Pasukan Untermenschen di bawah panji Hitler

Photo of author

By AdminTekno

Pada tahun 1941, Adolf Hitler dan para petinggi Nazi menyerukan untuk mulai merangsek wilayah Uni Soviet. Operasi Barbarosa menjadi manifestasi serangan militer demi mewujudkan Drang nach Osten ‘bergerak menuju ke timur’ dan menginisiasi Lebensraum ‘ekspansi wilayah untuk tempat tinggal warga Jermanik’ dalam kerangka perang rasial yang genosidal (Lower, 2002). Nazi Jerman menganggap kekalahan Perancis, Cekoslovakia, dan Polandia, merupakan pertanda superioritas Bangsa Arya yang tidak tertandingi dalam melawan musuh-musuhnya (O’Connor & Gutmann, 2016).

Ambisi tinggi Sang Führer dalam merancang perang rasialnya yang sempurna kemudian mengalami hambatan; Jerman sekali lagi menemui situasi yang serupa pada perang dunia sebelumnya, menghadapi dua front sekaligus. Uni Soviet yang sebelumnya belum termobilisasi, melakukan serangan balik pasca konsolidasi dalam menghadapi Operasi Barbarossa; gerakan partisan yang dipersenjatai oleh Moskow tersebar di Eropa Timur, mengganggu operasional pendudukan Jerman (Ojong, 2004). Pendaratan Sekutu di Pantai Normandy dan jatuhnya pemerintahan Fasis Italia mulai melemahkan moral komando serta ancaman serangan dari berbagai front baru yang terbuka (Ojong, 2005).

Wehrmacht dan Waffen-SS yang berfungsi sebagai instrumen perang utama mengalami kerugian tinggi dalam berbagai sumber daya militer. Para petinggi Jerman menjumpai dilema antara kemutlakan ideologi atau kebutuhan pertempuran di lapangan. Sebuah proposal yang terdengar tidak mungkin diambil dalam membela panji Hitler untuk tetap berkibar, justru menjadi kenyataan: mempersenjatai dan membentuk divisi yang terdiri dari untermenschen (O’Connor & Gutmann, 2016).

Benturan antara Ideologi Rasial dan Pragmatisme Militer

Kedua sosok yang sangat memengaruhi ideologi Nazisme sebagai kerangka kebijakan Jerman adalah Hitler dan Himmler. Mereka sangat menjunjung tinggi superioritas darah Bangsa Jermanik, memanggilnya sebagai Arya, sebuah bangsa yang sepenuhnya murni. Menurut pandangan Hitler yang pseudo-saintifik, ia mengganggap bahwa kemurnian darah perlu dijaga dan masyarakat Jerman di manapun harus bergabung dengan negaranya. Nazisme ingin mempertahankan superioritas itu dari ancaman Yahudi, Bolshevisme, dan bangsa atau ras lain yang inferior, seperti: Slavia dan Asia. Untuk mewujudkan dominasi Arya, maka kebijakan-kebijakan yang bersifat genosidal, imperialistik, dan kolonialis diterapkan untuk menghapus “permasalahan” yang dimaksud (Lower, 2002).

Penerapan ini tidak hanya terjadi di dalam kehidupan sipil, tetapi juga di dalam badan militer Jerman. Selama perang berlangsung, Wehrmacht menjadi tulang punggung dalam berbagai ofensif dan tidak memiliki keinginan untuk merekrut prajurit dari bangsa lain. Sedangkan Waffen-SS merupakan satuan khusus militer di bawah Schutzstaffel – sebuah organisasi dipimpin oleh Himmler yang menjalankan hukum Nazi Jerman, keamanan internal, dan pembersihan etnis secara sistematis – dengan tujuan untuk menciptakan pasukan politik yang loyal, terdiri dari orang-orang Jermanik berbagai negara yang bergabung secara sukarela dengan persyaratan biologis yang ketat untuk memasukinya (O’Connor & Gutmann, 2016).

Setelah Jerman berhasil menaklukkan negara-negara tetangganya dan melancarkan Operasi Barbarossa pada tahun 1941, strategi Blitzkrieg atau Perang Kilat menggunakan kendaraan bermesin dan lapis baja, menembus jauh menduduki wilayah Baltik, Belarusia, dan Ukraina. Garis pertahanan Uni Soviet segera runtuh dengan cepat, Leningrad serta Stalingrad mulai terancam. Respon Moskow lambat dan berantakan, karena persiapan minim dan mereka tidak mengira Jerman akan menyerang secara mendadak pasca pakta non-agresi Molotov-Ribbentrop. Nazi Jerman dengan segera memberlakukan genosida sistematis dan perbudakan (Outline History of the U.S.S.R., 1960). Pembantaian yang dilakukan dalam skala masif tidak sepenuhnya dilaksanakan oleh orang Jerman, melainkan melalui kolaborasi dengan masyarakat setempat. Kelompok seperti Einsatzgruppen, Trawniki, dan Schuma bertugas untuk membantai Yahudi, menembak komisaris politik, menjaga kamp konsentrasi, dan operasi anti-partisan (Srivanto, 2008).

Menuju tahun 1942 hingga 1944, optimisme Nazi Jerman untuk memenangkan wilayah taklukan yang baru mulai memudar. Pasukan di Front Timur terhambat karena faktor lingkungan dan garis logistik yang semakin meregang, Uni Soviet mendapatkan momentumnya dan melancarkan serangan kembali melalui Operasi Uranus dan Bagration, menimbulkan korban tinggi di dalam militer Jerman. Sekutu mulai mendarat di pantai Italia dan Utara Prancis, menjebol pertahanan yang semakin menipis. Nazi Jerman kemudian memutuskan untuk melakukan hal yang sangat ironis (Ojong, 2004; 2005).

