Sejarah serangan Israel ke Lebanon

Photo of author

By AdminTekno

Militer Israel telah mengumumkan niatnya untuk memperluas serangan darat dan udara secara signifikan terhadap kelompok milisi Hizbullah di Lebanon. Eskalasi ini segera memicu kekhawatiran meluas bahwa Israel mungkin sedang merencanakan invasi besar-besaran ke negara tetangganya tersebut.

Israel telah meningkatkan operasi militernya terhadap kelompok bersenjata sekaligus partai politik Hizbullah setelah organisasi tersebut melancarkan serangan roket ke wilayah Israel pada awal Maret lalu, menyusul serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran. Tindakan ini menandai fase baru dalam ketegangan yang terus memanas di kawasan tersebut.

Pada Minggu (22/03), serangan udara Israel dilaporkan merusak Jembatan Qasmiyeh, sebuah jalur vital yang menghubungkan wilayah Lebanon selatan dengan Lebanon tengah, tepatnya di dekat Kota Tyre.

“Pihak berwenang Israel mengklaim bahwa kelompok [Hizbullah] menggunakan jembatan-jembatan tersebut untuk mengirim bala bantuan ke selatan Lebanon,” jelas koresponden BBC di Timur Tengah, Hugo Bachega. “Namun, pada kenyataannya, ini adalah jembatan sipil, bagian dari infrastruktur penting milik negara yang sehari-hari digunakan oleh penduduk sipil.”

“Kekhawatiran yang mencengkeram Lebanon adalah bahwa tindakan ini bisa menjadi bagian dari strategi Israel untuk memutus Lebanon selatan dari bagian negara lainnya, sebagai persiapan menjelang potensi invasi darat skala besar,” tambah Hugo, menyoroti meningkatnya kecemasan publik.

Banyak warga Lebanon kini diliputi kekhawatiran bahwa Israel berusaha menciptakan zona penyangga di selatan negara itu, sebuah skenario yang mirip dengan yang terjadi pada tahun 1980-an dan 1990-an. Sejak operasi pengeboman Israel dimulai, lebih dari satu juta orang telah terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Ada kekhawatiran serius bahwa “banyak keluarga yang telah dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka tidak akan pernah bisa kembali”.

Eskalasi terbaru ini merupakan episode berulang dalam permusuhan puluhan tahun antara Israel dan Hizbullah. Ini pun bukan kali pertama Israel melakukan invasi ke Lebanon. Setidaknya pada enam kesempatan sebelumnya, Israel telah melancarkan operasi militer besar-besaran di wilayah negara tetangganya tersebut, mengukir sejarah panjang konflik bersenjata.

1978: Operasi Litani, Dikenal di Lebanon sebagai Invasi Israel Pertama

Pada 14 Maret 1978, Israel melancarkan operasi untuk mendorong anggota Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang berbasis di Lebanon agar menjauh dari perbatasan. Operasi ini ditempuh setelah PLO melancarkan serangan gerilya yang menewaskan sedikitnya 30 warga sipil di Israel utara. PLO sendiri telah sepenuhnya berbasis di Lebanon setelah diusir dari Yordania pada tahun 1970.

Pasukan Israel bergerak maju hingga Sungai Litani, namun menghadapi kesulitan dalam menghadapi pasukan PLO yang terus mundur. PLO kemudian menyatakan gencatan senjata dua minggu setelah operasi dimulai, dan Israel menarik pasukannya pada akhir tahun yang sama. Meskipun demikian, Israel terus mendukung milisi Kristen, Tentara Lebanon Selatan, untuk menguasai wilayah perbatasan.

Menjelang akhir Operasi Litani pada Juni 1978, lebih dari 1.100 warga Lebanon dan Palestina diyakini telah tewas. Sebagai respons terhadap konflik, pasukan penjaga perdamaian dari Pasukan Interim PBB di Libanon (Unifil) yang baru dibentuk, kemudian dikerahkan di sepanjang perbatasan de facto yang dikenal sebagai Garis Biru. Sejak 1978, lebih dari 300 tentara dari berbagai negara telah tewas dalam tugas, menjadikan misi ini sebagai salah satu misi penjaga perdamaian PBB paling berbahaya.

1982: Operasi Perdamaian untuk Galilea (Invasi Israel Kedua)

Operasi Litani tidak berhasil mengakhiri bentrokan antara PLO dan Israel di perbatasan. Setelah Duta Besar Israel ditembak dan terluka oleh organisasi Palestina di London pada 3 Juni 1982, pasukan Israel di bawah Menteri Pertahanan Ariel Sharon melancarkan operasi yang jauh lebih besar. Invasi kali ini melibatkan ribuan prajurit dan ratusan kendaraan tempur, menunjukkan peningkatan signifikan dalam skala serangan.

