
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan AS telah menggelar “pembicaraan yang produktif” dengan Iran mengenai “penyelesaian lengkap dan total” atas konflik di Timur Tengah. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya negosiasi antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran.
Kalaupun AS berniat mengadakan perundingan, sejumlah petinggi Iran telah meninggal dunia akibat serangan AS-Israel.
“Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan saya telah memberi wewenang kepada IDF untuk mengeliminasi pejabat senior Iran mana pun yang lingkaran intelijen dan operasinya telah ditutup, tanpa perlu persetujuan tambahan,” kata Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.
Baca juga: Apa isi 15 butir rencana damai yang digagas Trump, dan mengapa Iran menolaknya?
Lantas, siapa saja para pejabat Iran yang meninggal dunia dan yang masih hidup?
Siapa yang kini memimpin Iran?
Ayatollah Ali Khamenei – Pemimpin Tertinggi (wafat)
Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengejutkan banyak pihak, terutama karena terjadi pada 28 Februari, hari pertama serangan AS-Israel terhadap Iran.
Pria berusia 86 tahun itu memimpin selama lebih dari tiga dekade, setelah menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang mendirikan Republik Islam Iran pada 1979.
Khamenei sangat berkuasa. Mendiang adalah kepala negara sekaligus panglima tertinggi angkatan bersenjata, termasuk Korps Garda Revolusi.
Ia dapat memveto kebijakan publik apa pun dan memilih kandidat untuk jabatan publik.
Ia menempatkan dirinya di tengah jejaring kekuasaan yang saling bersaing, yaitu antara kaum reformis dan konservatif Iran.
Namun Khamenei jarang membiarkan perbedaan pendapat berkembang terlalu jauh atau kebijakan yang ia tidak setujui berjalan terlalu lama.
Mojtaba Khamenei – Pemimpin Tertinggi (hidup)
Mojtaba Khamenei belum terlihat di depan publik, difilmkan, atau difoto sejak ditunjuk sebagai penerus ayahnya pada 8 Maret 2026.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengatakan, tanpa memberikan bukti, bahwa pemimpin tertinggi baru itu “cedera dan kemungkinan cacat” dalam serangan 28 Februari di Teheran yang menewaskan orang tua dan saudaranya.
Baca juga:
- Pidato perdana, Pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei bersumpah tutup Selat Hormuz
- Siapa Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang baru?
- Iran perbolehkan kapal Malaysia, Thailand, dan lima negara lain melintasi Selat Hormuz, bagaimana dengan kapal Indonesia?
Dalam pidato pertamanya sebagai pemimpin tertinggi, yang dibacakan sebagai pernyataan di televisi pemerintah pada 12 Maret, Khamenei berjanji untuk menjaga Selat Hormuz tetap tertutup bagi pelayaran internasional — menghentikan pasokan 20% minyak dunia — serta menyatakan pemerintahnya “tidak akan luput dalam membalas darah” warga yang terbunuh dalam perang.
Pada 20 Maret, stasiun televisi pemerintah membaca pesan Mojtaba berikutnya untuk festival Tahun Baru Persia, Nowruz.
Hal ini sangat berbeda dari mendiang ayahnya yang biasanya menyampaikan pesan Tahun Baru Nowruz secara langsung di depan kamera.
Ali Larijani – Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional (wafat)
Ali Larijani, 68 tahun, adalah pejabat Iran paling senior yang dibunuh sejak Khamenei.
Dia dibunuh dalam serangan AS-Israel di wilayah Pardis, Teheran, pada 17 Maret 2026, bersama putra dan salah satu deputinya.
Mantan komandan Garda Revolusi itu naik daun sebagai kepala Penyiaran Republik Islam Iran selama satu dekade. Kemudian dia menjadi penasihat keamanan Khamenei pada 2004.
Baca juga:
- ‘Potong satu kepala, kepala baru akan tumbuh’ – Sejumlah pejabat tewas, pemerintah Iran tidak tumbang
- Iran gempur pangkalan militer AS sampai menimbulkan kerusakan senilai Rp13,5 triliun, menurut analisis terbaru
- Iran gunakan bom tandan yang tembus pertahanan Israel
Larijani menjadi ketua perunding nuklir Iran dengan Barat pada 2005–2007, tetapi dicopot setelah berselisih dengan Presiden Mahmoud Ahmadinejad.
Ia menjabat ketua parlemen Iran selama 12 tahun — periode terlama untuk jabatan tersebut dalam sejarah Iran.
Larijani juga mewakili Khamenei di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan diyakini sebagai penanggung jawab pemberantasan aksi protes yang melanda Iran pada Desember 2025 dan Januari 2026.
