
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto meminta percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dalam program 100 gigawatt (GW).
Hal itu disampaikannya usai melaksanakan pertemuan dengan Prabowo di Istana Negara, Selasa (21/4).
Brian menjelaskan, Presiden secara khusus menyoroti progres program tersebut, terutama dalam kaitannya dengan pengurangan penggunaan pembangkit berbasis diesel.
“Evaluasi terkait beberapa program, terutama tadi bersama Danantara kaitannya dengan program PLTS 100 giga,” ujar Brian kepada wartawan.
“Jadi Bapak Presiden menanyakan perkembangannya dan meminta agar itu dipercepat terutama untuk yang diesel,” lanjutnya.
Menurutnya, hasil rapat tersebut telah menetapkan target pengurangan kapasitas pembangkit diesel secara signifikan pada tahun ini.
“Jadi tadi dari hasil rapat yang sudah dilakukan antara Danantara, PLN dan juga para ahli-ahli di kementerian dan beberapa perguruan tinggi ditargetkan tahun ini 10 giga yang diesel itu bisa dikurangi. Kemudian yang lainnya juga akan ditambah kira kira sampai 7 giga,” ungkap Brian.
Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan pembangunan atau instalasi PLTS dapat mencapai sekitar 17 gigawatt dalam waktu dekat.
“Jadi untuk saat ini dari perhitungannya bersama-sama Kementerian ESDM, PLN Danantara, dan juga beberapa ahli perguruan tinggi itu kira-kira 17 giga bisa dilakukan instalasi PLTS gitu,” kata Brian.
Terkait lokasi pembangunan, Brian menyebut hal tersebut akan ditentukan oleh PLN sebagai implementator program.
“Lokasinya nanti, semuanya dari PLN ya sebagai Implementator program tersebut,” tutur dia.
Adapun pembangunan PLTS ini dilakukan agar Indonesia terlepas dari ketergantungan impor.
Proyek pembangunan PLTS 100 gigawatt (GW) sejatinya ditargetkan rampung dalam 3-4 tahun ke depan. Namun, Prabowo menilai perlu ada akselerasi sehingga dia mempercepat targetnya menjadi 2 tahun.