
Untuk pertama kalinya dunia luar melihat bagian dalam Rancho Izaguirre melalui siaran langsung Facebook yang ditayangkan para orang tua dari pemuda-pemuda yang hilang di wilayah barat Meksiko.
Menindaklanjuti informasi tentang kemungkinan lokasi kuburan massal, sejumlah orang tua mendatangi peternakan itu dengan harapan menemukan anggota keluarga mereka yang hilang.
Yang mereka temukan adalah ratusan pasang sepatu, pakaian, koper dan ransel. Benda-benda itu ditinggalkan setelah pemiliknya diduga “dimusnahkan”.
Peternakan itu tampak sebagai lokasi perekrutan Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG), tempat pembunuhan dilakukan secara sistematis. Penemuannya pada Maret 2025 mengejutkan Meksiko dan menarik perhatian internasional.
“Seolah-olah itu adalah basis tenaga kerja murah bagi kartel,” kata Sandra Romandía, yang mewawancarai para penyintas untuk bukunya Witnesses to Horror: The Truth They Tried to Hide at Rancho Izaguirre.
“Hal pertama yang [kartel] lakukan adalah menawarkan semacam pekerjaan. Bisa sebagai insinyur komputer, petugas keamanan, sopir, buruh—selalu dengan janji upah yang baik. Ini dilakukan melalui WhatsApp, Facebook, dan jejaring sosial lainnya,” kata Romandía kepada BBC News Mundo.
“Para pemuda akan menjalani sejumlah tes melalui telepon atau pesan, dan ketika seseorang terpilih, mereka diberi tahu: ‘Kami akan mengirimkan tiket bus Anda ke terminal bus Tlaquepaque (Guadalajara),’ yang sangat penting—salah satu yang terbesar di [seluruh negara bagian] Jalisco. Mereka tiba di sana dan dijemput oleh Uber atau taksi untuk dibawa ke ‘kantor perusahaan’.
“Dan apa yang terjadi? Ketika Uber yang seharusnya itu tiba—yang sebenarnya hanya mobil pribadi—mereka diculik, diancam dengan senjata, ponsel mereka dirampas, dan mereka dibawa ke Rancho Izaguirre atau peternakan lain untuk dipaksa menjalani pelatihan.
“Siapa pun yang melawan dibunuh di tempat.”

Para penyintas menuturkan kondisi brutal di peternakan tersebut, termasuk dipaksa bertarung atau menyiksa satu sama lain, atau disiksa dengan semua orang menonton.
“Mereka harus membunuh orang lain, memutilasi orang lain, membakar tubuh lain, memakan daging manusia, hidup terbelenggu,” kata Romandía.
“Mereka harus mengikuti perintah: kapan ke kamar mandi, mengenakan celana, menanggalkan pakaian. Jika harus melakukan 50 push-up, mereka harus melakukannya—jika tidak, mereka tahu akan dipukuli atau bahkan dibunuh. Mereka menceritakan bagaimana, tiba-tiba, mereka sendiri menjadi sumber hiburan bagi para pemimpin kartel.”
Baca juga:
- Jasad manusia, ratusan sepatu dan surat perpisahan – Temuan memilukan di ‘kamp pemusnahan’ Meksiko
- Pengedar narkoba yang paling dicari Meksiko dan AS tewas – Siapa El Mencho, pemimpin CJNG yang setara dengan Kartel Sinaloa?
Kesaksian para pria dan perempuan yang mengatakan bahwa mereka berada di Rancho Izaguirre secara tegas menyatakan bahwa pembunuhan dan penghilangan jasad terjadi di sana. Korbannya adalah anak-anak muda yang ditipu untuk datang dengan tawaran pekerjaan formal.
“Hanya ada dua jalan keluar dari sini: entah mereka membunuhmu atau kamu bunuh diri,” kata salah satu narasumber dalam buku Romandía.
Narasumber lain menggambarkan situasi ekstrem yang merendahkan martabat—bagaimana mereka direkrut secara paksa, diculik, dan disiksa. Dia meyakini dari 100 orang di kelompoknya, hanya sekitar 30 orang yang selamat.
Dia memaparkan ketika ia melihat kelompok baru tiba dan dirinya memegang senjata.
“Saya bisa saja melakukan sesuatu untuk membela mereka, tetapi saya tidak melakukan apa pun karena saya tahu saya juga bisa dipukuli jika melakukan sesuatu untuk mereka,” sebut narasumber tersebut.
Romandía menambahkan: “Jadi dia bersikap seolah-olah hanya anggota lain dari kartel haus darah demi bertahan hidup. Tetapi sebenarnya dia berpikir: ‘Apa yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan orang-orang ini?'”

