Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, kembali diwarnai dugaan aksi premanisme yang meresahkan. Kali ini, para sopir bajaj menjadi korban pemalakan oleh kelompok preman, sebuah praktik yang mencoreng ketertiban dan keamanan di jantung ibu kota.
Melalui video yang beredar luas di media sosial, terlihat dengan jelas seorang pria meminta uang setoran kepada para pengemudi bajaj. Menurut pengakuan salah satu korban, mereka dipaksa menyetor hingga Rp 100 ribu setiap harinya. Ancaman serius menanti jika menolak, mulai dari diteriaki “maling” hingga potensi mengalami kekerasan fisik.
Bukti nyata dampak penolakan itu pun terungkap dalam rekaman video tersebut. Tampak kondisi sebuah bajaj dengan kaca pecah dan pintu rusak, yang diduga kuat akibat aksi pemukulan karena sang sopir berani menolak untuk memberikan uang yang diminta.
Situasi genting ini segera mendapat perhatian serius dari pucuk pimpinan daerah. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dengan tegas menyatakan tidak akan mentoleransi praktik premanisme semacam ini. Ia pun langsung menginstruksikan Satpol PP dan Kepala Dinas terkait untuk mengambil tindakan tegas.
“Kemarin saya sudah melihat videonya dan saya sudah meminta kepada Satpol PP, kepada Kepala Dinas untuk mengambil tindakan tegas terhadap hal itu, tidak ada kompromi lagi,” ujar Pramono di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4), menunjukkan keseriusan penanganannya.
Lebih lanjut, Gubernur Pramono Anung menekankan bahwa praktik premanisme yang bersifat merugikan masyarakat tidak boleh dibiarkan berkembang apalagi berakar di ibu kota. Kompromi bukan lagi opsi, melainkan penegakan hukum yang tegas adalah kunci untuk memberantasnya.
Menutup pernyataannya, Gubernur Pramono menegaskan komitmennya. “Jadi premanisme di Jakarta, saya sebagai gubernur, saya tidak ragu-ragu untuk itu (menindak),” tegasnya, menandakan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan bertindak tanpa pandang bulu untuk menjaga keamanan dan ketertiban warganya.