Kisah pembuat konten di Sitinjau Lauik, Sumatra Barat – ‘Target saya bukan mencari hadiah’

Photo of author

By AdminTekno

Candra Kurniadi memacu sepeda motornya menuju Sitinjau Lauik—salah satu tanjakan ekstrem di Sumatra Barat yang menghubungkan Kota Padang dan Solok. Pria berusia 29 tahun itu bukan sekedar hendak melalui jalur tersebut, tetapi dia ingin menyiarkan secara langsung keadaan di lokasi tersebut.

Di atas sepeda motornya sudah tergantung tripod, tas berisi kamera, dan ponsel dengan baterai terisi penuh.

Sitinjau Lauik terkenal bukan hanya karena sudut kemiringannya yang ekstrem, tetapi juga karena tikungan tajam, jurang yang yang dalam, serta perbukitan rawan longsor saat hujan turun di lokasi tersebut.

Kabut tebal yang muncul tiba-tiba dan menghambat penglihatan pun menjadi salah satu tantangan para pengendara.

Karena berbagai kondisi sulit itulah kerap terjadi insiden di Sitinjau Lauik. Mulai dari truk dan bus yang tak kuat menanjak lalu mundur perlahan, hingga mobil yang hilang kendali.

Momen-momen berlangsungnya aneka insiden tersebut menjadi tontonan warganet se-Indonesia di beragam platform media sosial.

Lalu siapa yang merekam?

Itulah pekerjaan Candra dan rekan-rekannya sesama pembuat konten.

Setelah menempuh perjalanan sejauh 20km, Candra tiba di sebuah tikungan yang kerap disebut Panorama 1—atau lazim disebut belokan adsens. Julukan itu diberikan lantaran banyaknya konten kreator yang berada di sana demi mengabadikan berbagai momen lalu lintas di lokasi tersebut.

Beberapa orang sudah berada di pondok yang berada tepat di pinggir belokan tajam dengan tanjakan ekstrem tersebut. Menggunakan ponsel dan tripod, mereka terhubung ke media sosial dan menggelar siaran langsung.

Candra memilih untuk menyiarkan keadaan Sitinjau Lauik di bagian bawah jalan.

Ia mulai membuka sebuah tas berisi tripod serta mengecek jaringan internet. Setelah memastikan jaringan internet memadai, ia mulai membuka akun TikTok yang bernama Monitor Sitinjau Lauik.

Sejumlah warganet kemudian bergabung dengan siaran langsung Candra. Ia menyapa setiap pengguna akun yang bergabung dan menyampaikan laporan soal keadaan di Sitinjau Lauik.

“Jadi beginilah keadaan di Sitinjau Lauik saat ini. Walaupun terpantau lancar, tapi tetap harus hati-hati saat melewati jalur ini ya teman-teman,” katanya.

Para warganet yang sudah bergabung dengan siaran langsung itu berkomentar dan menanyakan tentang keadaan jalan sepanjang kurang lebih 15 kilometer tersebut.

Sembari menjawab pertanyaan warganet, Candra merekam keadaan tikungan tersebut menggunakan ponsel lainnya untuk diunggah di akun YouTube miliknya.

Suara knalpot truk dan deru bus bersahutan dengan suara Candra yang menjawab setiap komentar warganet. Candra tetap mengingatkan para pengendara yang melewati jalur tersebut untuk berhati-hati.

Beberapa orang lainnya melakukan hal serupa dengan Candra. Mereka menginformasikan tentang keadaan di Sitinjau Lauik melalui akun TikTok yang mereka miliki.

Tak jarang warganet memberikan hadiah berupa logo mawar kepada Candra—yang bisa diuangkan olehnya. Ia langsung berterima kasih kepada pemberi hadiah tersebut.

Setelah beberapa jam berlalu, Candra memutuskan menutup siaran langsungnya dan mengemasi perlengkapannya.

Berapa pendapatan pembuat konten di Sitinjau Lauik?

Candra mengaku mendapatkan ratusan ribu rupiah setiap hari dari siaran langsung di Sitinjau Lauik.

“Kalau dari live itu sebenarnya tidak banyak. Karena tidak semua netizen yang masuk live kita itu memberikan give [hadiah]. Lagi pula target saya juga bukan untuk mendapatkan give saja,” katanya kepada wartawan Halbert Caniago yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Dia mengaku melakukan siaran langsung di lokasi tersebut karena ingin memberitahukan masyarakat tentang keadaan di Sitinjau Lauik.

