alat komunikasi bagi para personel TNI yang bergabung dalam satgas”.
“Tugas kami menjaga keamanan objek vital nasional. Saya ingin semua transparan, terutama dalam pemenuhan hak kepada prajurit,” kata Andika.
Berapa ongkos pengamanan Freeport?
Selama 2024, Freeport mengeluarkan US$89 juta atau setara Rp1,5 triliun untuk urusan keamanan wilayah kerja dan area penunjang mereka di Mimika.
Dari nominal itu, Freeport mengklaim Rp441,6 miliar dialokasikan sebagai “biaya dukungan” terhadap aparat yang berasal dari negara, yakni polisi dan tentara. Dari jumlah itu, 57% di antaranya “disalurkan secara langsung kepada Polri yang memegang tanggung jawab utama mengamankan Grasberg.”
Dalam laporan yang mereka publikasikan tahun 2025, Freeport bilang bahwa 71% dari seluruh anggaran untuk Polri dan TNI “diberikan dalam bentuk barang, seperti makanan, fasilitas tempat tinggal, bahan bakar, ongkos perjalanan, dan perbaikan kendaraan.”
Pengeluaran untuk makanan, tulis Freeport, merupakan memakan alokasi terbesar.
“Sisanya kami berikan dalam bentuk tunjangan uang untuk unit kepolisian dan militer,” tulis Freeport.
Yang termasuk dalam kategori pengeluaran ini, antara lain biaya yang dikeluarkan kepolisian dan TNI untuk program bantuan masyarakat, serta tunjangan bulanan bagi polisi dan tentara “untuk meringankan kesulitan penugasan di lokasi terpencil dan memberikan tunjangan hidup dasar.”

Freeport mengklaim, seluruh tunjangan bulanan bagi polisi dan tentara yang menjaga area mereka disalurkan melalui satu pintu, yaitu pemerintah pusat di Jakarta.
Dalam laporan tahunan mereka, Freeport menyatakan “tidak menyediakan amunisi jenis apa pun, baik yang mematikan maupun tidak mematikan serta tidak menjalankan komando atau kendali apa pun atas militer atau kepolisian Indonesia.”
Di luar pengeluaran untuk aparat kepolisian dan tentara, Freeport menghabiskan sekitar Rp1 triliun untuk anggaran pengamanan internal selama tahun 2024, termasuk tiga perusahaan yang bekerja sama dengan mereka.
Salah satu perusahaan jasa pengamanan swasta di Freeport adalah PT Nawakara Perkasa Nusantara. Korporasi ini dibentuk tahun 1996 oleh sejumlah jenderal polisi.

Jadi mengapa dengan anggaran triliunan dan ribuan personel keamanan orang tidak dikenal bisa masuk ke Grasberg, menenteng senjata, bahkan menembak pegawai Freeport?
“Mohon waktu [untuk menjawab] karena kami butuh proses penyelidikan secara mendalam,” kata Kombes Jeremias Rontini, Kapolda Papua Tengah, lewat pesan singkat.
Baca artikel terkait berbagai peristiwa penembakan lainnya di Freeport:
- Proyektil militer di lokasi penembakan dua guru asal AS di Grasberg tahun 2002
- Antonius Wamang dan penembak misterius lain di Grasberg
- Dua karyawan Freeport tewas dalam mobil terbakar
- Perempuan Papua meninggal dunia diduga akibat salah tembak oknum aparat
Sebagai perwira polisi, Rontini memiliki pengalaman panjang dengan isu Freeport. Meniti karier di Brimob, Rontini menjabat Wakil Kepala Polres Mimika pada 2008.
Saat seorang tentara ditembak di jalan kilometer 41 di kawasan Freeport pada Oktober 2013, Rontini telah menjadi orang nomor satu di Polres Mimika. Enam bulan sebelumnya, dua alat berat Freeport di jalan kilometer 36 juga dibakar.
Kami bertanya kepada Rontini mengapa insiden keamanan terus terjadi di area Freeport meski sistem pengamanan “terus-menerus diperbaiki”.
“Mimika yang dulu berbeda dengan yang sekarang,” ujar Rontini. Dia tidak bersedia mengelaborasi perkataan itu lebih lanjut.
Terduga pelaku pernah disebut sudah tewas dan kisah korban salah tangkap
Dalam kasus penembakan terhadap Simson Mulia, Kombes Yusuf Sutejo, selaku Juru Bicara Satgas Cartenz, menuduh milisi pro-kemerdekaan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)—yang dia sebut sebagai kelompok kriminal bersenjata.
Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom, belum bisa memastikan apakah penembakan itu dilakukan organisasinya atau tidak. Alasannya, milisi TPNPB yang biasanya mengumpulkan informasi di Mimika ditangkap aparat awal Maret lalu.
“Kami kesulitan mendapatkan laporan PIS dari wilayah Timika dan Tembagapura,” kata Sebby melalui rekaman audio.