Aktivis HAM mengatakan setidaknya 6.508 demonstran tewas dan 53.000 lainnya ditangkap.
Ali Shamkhani – Sekretaris Dewan Pertahanan Iran (wafat)
Ali Shamkhani merupakan penasihat Khamenei serta tokoh kunci dalam kebijakan keamanan dan nuklir Iran. Dia tewas dalam serangan 28 Februari di Teheran.
Shamkhani selamat dari serangan di rumahnya selama Perang 12 Hari antara Israel dan Iran pada Juni 2025.
Pada Perang Iran–Irak 1980-an, ia merupakan salah satu komandan Garda Revolusi paling berpengaruh.
Selama empat dekade, ia memegang beberapa posisi penting—termasuk menteri IRGC, menteri pertahanan, komandan angkatan laut, dan sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, dia berperan besar menekan protes publik.
Mayor Jenderal Mohammad Pakpour – Panglima IRGC (wafat)
Mayjen Mohammad Pakpour wafat dalam serangan 28 Februari di Teheran, kata media pemerintah.
Dia merupakan komandan Pasukan Darat IRGC selama 16 tahun. Kemudian dipromosikan menjadi panglima setelah pendahulunya, Hossein Salami, tewas dalam Perang 12 Hari.
Masoud Pezeshkian – Presiden (hidup)
Masoud Pezeshkian terpilih sebagai presiden Iran pada 6 Juli 2024 setelah lolos proses verifikasi Dewan Wali yang beranggotakan 12 ulama dan ahli hukum.
Mantan ahli bedah jantung berusia 71 tahun dan anggota parlemen Iran itu kritis terhadap polisi moral Iran dan menghebohkan publik dengan janji “persatuan dan kohesi” serta akhir dari “isolasi” Iran dari dunia.
Pada 11 Maret 2026, Pezeshkian menegaskan di media sosial X mengenai komitmen Iran terhadap “perdamaian di kawasan”.
Lima hari kemudian, ia menyerukan dukungan internasional melawan AS dan Israel: “Kami berharap komunitas global mengecam invasi ini dan meyakinkan para penyerang untuk menghormati hukum internasional.”
Mohammad Bagher Ghalibaf – Ketua Parlemen Iran (hidup)
Sebagai Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf mungkin telah meninggalkan seragam Garda Revolusi. Namun, ia tetap vokal mendukung pemerintah Iran.
Seorang pilot terlatih, ia dikenal sangat ambisius dan telah empat kali mencalonkan diri sebagai presiden Iran.
Pria 64 tahun itu kini tampaknya memainkan peran penting memimpin upaya perang.
Baca juga:
- Apa isi 15 butir rencana damai yang digagas Trump, dan mengapa Iran menolaknya?
- AS-Israel vs Iran: Siapa yang lebih dulu kehabisan amunisi, dan apakah stok amunisi menentukan pemenang perang?
- Iran punya strategi khusus melawan AS-Israel
Setelah serangan terhadap infrastruktur energi Iran, ia menulis di X: “Balasan setimpal berlaku, dan tingkat konfrontasi baru telah dimulai.”
Pada Selasa, 24 Maret 2026, menanggapi laporan pembicaraan dengan AS, Ghalibaf menulis di X: “Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta melarikan diri dari rawa yang menjebak AS dan Israel.”
Ia menulis: “Rakyat Iran menuntut hukuman penuh dan menyesal dari para agresor. Semua pejabat Iran berdiri teguh di belakang pemimpin tertinggi mereka dan rakyat sampai tujuan ini tercapai.”
Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani – Komandan Basij (wafat)
Komandan Basij, Brigjen Gholamreza Soleimani, tewas dalam serangan AS-Israel pada 17 Maret 2026, menurut media pemerintah Iran.
Brigadir Jenderal Ahmad-Reza Radan – Kepala Kepolisian (hidup)
Kepala kepolisian Iran, Brigjen Ahmad Reza Radan, bertanggung jawab menegakkan aturan sosial dan menekan perbedaan pendapat.
Pada 2023, ia mengumumkan rencana Noor, yang menggunakan kamera pengawas dan teknologi pintar untuk mengidentifikasi dan menghukum perempuan yang melanggar aturan hijab, termasuk menyita mobil dan menutup usaha.
Belakangan, Radan mengambil sikap keras terhadap protes anti-pemerintah.
Pada awal perang memperingatkan bahwa siapa pun yang turun ke jalan “atas permintaan musuh” akan diperlakukan sebagai “musuh”.
Gholamhossein Mohseni Ejei – Ketua Mahkamah Agung Iran (hidup)
Pada Januari, Ketua Mahkamah Agung, Gholamhossein Mohseni Eje, memperingatkan tidak akan ada “kelonggaran” terhadap mereka yang dihukum atas tindakan kekerasan selama protes menjelang perang.