Serangan besar-besaran dimulai pada 6 Juni 1982, dan pasukan Israel berhasil mencapai pinggiran ibu kota Lebanon hanya dalam hitungan hari. Dari sana, mereka membombardir Beirut Barat yang mayoritas berpenduduk Muslim. Setelah pengepungan yang berlangsung lebih dari dua bulan, ribuan pejuang Palestina akhirnya dievakuasi melalui laut.

Selain itu, pasukan Israel juga terlibat pertempuran sengit dengan tentara Suriah di wilayah timur, menghancurkan puluhan pesawat mereka dalam salah satu pertempuran jet terbesar dalam sejarah militer. Pemerintah Lebanon memperkirakan bahwa pertempuran ini menewaskan sekitar 19.000 warga sipil dan personel bersenjata dari Lebanon, Palestina, dan Suriah, meskipun angka ini masih diperdebatkan. Israel, di sisi lain, melaporkan bahwa 376 tentaranya tewas antara Juni dan September 1982.

Namun, kekerasan belum berakhir. Setelah presiden terpilih Lebanon dari kelompok Kristen tewas akibat bom mobil pada 14 September 1982, pasukan Israel mengizinkan milisi Kristen memasuki kamp pengungsi Palestina Sabra dan Shatila. Di kedua lokasi tersebut, milisi melakukan pembantaian massal terhadap banyak warga sipil—perkiraan jumlah korban berkisar antara 700 hingga 3.500 orang.

Pasukan Israel mundur dari Lebanon tengah setahun berikutnya, kemudian menarik diri ke “zona keamanan” sekitar 19 kilometer dari perbatasan pada tahun 1985. Namun, mereka tidak sepenuhnya keluar dari Lebanon hingga 18 tahun kemudian. Sebagai respons atas kehadiran pasukan asing ini, Hizbullah kemudian dibentuk untuk melawan, dengan dukungan persenjataan dan pendanaan dari Iran.

1993: Operasi Akuntabilitas (Perang Tujuh Hari)

Puluhan target Hizbullah dibombardir selama seminggu penuh, dimulai pada 25 Juli 1993. Israel menyatakan serangan ini sebagai respons langsung terhadap serangan roket yang ditujukan ke posisi mereka di Lebanon dan Israel utara. Selain itu, Israel menegaskan bahwa operasi ini bertujuan untuk “menghentikan [Hizbullah] menjadikan Lebanon selatan sebagai basis teror”.

Sebaliknya, Hizbullah menyatakan bahwa roket mereka ditembakkan sebagai respons terhadap serangan helikopter Israel sebelumnya. Dalam operasi ini, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melepaskan ribuan tembakan artileri dan mengklaim telah menewaskan 50 kombatan Hizbullah. Namun, PBB memperkirakan 130 warga sipil tewas dan 300.000 lainnya terpaksa mengungsi akibat konflik tersebut. IDF melaporkan dua warga sipil Israel dan satu tentara tewas dalam insiden tersebut.

1996: Operasi Grapes of Wrath (Agresi April)

Operasi IDF berikutnya di Lebanon mengikuti pola serupa, namun berlangsung dua kali lebih lama dari Operasi Akuntabilitas. Gempuran dimulai pada bulan April setelah roket-roket ditembakkan ke Israel, dan sekali lagi Israel membalas dengan ribuan tembakan artileri. PBB melaporkan bahwa serangan ini menewaskan lebih dari 200 orang, sebagian besar di antaranya adalah warga sipil.

Tragedi yang menonjol adalah ketika lebih dari 100 orang tewas saat IDF menyerang posisi PBB di Qana, tempat para warga sipil mencari perlindungan. IDF menjelaskan taktik mereka adalah menyerang desa-desa Syiah di Lebanon selatan “dengan tujuan membuat warga bergerak ke utara menuju Beirut, sehingga menekan pemerintah Suriah dan Lebanon untuk mengambil tindakan nyata melawan Hizbullah.”

Sebagai balasannya, Hizbullah menembakkan ratusan roket ke Israel, yang melukai sekitar 55 warga sipil menurut laporan PBB. Konflik ini menyebabkan ratusan ribu warga Lebanon dan puluhan ribu warga Israel mengungsi. Akhirnya, gencatan senjata berhasil dicapai pada 27 April.

