Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Demokrat menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit terbaik Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon Selatan. Tragedi ini menjadi kehilangan besar bagi bangsa Indonesia dan menggarisbawahi risiko tinggi yang dihadapi para penjaga perdamaian di medan tugas.
Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengungkapkan rasa dukanya dengan pemahaman mendalam. Mengingat pengalamannya sebagai bagian dari Kontingen Garuda pertama di UNIFIL pada tahun 2006, AHY sangat memahami beratnya risiko serta mulianya kehormatan yang diemban dalam setiap misi perdamaian dunia. “Ini bukan sekadar kehilangan bagi TNI, melainkan kehilangan besar bagi seluruh bangsa Indonesia. Mereka gugur dalam tugas mulia menjaga perdamaian global,” tegas AHY dalam keterangannya pada Rabu (1/4).
Ketiga prajurit yang gugur tersebut adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya, dan Sertu Ikhwan. Mereka kehilangan nyawa dalam dua insiden terpisah yang terjadi pada tanggal 29 hingga 30 Maret, akibat ledakan dan serangan proyektil di tengah eskalasi situasi keamanan yang memanas di Lebanon Selatan. Peristiwa tragis ini menyoroti bahaya nyata yang terus mengintai personel penjaga perdamaian.
Menyikapi insiden ini, Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra, menegaskan bahwa para prajurit yang gugur adalah pahlawan kemanusiaan yang telah mengabdikan diri melampaui panggilan tugas. Ia juga menyampaikan sikap tegas partai. “Partai Demokrat mengutuk keras setiap serangan terhadap personel UNIFIL. Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan sama sekali tidak dapat ditoleransi dalam kondisi apa pun,” ujar Herzaky, menyerukan kepatuhan terhadap norma kemanusiaan global.
Lebih lanjut, Herzaky menjelaskan bahwa Partai Demokrat mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan UNIFIL untuk segera melakukan investigasi yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel. Tujuan investigasi ini adalah untuk mengungkap secara jelas sumber serta pelaku di balik serangan brutal tersebut. Di tengah situasi yang kian berisiko, Demokrat juga menekankan bahwa keselamatan prajurit harus menjadi prioritas utama, dengan penguatan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan penerapan langkah kontinjensi yang lebih adaptif di lapangan guna melindungi para penjaga perdamaian.
Dalam semangat kebersamaan, Herzaky menuturkan bahwa Partai Demokrat mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersama-sama mendoakan para prajurit yang telah gugur, semoga mereka diterima sebagai syuhada perdamaian. “Indonesia akan terus hadir sebagai bagian integral dari solusi perdamaian dunia. Namun, kita harus selalu ingat bahwa setiap prajurit adalah nyawa bangsa yang tak tergantikan dan harus dijaga keselamatan serta kehormatannya,” pungkasnya, menegaskan komitmen ganda Indonesia terhadap perdamaian dan perlindungan warganya.
Dukungan dan pemahaman terhadap misi perdamaian PBB juga mengalir dari sejarah panjang Partai Demokrat. Sejumlah kader partai ini diketahui memiliki pengalaman langsung dalam berbagai misi serupa. Bahkan, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengemban tugas sebagai Chief of Military Observer di Bosnia pada tahun 1995, sebuah bukti komitmen berkelanjutan partai terhadap perdamaian global.