Tepat satu bulan sebelum penembakan di Jayapura Lime Quarry yang menewaskan Simson, insiden keamanan terjadi jalan kilometer 50, antara Kuala Kencana menuju Tembagapura. Seorang tentara dari Koramil Tembagapura, yaitu Sersan Kepala Arifin Cepa, tewas dalam peristiwa itu.
Beberapa jam usai kejadian, Juru Bicara Kodam Cenderawasih, Letkol Tri Purwanto, menyebar keterangan pers kepada para jurnalis. Dia menyebut Arifin Cepa tewas di dalam mobil saat sedang menjalankan patroli.
Tri berkata, Arifin tewas dalam kontak tembak dengan milisi TPNPB. Selain Arifin, seorang tentara lain yang mengendarai mobil patroli itu, yaitu Sersan Satu Hendrikus, mengalami pendarahan di bagian hidung.
Namun informasi berbeda disampaikan Satgas Cartenz pada 7 Maret lalu. Berdasarkan penyelidikan, klaim satgas ini, Arifin Cepa tewas bukan akibat kontak tembak, melainkan karena diserang menggunakan sangkur.

Dalam keterangan tertulis yang juga disebarkan kepada pers, Satgas Cartenz bilang pelaku yang menyerang Arifin adalah Jeki Murib. Jeki, menurut Komando Operasi Habema yang dibentuk TNI, sudah tewas ditembak personel militer di Distrik Omikia, Kabupaten Puncak, pada Juli 2025.
Jeki, menurut Satgas Cartenz, pada 11 Februari lalu menumpang mobil yang dikendarai Sersan Satu Hendrikus—yang ditumpangi pula oleh Sersan Kepala Arifin Cepa serta sejumlah warga sipil, termasuk pegawai kontraktor Freeport.
Polisi menyebut Jeki menyembunyikan sangkur di dalam sepatunya. Arifin dan Hendrikus tak menyadari itu. Saat berhenti di rest area kilometer 50 itu, menurut kepolisian, Hendrikus bahkan sempat memberi helm kepada Jeki—yang kemudian disebut langsung menyerang sersan satu itu.
Arifin, yang saat itu berada di mobil, seketika juga diserang milisi TPNPB yang menyamar dan turut menumpang kendaraan operasional milik Freeport tersebut.

Terkait insiden serangan yang menewaskan Arifin ini, pada 2 Maret lalu Koops TNI Habema sempat menangkap enam orang asli Papua—dengan tuduhan terlibat dan berkomplot dengan Jeki Murib.
Tentara membawa enam orang ini ke Markas Kodim 1710/Mimika, dengan kondisi mata dililit lakban dan dua tangan yang diikat bagian bokong. Namun sehari setelah penangkapan, enak orang itu dilepaskan.
Anggota DPRD Mimika, Anton Alom, yang merupakan pensiunan tentara, turut mengadvokasi keenamnya. Anton menyebut mereka adalah warga sipil, bukan milisi TPNPB.
Salah satu dari mereka, kata Anton, bernama Wainus Kogoya bahkan berstatus Ketua RT di sebuah pemukiman di Timika.

Selain menangkap enam orang itu, dalam operasi tanggal 2 Maret itu tentara menewaskan satu orang warga—yang awalnya mereka tuduh sebagai anggota TPNPB. Nama laki-laki itu adalah Eanus Mom.
Eanus tewas dalam penyergapan tentara di jalan kilometer 69 antara Kuala Kecana-Tembagapura. Dia ditembak di bagian dada kanan, tak lama setelah selesai mendulang emas sisa pengolahan Freeport secara tradisional.
Eanus meninggalkan istri dan dua anak perempuan. Saat Kodim Mimika menyerahkan memulangkan jenazah Eanus ke tempat tinggalnya di Distrik Kwamki Narama, isak tangis terus didengungkan kerabatnya.
“Korban ini masyarakat biasa. Selama puluhan tahun dia naik turun cari makan, mendulang,” kata Yohanis Amisin, salah satu kerabat Eanus.
“Uang habis di sini, dia kembali lagi naik untuk kerja. Namanya juga cari makan,” tuturnya.
Liputan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Endy Langobelen, jurnalis di Timika dan Yuli Saputra, jurnalis di Bandung
Baca juga:
- Kisah orang asli Papua tolak blok minyak terbesar di Indonesia – Tak mau ‘tragedi bom’ 1977 terulang
- ‘Bom-bom itu dijadikan lonceng di balai kampung dan gereja’ – Orang asli Papua di Agimuga dan trauma tentang Peristiwa 1977
- ‘Perusahaan masuk tanpa penjelasan, jadi kami anggap mereka sebagai pencuri’ – Apakah pertambangan sejahterakan orang asli Papua?
Baca juga:
- ‘Saat diperpanjang hingga 2041, pemilik ulayat tak dilibatkan, sekarang ditambah lagi hingga 2061’ – Pemerintah Indonesia dinilai terburu-buru memperpanjang kontrak Freeport
- Tujuh karyawan Freeport yang terjebak di bawah tanah dipastikan meninggal dunia – ‘Begitu masuk tambang bawah tanah, saya tidak pikirkan hidup-mati’