Brigadir Jenderal Eskandar Momeni – Menteri Dalam Negeri (hidup)
Menjabat sejak Agustus 2024, Brigjen Eskandar Momeni memiliki pengalaman di tubuh Korps Garda Revolusi dan Kepolisian Republik Islam Iran.
Brigadir Jenderal Gen Esmail Qaani – Komandan Pasukan Quds IRGC (hidup)
Dikenal media Iran sebagai “jenderal Levant”, Brigjen Esmail Qaani menjadi komandan Pasukan Quds IRGC pada 2020.
Pada 2012, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi karena ia bertanggung jawab atas bantuan finansial dan pengiriman senjata ke elemen Pasukan Quds di Timur Tengah dan Afrika, khususnya Gambia.
Esmail Khatib – Menteri Intelijen (wafat)
Esmail Khatib diangkat sebagai menteri pertahanan Iran oleh mendiang Presiden Ebrahim Raisi pada 2021.
Ia mempelajari yurisprudensi Islam di bawah sejumlah ulama senior, termasuk Ali Khamenei, dan memegang berbagai posisi tinggi di Kementerian Intelijen dan Kantor Pemimpin Tertinggi Iran.
Pada 18 Maret 2026, Pezeshkian menyebut “pembunuhan pengecut” Khatib dalam serangan udara Israel telah membuat Iran “amat berduka”.
Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi – Kepala Staf Angkatan Bersenjata (wafat)
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayjen Abdolrahim Mousavi, tewas dalam serangan 28 Februari di Teheran.
Dia menggantikan Mayjen Mohammad Bagheri, yang tewas dalam Perang 12 Hari.
Sadegh Larijani – Ketua Dewan Penentu Kebijakan (hidup)
Saudara Ali, Sadegh Larijani, memimpin Dewan Penentu, penengah terakhir antara parlemen dan lembaga pengawas konstitusi, Dewan Wali.
Abbas Araghchi – Menteri Luar Negeri (hidup)
Ada laporan mengenai percakapan antara Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi, dan Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff—tetapi percakapan ini disebut-sebut masih sangat awal.
Pada 15 Maret 2026, Araghchi mengatakan kepada CBS News bahwa Iran “tidak pernah meminta gencatan senjata” dalam perang melawan Israel dan AS.
“Ini adalah perang pilihan oleh Presiden Trump dan AS, dan kami akan terus mempertahankan diri,” katanya.
Brigadir Jenderal Aziz Nasirzadeh – Menteri Pertahanan (wafat)
Menteri pertahanan Brigjen Aziz Nasirzadeh juga tewas dalam serangan pada 28 Februari di Teheran.
Apa yang dicapai dengan menargetkan para petinggi Iran?
Rencana AS-Israel adalah untuk “membuat rezim Iran linglung dan bingung”, kata Jenderal Dan Caine, Kepala Staf Gabungan AS, beberapa hari setelah perang dimulai.
Pada awal perang, perubahan rezim merupakan tujuan yang dinyatakan para pemimpin AS dan Israel.
Dalam video di Truth Social, Presiden AS Donald Trump menyerukan rakyat Iran untuk “mengambil alih pemerintahan kalian”. Seruan ini digaungkan PM Israel Benjamin Netanyahu pada 19 Maret, saat ia menyerukan rakyat Iran untuk “bangkit pada momen ini”.
Namun di negara yang menempatkan pejabat yang tewas dalam serangan musuh sebagai martir—dalam konteks religius dan politis—kematian para pemimpin senior ini bukanlah akhir dari pemerintahan Iran.
Di stasiun televisi pemerintah, misalnya, penyiar yang menangis mengumumkan kematian Ali Khamenei dengan mengatakan ia “meminum anggur manis, murni, dari kesyahidan dan bergabung dengan kerajaan surgawi tertinggi”.
Lebih dari dua minggu kemudian, saat melaporkan kematian Ali Larijani, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi mengatakan:
“Ruh suci para martir menyambut ruh murni hamba saleh Tuhan, martir Dr Ali Larijani. Setelah seumur hidup berjuang demi kemajuan Iran dan Revolusi Islam, ia akhirnya mencapai cita-cita lamanya, menjawab panggilan Ilahi, dan dengan terhormat meraih anugerah manis kesyahidan di garis pengabdian.”
- ‘Bencana yang sangat mahal’ – Nasib negara-negara di Timur Tengah dan Afrika yang diintervensi oleh militer AS
- Pasukan suku Kurdi ‘sudah bersiap di perbatasan’ Iran – Kesaksian para prajurit perempuan Kurdi
- Mungkinkah rudal Iran mencapai Eropa?