2006: Perang Lebanon Kedua

Menyusul penangkapan dua tentara Israel oleh Hizbullah pada 12 Juli 2006, pasukan Israel melancarkan serangan intensif terhadap Lebanon selatan dan Beirut melalui udara, darat, dan laut selama lebih dari sebulan. Serangan tersebut secara khusus menargetkan posisi-posisi Hizbullah serta infrastruktur sipil penting, termasuk bandara internasional Beirut.

Meskipun terjadi serangan besar-besaran, invasi darat tidak berhasil maju sejauh upaya-upaya sebelumnya. Akibatnya, Hizbullah menganggap perang ini sebagai kemenangan yang signifikan bagi mereka. Gencatan senjata yang ditengahi oleh PBB mulai berlaku pada 14 Agustus.

Berdasarkan resolusi PBB, hanya penjaga perdamaian Unifil dan tentara Lebanon yang diizinkan ditempatkan di selatan Sungai Litani, namun ketentuan ini tidak pernah sepenuhnya ditegakkan. Konflik 34 hari tersebut merenggut nyawa lebih dari 1.125 warga Lebanon, yang sebagian besar adalah warga sipil, serta 119 tentara Israel dan 45 warga sipil Israel.

2023: Serangan Lintas-Perbatasan

Hizbullah mulai menembakkan roket ke posisi-posisi Israel di wilayah perbatasan yang disengketakan untuk mendukung warga Palestina di Gaza, hanya sehari setelah serangan Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Pada 9 Oktober 2023, Hizbullah kemudian memperluas target serangannya ke Israel utara, menandai dimulainya babak baru konflik lintas-perbatasan.

Aksi saling balas serangan terus berlanjut hingga 17 September 2024, ketika pertikaian mencapai puncaknya setelah alat pager milik Hizbullah, yang disabotase oleh Israel, meledak. Sehari kemudian, walkie-talkie juga meledak, menewaskan 39 orang dan melukai ribuan lainnya, menyebabkan kepanikan meluas. Seminggu setelah insiden tragis itu, Operasi Northern Arrows dimulai, di mana Israel melancarkan gempuran udara intensif terhadap Hizbullah. Selanjutnya pada bulan Oktober, tentara Israel melakukan invasi darat dengan tujuan utama untuk memastikan kembalinya 60.000 warga Israel utara yang mengungsi akibat serangan roket berkelanjutan.

Duta besar Israel untuk PBB menyatakan pada September 2024 bahwa Hizbullah telah menembakkan lebih dari 8.000 roket ke Israel utara dan Dataran Tinggi Golan sejak serangan 7 Oktober 2023. Perang tersebut menewaskan 4.000 warga Lebanon dan 120 warga Israel, serta secara signifikan melemahkan kekuatan Hizbullah.

Puncak dari ketegangan ini adalah kematian Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah selama 32 tahun, dalam serangan udara pada September 2024. Di bawah gencatan senjata yang ditengahi oleh AS dan Prancis, Hizbullah setuju untuk menarik pasukan bersenjatanya ke selatan sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel. Israel juga menyetujui penarikan pasukannya dari area tersebut.

Namun, sejak gencatan senjata berlaku, kedua belah pihak saling menuduh melakukan pelanggaran. Israel menuduh Hizbullah berusaha memulihkan kemampuan militernya, termasuk di wilayah selatan. Sementara itu, IDF juga melakukan serangan hampir setiap hari terhadap target yang mereka klaim terkait Hizbullah, dan pasukan Israel tetap menempati sedikitnya lima posisi di Lebanon selatan, menjaga ketegangan di perbatasan tetap tinggi.

  • Israel sudah empat kali menginvasi Lebanon, apa bedanya dengan invasi kali ini?
  • Cerita WNI di Lebanon yang menempuh studi di tengah eskalasi konflik Hizbullah dan Israel
  • Siapa Hizbullah dan apakah mereka akan berperang dengan Israel?
  • Enam operasi kontroversial Mossad – Pengejaran anggota Nazi hingga penyelundupan Yahudi Etiopia
  • Cerita WNI di Lebanon: Ledakan pager, walkie-talkie dan ‘deklarasi perang’ – ‘lebih mengerikan dibanding serangan udara’
  • Pager meledak tewaskan 12 orang dan lukai ribuan lainnya, Hizbullah salahkan Israel – Bagaimana bisa meledak?
  • Bagaimana ledakan pager di Lebanon mengubah dinamika di Timur Tengah?
  • Siapa Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah yang tewas dalam serangan Israel di Beirut?
  • Apa yang perlu diketahui tentang serangan Israel terhadap ‘poros perlawanan’ Hizbullah, Houthi, dan Hamas yang disokong Iran
  • Siapa Hizbullah dan apakah mereka akan berperang dengan Israel?

Leave a Comment