
jpnn.com, JAKARTA – Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (17/4) menerima Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste bersama rombongan.
Sebelum perwakilan dari Jerman, Megawati juga menerima Dubes Qatar untuk Indonesia, Sultan bin Mubarak Al-Dosari dan Duta Besar (Dubes) Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah Al Amoudi.
Megawati dalam pertemuan dengan Ralf Beste didampingi Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Bidang Luar Negeri, Ahmad Basarah dan Direktur Eksekutif Megawati Institute Hilmar Farid.
Ralf dalam pertemuan mengaku baru saja berkunjung ke Bandung dan melihat Museum KAA.
Pramono Siapkan Strategi Fiskal di Tengah Isu Geopolitik dan Ancaman El Nino
Dubes Jerman merasa kagum dengan peran Proklamator RI Soekarno atau Bung Karno saat ini dalam menggerakkan kebangkitan negara di wilayah Asia dan Afrika.
“Saya berkeliling untuk lebih mengenal Indonesia. Saya baru saja ke Bandung dan mengunjungi Museum KAA,” kata Ralf dalam pertemuan, Jumat.
Mendengar Dubes Jerman menyinggung KAA, Megawati lantas menceritakan pengalamannya mendampingi Presiden Soekarno menjadi delegasi termuda dengan usia 14 tahun saat hadir di KTT Gerakan Non Blok di Beograd, Yugoslavia pada 1961.
Megawati mengenang momen duduk bersama tokoh bangsa antara lain Jawaharlal Nehru (India) dan Gamal Abdel Nasser (Mesir).
IKAL Lemhannas Dorong Penguatan Asta Cita, Peserta Munaslub Soroti Ketahanan Nasional Hingga Geopolitik
“Saat itu mereka saya panggil uncle (paman),” kata Megawati, lalu tersenyum.
Sementara Hasto setelah pertemuan menyebutkan Megawati bersama Ralf membahas isu geopolitik menyusul eksalasi konflik di Timur Tengah (Timteng).
“Ibu Megawati dan Dubes Ralf Beste membahas geopolitik termasuk situasi saat ini di Timur Tengah dan tentang Konferensi Asia Afrika (KAA Bandung) yang besok akan diperingati ke 71 tahun,” ungkapnya.
Megawati kepada Kader PDIP: Dilarang Korupsi, Turun ke Bawah
Sementara itu, Basarah menyebut Megawati dalam pertemuan memberikan sejumlah buku berjudul To Build The World A New serta Lahirnya Pancasila.
Menurutnya, Megawati dalam pertemuan dengan Ralf menyinggung pentingnya dilakukan antisipasi terjadinya krisis global.
Selain itu, Megawati juga menceritaan krisis ekonomi saat 1997 dan membereskannya saat menjadi presiden.
Setelah Jamu Perwakilan Penting Arab Saudi, Kini Megawati Menerima Dubes Qatar
“Ibu Megawati memaparkan bagaimana pemerintahannya saat itu berhasil menstabilkan nilai tukar Rupiah, membayar hutang luar negeri Indonesia dan berhasil menyelesaiakan krisis,” ujar Basarah.
Dia juga mengatakan Megawati dalam pertemuan menceritakan pengalaman yang tidak mudah menyelesaikan krisis multidimensi ketika menjadi Presiden Kelima RI dan mampu menyelesaikan berbagai persoalan di BPPN hingga melunasi pinjaman ke IMF.
“Mengapa itu disampaikan? Sebab, perang terhadap Iran dan dampak pemblokiran Selat Hormuz menjadikan dunia dihadapkan pada krisis yang harus diantisipasi,” ujar Basarah mengutip Megawati. (ast/jpnn)