“Kalau misalnya ada kemacetan, saya berharapnya yang masuk live saya bisa mengetahui dan menunda keberangkatannya agar tidak terjebak macet di sini,” katanya.

“Kalau dari live sebenarnya hanya bisa untuk membeli paket internet saja,” sambungnya.

Candra menganggap hadiah yang didapatkan dari siaran langsung di media sosial hanya sebagai bonus. Sebab dia bisa mendapatkan rupiah dari hal lainnya yang ia lakukan di tanjakan ekstrem tersebut.

“Kalau untuk dapat uangnya kebanyakan itu dari pengendara yang ingin kendaraannya diabadikan saat melewati jalur ini. Saya secara pribadi tidak pernah mematok harga,” tuturnya.

Candra menuturkan, biasanya ia diberikan uang mulai dari Rp50.000 hingga Rp100.000 oleh pengendara yang menghubunginya melalui pesan di akun TikToknya.

“Jadi nanti pengendara menghubungi saya melalui pesan pribadi. Kalau video kendaraannya terekam saat melewati jalur ini nanti akan dikirimkan dan mereka akan memberikan imbalan atau basa-basi,” paparnya.

Penghasilan lain yang didapatkan oleh para konten kreator di Sitinjau Lauik, menurut Candra, adalah dari adsens Youtube saat video yang mereka unggah mendapatkan banyak penonton di media sosial tersebut.

“Kalau saya dapat dari adsens belum terlalu besar. Tapi teman-teman lain yang sudah lama mungkin bisa mendapatkan lebih besar karena mereka sudah lama juga,” katanya.

Menurut Candra, penghasilan yang ia dapatkan dari menjadi konten kreator di tanjakan ekstrem itu bisa menghidupinya dan sesekali mengirimkan uang untuk keluarganya di kampung.

Apa peran pembuat konten jika terjadi insiden?

Candra membantah dirinya dan para konten kreator di Sitinjau Lauik hanya mau meraup rupiah dan menggunakan insiden kecelakaan demi keuntungan.

“Saat terjadi kecelakaan di jalur ini, yang kami pastikan aman terlebih dahulu adalah para pengemudi atau para penumpang di dalam kendaraan. Kalau memang diharuskan untuk memanggil ambulans, akan kami lakukan sesegera mungkin. Kalau ada kendaraan yang terjebak, kami bisa melaporkan langsung kepada pihak kepolisian setempat,” papar Candra.

Pun jika terjadi kemacetan, kata Candra, para pembuat konten di Sitinjau Lauik ikut membantu tim Pemandu Keselamatan Jalan Raya agar kemacetan bisa segera terurai.

“Yang pasti kami menyampaikan informasi melalui siaran langsung di media sosial kepada masyarakat mengenai situasi terkini di Sitinjau Lauik. Biasanya kami menyarankan pengguna jalan untuk menunda keberangkatan jika keadaan tidak memungkinkan,” tutur Candra.

Bagaimana tanggapan warga soal pembuat konten di Sitinjau Lauik?

Berkat para pembuat konten yang menyiarkan secara langsung keadaan di Sitinjau Lauik, sejumlah warga Sumatra Barat mengaku terbantu karena bisa mengetahui keadaan jalan sehingga tidak terjebak macet.

“Saya cukup sering melewati jalur Sitinjau Lauik dan biasanya saya melihat live di TikTok terlebih dahulu untuk memastikan apakah jalur yang dilewati macet atau tidak,” kata Afdal, salah seorang pengguna jalan jalur Padang-Solok.

Menurutnya, informasi yang didapat tidak sebatas soal kemacetan jalan.

“Bahkan kita juga bisa mendapatkan informasi apakah cuaca di Sitinjau Lauik itu sedang berkabut atau tidak,” katanya.

Karena terbantu, Afdal mengaku beberapa kali memberi hadiah kepada para pembuat konten.

“Kadang kalau sedang ada saldo saya mengirimkan give juga. Tapi kalau sedang tidak ada saldo ya cukup berterimakasih saja kepada teman-teman yang siaran langsung di Sitinjau Lauik,” tutupnya.

Jurnalis Halbert Caniago di Sumatra Barat melakukan liputan dan menuliskannya.

  • ‘Mama saya meninggal dalam keadaan salat’ – Akhir perjuangan anak mencari sang ibu yang hilang di tengah banjir bandang Sumbar
  • Perjuangan seorang ibu dan tiga anaknya lolos dari maut saat banjir melanda Palembayan, Sumbar
  • Lebih dari 165.000 korban banjir Sumatra masih bertahan di pengungsian, hunian sementara belum memadai

Leave a Comment