Untermenschen yang Terhormat

Banyak sekali kolaborator Nazi yang berasal dari kelompok untermensch ‘manusia rendahan’, para petinggi Jerman memandang mereka dengan ketidakpercayaan. “Siapapun selain orang Jerman tidak diperbolehkan mengangkat senjata,” merupakan peringatan absolut sebelum invasi ke Uni Soviet, tetapi ucapan tersebut kemudian menjadi pil pahit yang perlu ditelan, Wehrmacht dan Waffen-SS mulai kekurangan tenaga manusia setelah perang berkepanjangan. Mereka tidak dapat menyuplai kekosongan pasukan, kemudian beralih memilih untuk merekrut masyarakat untermensch yang hendak ditaklukkan, baik secara sukarela atau dipaksa (O’Connor & Gutmann, 2016).

Jerman berusaha meyakinkan mereka, terutama warga Uni Soviet, untuk bergabung dalam melawan Bolshevisme dan membebaskan Rusia dari rezim Stalin. Salah seorang jenderal yang bernama Andreyevich Vlasov, setelah tertawan, menerima untuk bekerjasama dengan memimpin Komite Pembebasan Rusia dan mencoba untuk membentuk Russkaya Osvoboditel’naya Armiya (ROA) atau Pasukan Pembebasan Rusia. Banyak cerita yang menuturkan alasannya memihak Jerman dengan versi yang berbeda-beda. Namun, satu hal yang pasti, komite ini berhasil secara propaganda, membuat banyak Tentara Merah melakukan desersi dan jumlah anggotanya mencapai satu juta orang. Akan tetapi, pasukan Vlasov tidak ditempatkan di front terdepan hingga Februari 1945 karena Hitler tidak percaya dengan Vlasov dan prasangka rasial terhadapnya (Srivanto, 2008).

Kekalahan yang terus dialami oleh Jerman bahkan membuat Waffen-SS yang terkenal dengan syarat rekrutmen yang ketat mulai mempertimbangkan dan melunakkan kebijakan mereka sendiri. Melalui kolaborator dari berbagai negara yang diduduki oleh Jerman, divisi-divisi mulai dibentuk di bawah komando Schutzstaffel, seperti berikut: Divisi Handschar; dua Divisi Pertama dan Kedua Latvia; Divisi Pertama Estonia; Divisi Pertama dan Kedua Rusia. Meskipun performa mereka bervariasi dan bukan orang Jermanik, tetapi pada tahun 1944, Himmler menganggap bahwa Divisi Ke-14 Galisia merupakan contoh persahabatan prajurit Jerman dan Ukraina di dalamnya (Rein, 2007).

Keputusan Nazi Jerman untuk merekrut divisi baru yang diisi oleh orang-orang non-Jermanik tidak membuahkan hasil yang begitu signifikan. Terdapat faktor yang menyebabkan demikian, yakni ketidakpercayaan para perwira Jerman. Para prajurit kolaborator diperlakukan dengan kasar dan dianggap bisa memberontak kapan saja, sehingga divisi-divisi ini tidak dipersenjatai dengan lengkap, menurunkan moral mereka, dan mengakibatkan desersi dalam skala besar. Sikap paranoia dan rasis militer Jerman tidak memberikan pengalaman tempur para pasukan baru yang memadai akibat penempatannya di garis belakang. Penerjunan menuju pertempuran dilakukan ketika Berlin mulai didesak oleh pengepungan pada tahun 1945 (Rein, 2007).

Padamnya Api Kedua

Serangan terhadap Berlin memuncak pada bulan Mei 1945. Hitler yang tidak menerima kekalahannya memutuskan bunuh diri. Para petinggi Nazi tertangkap, kemudian diadili atas kejahatan perang, beberapa memilih jalur yang sama seperti Sang Führer. Komando Wehrmacht telah kehilangan moral untuk terus bertempur dan memilih menyerah, meninggalkan banyak divisi terpotong dari pusatnya ketika sedang mempertahankan nasibnya masing-masing, termasuk tentara kolaborator yang direkrut dari untermenschen.

Banyak dari mereka berakhir menjadi tawanan perang, tetapi perlakuannya akan berbeda ketika menyerahkan diri kepada siapa. Pasukan ini lebih memilih ditangkap oleh Sekutu daripada Uni Soviet, terutama bagi mereka yang telah membelot dan lebih memilih untuk bergabung dengan Nazi Jerman, seperti yang telah dilakukan oleh Vlasov dan Pasukan Pembebasan Rusia, untuk kemudian diadili dan dijatuhi hukuman mati. Meskipun demikian, tidak semua individu mengalami awal serta akhir yang sama.

Perang Dunia Kedua menjadi bukti nyata bagaimana sebuah negara yang didesain secara militeristik dan supremasi ekstrem suatu bangsa, kemudian menjustifikasi dirinya untuk melakukan pembersihan etnis secara sistematis, dan ketika kekalahan itu telah terlihat di depan gerbang, ia mencoba membujuk bangsa lain untuk membantunya, di mana sebelumnya mereka dianggap rendah dan hendak “dibersihkan”. Akhir dari Nazisme penuh dengan ironi; meskipun telah dipadamkan, ideologi ekstrem tersebut masih bisa menghantui hingga kini. Apapun keyakinan, bangsa, dan afiliasinya; siapa saja dapat mengulangi kebrutalan tersebut.

Leave a Comment