Gus Ipang bicara Amsal Sitepu divonis bebas: Sistem harus dibenahi

Photo of author

By AdminTekno

Praktisi Industri Kreatif, Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang, turut mengomentari kasus Amsal Christy Sitepu, seorang videografer asal Kabupaten Karo yang sempat didakwa melakukan mark up anggaran pembuatan video profil 20 desa.

Saat ini, Amsal telah dinyatakan tidak bersalah dan divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Medan, pada hari Rabu (1/4).

Gus Ipang mengatakan ini bukan sekadar kasus satu orang, melainkan alarm buat negara. Kata dia, yang sedang dipertaruhkan bukan nasib Amsal Sitepu, tapi cara memperlakukan industri yang menyerap puluhan tenaga kerja, menyumbang sekitar 8 persen PDB, hidup dari bonus demografi, dan berdiri di atas kekayaan budaya yang justru menjadi identitas bangsa.

“BPS menyebut tenaga kerja ekonomi kreatif pada 2025 mencapai 27,40 juta orang atau 18,70% dari total tenaga kerja nasional. Bahkan pada 2024 pun sudah 26,48 juta orang. Ini bukan sektor pinggiran. Itu tulang punggung,” kata Gus Ipang dikutip dari akun Instagram pribadinya, Rabu (1/4).

Menurut dia, kejadian Amsal ini bukan melulu soal angka. Tetapi ini soal cara melihat kreativitas. “Kalau kita salah memperlakukan industri ini, yang kita tekan bukan sebatas harga, tapi masa depan industrinya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga mengatakan kasus Amsal bukan hanya soal hukum. Tetapi soal cara pemberi kerja menghargai kreativitas.

“Kalau semua dipaksa murah, kalau semua ide dianggap nol, kalau semua proses dipukul rata yang hilang, bukan cuma harga. Kasus Amsal Sitepu dari Karo, Sumatera Utara harusnya bisa bikin kita berhenti sejenak. Seorang pekerja kreatif dituntut 2 tahun penjara hanya karena selisih Rp 5,9 juta,” kata dia.

“Angka itu oleh jaksa dianggap tidak wajar untuk pekerjaan seperti ide kreatif, mixing, editing, dan dubbing. Artinya semua proses berpikir, semua effort, dan semua pengalaman yang dimiliki oleh Amsal, nilainya dianggap nol. Ini bukan lagi soal hukum, ini soal cara pemberi kerja menghargai kreativitas,” sambungnya.

Ia menilai kasus ini bukan sekadar tidak adil, tetapi mengkhawatirkan dan malah menyakitkan.

“Apakah ide itu punya nilai atau enggak? Atau cuma dianggap biaya yang harus ditekan? Buat saya yang hampir 40 tahun berkutat di industri ini, ini bukan sekadar tidak adil, ini mengkhawatirkan dan malah menyakitkan. Dan ini belum selesai. Karena di saat yang sama, pekerja kreatif juga sedang diserang dari arah lain, oleh artificial intelligence,” tuturnya.

“AI yang membuat semuanya terlihat cepat, mudah, dan murah. Skrip bisa langsung instan. Visual bisa otomatis jadi,” lanjutnya.

Menurut dia, karena ancaman industri kreatif itu nyata, perlu ada pembenahan sistem.

“Alhamdulillah Amsal sudah bebas. Pertanyaannya, apakah Industri Kreatif juga sudah bebas? Apakah bebasnya Amsal serta merta membuat ide kini punya nilai di mata banyak pemberi kerja? Karena ancaman Industri Kreatif itu nyata. Dari sistem yang mesti banyak dibenahi, sampai teknologi yang makin cepat,” ucapnya.

“Kalau kita salah melihat ini, yang hilang bukan cuma profesi. Tapi cara kita berpikir,” sambung Gus Ipang.

Leave a Comment