Raúl Servín, salah satu orang tua dalam kelompok bernama Guerreros Buscadores de Jalisco (GBJ)—atau Para Ksatria Pencari dari Jalisco—mengatakan kepada BBC Mundo ketika lokasi itu ditemukan, mereka mendapati selongsong, magazen peluru, kuburan tersembunyi, dan tanda-tanda penggunaan api.
Namun Kejaksaan Agung Meksiko (FGR), yang mengambil alih penyelidikan, secara tegas membantah adanya bukti “oven krematorium” atau pembuangan massal sisa-sisa manusia.
“Penyelidikan telah secara jelas dan meyakinkan menetapkan bahwa tempat tersebut digunakan sebagai lokasi pelatihan,” kata FGR pada 5 Maret tahun lalu.
Baca juga:
- Babi dan serangga ikut berjasa menemukan kuburan massal di Meksiko
- ‘Mereka menawarkan jamuan daging manusia’ – Peran sekte dalam kartel narkoba di Meksiko
Sejak itu, 47 orang yang terkait dengan peternakan tersebut telah ditangkap dan 10 terdakwa dijatuhi hukuman masing-masing 141 tahun penjara atas penghilangan dan pembunuhan tiga orang di peternakan itu.
Wali kota Teuchitlán, tempat peternakan tersebut berada, telah ditangkap dan dituduh sebagai kaki tangan kejahatan terorganisasi.

“Semuanya tampak seolah-olah pihak berwenang mencoba mengendalikan narasi tentang apa yang terjadi,” kata Romandía.
“Selalu ada janji dari FGR untuk memperjelas kasus ini, tetapi tanpa ingin mengonfirmasi atau mengatakan apakah benar ada oven krematorium atau tulang manusia yang terbakar—konon agar tidak menghambat penyelidikan.
“Masalahnya, mereka tidak pernah mempublikasikannya. Dan pada titik tertentu, Jaksa Alejandro Gertz Manero mengakui bahwa ada setidaknya satu jasad yang terbakar, padahal dalam gambar kami melihat banyak sekali potongan yang hangus yang sangat mungkin berasal dari manusia.
“Beberapa ahli [ilmiah] mengatakan bahwa pembakaran mungkin telah dilakukan di sana selama lebih dari 10 tahun.”
BBC Mundo meminta wawancara dengan Kejaksaan Agung tentang kasus ini, tetapi hingga artikel ini diterbitkan belum menerima tanggapan.

Lebih dari 130.000 orang telah dilaporkan hilang di Meksiko. Hampir semua penghilangan itu terjadi sejak 2007, ketika presiden saat itu Felipe Calderón menggencarkan “perang melawan narkoba”.
Dalam banyak kasus, mereka yang menghilang direkrut secara paksa ke dalam kartel narkoba—atau dibunuh karena melawan.
Romandía meyakini bahwa lebih banyak wilayah terpencil di Jalisco perlu diselidiki setelah kesaksian menyebutkan keberadaan kamp dan peternakan lain.
“Kaum muda terus menghilang,” kata Romandía. “Jadi menurut saya ini tidak mengubah apa pun.
“Ada stigma, yang sangat menyakitkan dan harus diakhiri di Meksiko, bahwa mereka yang menghilang melakukannya karena berutang sesuatu kepada para narco, karena terlibat geng atau perdagangan narkoba.
“Namun kita melihat semakin banyak kasus, dalam beberapa tahun terakhir, anak muda dan anak-anak, di bawah umur, serta orang yang lebih tua, yang direkrut secara paksa.
“Sebagian diambil karena pengetahuan mereka—jika mereka memahami teknik, konstruksi, kedokteran, dan sebagainya—yang lain diambil karena mereka bisa dipaksa menjadi pembunuh bayaran.”