
Peringatan Hari Buruh Internasional, yang akrab disebut May Day, pada Jumat (1/5) di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, menjadi sorotan bukan hanya karena partisipasi dominan serikat pekerja pabrik. Di tengah riuhnya lautan massa, pemandangan unik terlihat dengan hadirnya barisan pengemudi ojek online (ojol) yang turut membaur ke pusat aksi, menyuarakan aspirasi demi perbaikan nasib mereka.
Kehadiran para pengemudi ojol ini bukanlah tanpa pengorbanan. Demi merapatkan barisan dalam perjuangan solidaritas, tak sedikit dari mereka yang rela mematikan aplikasi pencari penumpang, mengesampingkan potensi pemasukan harian. Keputusan untuk absen mengaspal ini diambil sebagai wujud nyata dukungan terhadap gerakan buruh dan demi menuntut perhatian atas kesejahteraan mereka.
Solidaritas ini ditegaskan oleh Ade (25), salah seorang pengemudi ojol yang setia berpanas-panasan di pelataran Monas. Saat ditanya mengenai keputusannya untuk tidak menarik penumpang hari itu, Ade menjawab dengan lugas dan penuh keyakinan, “Ini untuk kebersamaan kita semua.”
Ade melanjutkan, elemen ojol datang membawa keresahan dan tuntutan nyata dari jalanan yang membutuhkan respons serius dari para pemangku kebijakan. “Ada banyak tuntutan untuk kesejahteraan kita. Tuntutan untuk potongan driver ojek online 10 persen dan juga gaji minimum untuk para buruh,” bebernya, menyoroti isu-isu krusial yang mereka hadapi.
Semangat serupa juga digaungkan oleh Iyan (46), pengemudi ojol paruh baya yang merasa bahwa seluruh elemen pekerja, baik yang berada di sektor formal maupun informal seperti dirinya, kini menghadapi tantangan berat. Ia menekankan bahwa permasalahan ini membutuhkan campur tangan dan peran aktif negara. “Setidaknya pemerintah ikut andil dalam permasalahan buruh yang ada di Indonesia ini,” tegas Iyan, mewakili harapan kolektif para pekerja.
Mengetahui bahwa Presiden Prabowo Subianto turut hadir di tengah-tengah massa May Day, para “pahlawan aspal” ini pun menitipkan pesan dan harapan besar. Mereka berharap pemimpin negara dapat lebih memperhatikan kondisi rakyat kecil. “Harapannya sih, lebih melihat ke bawah ya,” ujar Iyan singkat, menyiratkan keinginan akan kepemimpinan yang merakyat.
Iyan melanjutkan, tuntutan mereka berpusat pada sikap tegas seorang pemimpin yang berpihak pada kesejahteraan rakyat kecil. “Buat Bapak Presiden harapannya besar, sebagai kepala negara itu harus mementingkan kita-kita inilah,” pungkasnya, menggarisbawahi urgensi perhatian pemerintah terhadap nasib para pekerja, khususnya pengemudi ojol.


