
Sebuah kapal tanker yang disewa oleh Petronas untuk mengangkut minyak mentah dari Irak telah melintasi Selat Hormuz menuju Johor, Malaysia.
Kabar itu diumumkan Kedutaan Besar Iran di Kuala Lumpur melalui unggahan di X, pada Senin (06/04).
“Kami telah mengatakan bahwa Republik Islam Iran tidak melupakan teman-temannya. Kapal Malaysia pertama telah melintasi Selat Hormuz,” bunyi unggahan tersebut, yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Melayu.
Pelayaran kapal bernama Ocean Thunder itu terjadi sehari setelah Iran mengatakan Irak dikecualikan dari blokade di Selat Hormuz, demikian dilaporkan kantor berita Reuters yang mengutip data lembaga keuangan LSEG dan data maritim Kpler.
Ocean Thunder memuat sekitar satu juta barel minyak mentah Basrah Heavy pada 2 Maret dan diperkirakan akan membongkar muatannya di Pengerang, Johor, pada pertengahan April, menurut data Kpler.
Kapal tanker itu—yang menurut data disewa oleh unit Petronas, Petco—termasuk di antara tujuh kapal terkait Malaysia yang telah mendapat izin dari Iran untuk melintasi selat tersebut, kata dua narasumber kepada Reuters.
Ketujuh kapal tersebut terkait dengan perusahaan-perusahaan Malaysia, termasuk Petronas, Vantris Energy, dan MISC.
Buah diplomasi
Pada Maret lalu, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, atas izin yang diberikan kepada kapal tanker minyak Malaysia untuk melintasi Selat Hormuz.
Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke, mengaitkan hal itu dengan “hubungan diplomatik yang baik dengan pemerintah Iran”, sebut media Malaysia.
Filipina adalah negara terkini yang mencapai kesepakatan dengan Iran.
Pejabat Iran menjamin “pelintasan yang aman, tanpa hambatan, dan cepat” bagi kapal-kapal berbendera Filipina melalui jalur perairan tersebut, kata Menteri Luar Negeri Filipina, Theresa Lazaro.
Theresa mengatakan kesepakatan tersebut—yang dicapai setelah “percakapan telepon yang sangat produktif” dengan Teheran pada Kamis (02/04)—sangat penting untuk membantu memastikan pasokan energi dan pupuk.
Filipina mengimpor 98% minyaknya dari Timur Tengah dan merupakan negara pertama yang menetapkan keadaan darurat energi nasional setelah harga bensin di negara itu mencapai lebih dari dua kali lipat sejak AS dan Israel menyerang Iran, akhir Februari lalu.
Baca juga:
- Iran perbolehkan kapal Malaysia, Thailand, dan lima negara lain melintasi Selat Hormuz, bagaimana dengan kapal Indonesia?
- Israel mengaku bertanggung jawab atas tewasnya kepala intelijen Korps Garda Revolusi Iran – Siapa Majid Khademi?
- Apa yang terjadi pada krisis minyak tahun 1970‑an, dan apakah kita sedang menuju situasi yang lebih buruk?
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup.
Namun, menurutnya, kapal-kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggap sebagai musuh atau pihak yang terlibat dalam konflik saat ini tidak akan diizinkan melintas.
Ia mengatakan bahwa kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Teluk yang berperan dalam krisis yang berlangsung tidak akan diberi izin transit.
“Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal milik musuh dan sekutu mereka melintas. Namun selat tetap terbuka bagi pihak lainnya,” ujarnya pada 25 Maret lalu.

Filipina, yang kerap dipandang sebagai sekutu AS, merupakan kasus menarik yang dapat menunjukkan bahwa Iran “bersedia melakukan pemisahan”, kata Roger Fouquet dari Energy Studies Institute, National University of Singapore.
“Iran tampaknya membedakan antara aliansi sebuah negara dan partisipasi aktifnya dalam konflik,” sambungnya.
Negara-negara lain juga telah melakukan pembicaraan dengan Iran.
Pakistan mengumumkan pada 28 Maret bahwa Iran telah menyetujui untuk mengizinkan 20 kapalnya melintasi Selat Hormuz.
“Ini adalah isyarat yang positif dan konstruktif dari Iran dan patut diapresiasi,” kata Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar.
“Dialog, diplomasi, dan langkah-langkah pembangunan kepercayaan seperti ini adalah satu-satunya jalan ke depan.”

Iran juga secara terbuka menyambut kapal-kapal berbendera India yang melintasi selat tersebut.
“Teman-teman India kami berada di tangan yang aman, tidak perlu khawatir,” tulis Kedutaan Besar Iran di India dalam sebuah unggahan di X pekan lalu.
Unggahan itu merupakan tanggapan atas unggahan lain oleh kantor-kantornya di Afrika Selatan yang menyatakan bahwa “hanya Iran dan Oman” yang akan memutuskan masa depan Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, mengatakan kepada Financial Times pada Maret bahwa pelintasan kapal-kapal tanker negaranya merupakan “buah diplomasi”.
Bagaimana dengan kapal Indonesia?
Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping (PIS) Vega Pita menyatakan pihaknya bersama Kementerian Luar Negeri Indonesia sudah mulai membahas teknis pembebasan dua kapal tanker Pertamina yang masih terjebak di Selat Hormuz.
Vega menyebut pemerintah mulai membahas teknis pembebasan kapal usai pemerintah Iran memberi respons positif atas upaya negosiasi Indonesia.
“PIS bersama Kemlu tengah membahas teknis agar kedua kapal, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman,” kata Vega Pita sebagaimana dikutip kantor berita Antara di Jakarta, Sabtu (28/03).
Lebih lanjut, Vega menyampaikan apresiasi atas dukungan Kemlu. Menurutnya, PIS berkoordinasi secara intensif dengan Kemlu selama dua kapal tersebut terjebak akibat perang AS-Israel di Iran.
“Hingga saat ini, upaya diplomasi tersebut terus berjalan,” kata Vega Pita dikutip Antara.
Yang masih belum diketahui
Belum jelas dalam kondisi apa sejumlah kapal berhasil melalui Selat Hormuz—dan apakah mereka membayar untuk melintasi selat tersebut.
Pada akhir pekan, sebuah kapal Jepang yang membawa gas alam cair melintasi Selat Hormuz, kata perusahaan pelayaran Mitsui OSK Lines kepada BBC.
“Keselamatan kapal dan seluruh awak telah dipastikan,” kata perusahaan tersebut, tanpa memberikan komentar apakah ada pembayaran dan bagaimana awak kapal memperoleh pelintasan yang aman.
Namun, ekonom energi Roc Shi dari University of Technology Sydney mencatat bahwa meskipun kesepakatan sejumlah negara dan pemerintah Iran menandai “terobosan diplomatik”, itu bukanlah penyelesaian masalah.
Masih belum diketahui seberapa lama jaminan-jaminan ini akan bertahan dan bagaimana operasi militer di kawasan tersebut akan memengaruhinya, katanya.
Apalagi, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika negara itu tidak membuka Selat Hormuz bagi semua kapal, pada Selasa (07/04) waktu Washington DC atau Rabu (08/04) pukul 07.00 WIB.
- Iran perbolehkan kapal Malaysia, Thailand, dan lima negara lain melintasi Selat Hormuz, bagaimana dengan kapal Indonesia?
- Apa yang terjadi pada krisis minyak tahun 1970‑an, dan apakah kita sedang menuju situasi yang lebih buruk?
- Operasi penyelamatan awak pesawat F-15 yang jatuh di Iran – Dari puluhan pesawat tempur hingga anggota CIA